Connect with us

Headline

Waspada Kemarau, 5 Wilayah di Sulut Rawan Kebakaran

Published

on

KlikSULUT – Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Sulawesi Utara (Sulut) memprediksi lima wilayah di Sulut akan mengalami kemarau panjang dan waspada kebakaran lahan.

Kepala Observasi dan Informasi STMKG Sulut Chandra Klimat mengatakan, kelima wilayah itu adalah Bitung, Bolaang Mongondow (Bolmong), Minahasa Utara (Minut), Minahasa Selatan (Minsel), dan Sitaro.


“Di Bitung itu yang rawan kebakaran lahan di daerah Danowudu. Sementara di Bolmong berada di Kecamatan Bolaang Timur, Minsel di Kecamatan Suluun Tareran, dan Sitaro bagian Tagulandang,” ujar Chandra kepada KlikNews, Selasa (13/8/2019).


Lanjut Chandra, kelima wilayah itu diperkirakan kemaraunya cukup panjang, yaitu antara 31 hingga 61 hari tidak ada hujan sama sekali. Sementara wilayah lainnya, intensitas hujan sedang di bawah 50 milimeter (mm) diperkirakan masih ada. Meski demikian (ada curah hujan), STMKG tetap memasukkan dalam kategori musim kemarau.


“Perhitungan intensitas hujan di bawah 50 mm, itu sudah masuk kategori kemarau. Di atas 50 mm, masuk musim penghujan,” terang Chandra.


Dia menjelaskan, awal musim kemarau di Sulut sejak Mei 2019. Musim penghujan diperkirakan merata pada awal pekan kedua Oktober 2019. Khusus untuk Kota Manado dan sekitarnya, jika pada 21 Agustus ini tidak ada hujan. Maka Manado akan mengalami kemarau hingga 30 hari ke depan.


“Kemarau Manado masih dalam kategori menengah. Tapi harus tetap diwaspadai mengingat cuaca panas disertai angin kencang, dapat menimbulkan kebakaran meluas bila ada percikan api, pada oknum tak bertanggungjawab,” pungkas Chandra.


Pantauan di salah satu titik yang sudah lima kali terjadi kebakaran lahan gambut, yakni di Kelurahan Kima Atas, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, tepatnya di kawasan Perumahan Nasional (Perumnas) Tamara Residance.


Suci, warga setempat mengatakan, kebakaran lahan terjadi akibat ulah oknum tak bertanggungjawab, seperti membuang puntung rokok tanpa dimatikan.


Meski kebakarannya tidak terlalu luas, tapi ini cukup membahayakan mengingat saat ini selain cuaca panas disertai angin kencang, membuat ilalang mengering dan pastinya sangat mudah terbakar.


“Ibu kepala lingkungan setempat sudah menginformasikan melalui pengeras suara untuk tidak membakar sampah tanpa pengawasan, dan juga melarang warga membuang puntung rokok sembarangan,” jelas ibu rumah tangga ini.


Pantauan di beberapa sungai di sepanjang Jalan Adipura Raya hingga wilayah Pandu, airnya sudah sangat surut. Novita Tigau, warga Teling Atas berharap, instansi terkait atau tim Pemadam Kebakaran (Damkar) bisa mobile ke wilayah-wilayah rawan kebakaran dan rumah penduduk yang padat.


“Jangan sampai nanti terjadi kebakaran baru Damkar berangkat ke lokasi. Ada baiknya sebagian mobil Damkar mobile mengantisipasi jika ada kebakaran langsung cepat tanggap,” harap gadis berlesung pipi ini.


Seperti diketahui, kebakaran lahan akibat ulah oknum tak bertanggungjawab terjadi di beberapa wilayah di Sulut, seperti di Desa Maumbi, Kalawat, Minut. Si jago merah nyaris membakar lahan 2 hektar. Sementara di Bitung sedikitnya ditemukan 3 titik api membakar alang-alang pinggiran kota, seperti di Tanjung Merah, Pinagunian, dan Batu Putih.


(Mardi Golindra)

Headline

Siklon Tropis Surigae Meningkat 24 Jam ke Depan, Sulut Harus Tingkatkan Kesiapsiagaan

Published

on

Siklon Tropis Surigae

KlikJAKARTA – Siklon Tropis Surigae yang sedang terjadi di perairan Samudera Pasifik sebelah utara Papua Barat diperkirakan mengalami kenaikan intensitas dalam 24 jam ke depan dan terus bergerak mengarah ke barat laut.

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siklon Tropis Surigae cenderung bergerak menjauhi wilayah Indonesia, namun tetap berdampak tak langsung bagi sejumlah provinsi di Tanah Air.

Menurut prediksi BMKG hingga Sabtu (17/4) pukul 19.00 WIB, posisi siklon tropis tersebut masih akan berada di perairan Samudera Pasifik dan diperkirakan bergerak menuju sebelah utara Maluku Utara, atau pada 11.7 LU dan 129.7 BT, atau sekitar 1.040 kilometer sebelah utara timur laut Tahuna.

Siklon tropis ini diperkirakan akan bergerak dengan kecepatan 10 knot atau 19 kilometer per jam dengan kekuatan 95 knots atau 185 kilometer per jam dengan tekanan 935 hPa.

Akibat adanya pergerakan siklon tropis tersebut, BMKG memprediksi potensi hujan lebat disertai kilat/petir serta angin kencang di sembilan wilayah meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat sangat mungkin terjadi.

Kemudian, gelombang air laut setinggi 1.25-2.5 meter berpeluang terjadi di Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe, Perairan Kepulauan Sitaro, Perairan Bitung – Likupang, Laut Maluku, Perairan Selatan Sulawesi Utara, Laut Halmahera, dan Perairan Biak hingga Jayapura.

Selanjutnya, gelombang air laut dengan ketinggian rata-rata 2.5-4.0 meter berpeluang terjadi di Perairan Kepulauan Talaud dan Perairan utara Halmahera. Adapun gelombang air laut setinggi 4.0-6.0 meter berpeluang terjadi di Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua Barat.

Sehubungan perkembangan informasi mengenai Siklon Tropis Surigae tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kedeputian Bidang Pencegahan mengintruksikan pemangku kebijakan di Kabupaten/Kota di wilayah masing-masing agar dapat melaksanakan upaya penguatan kesiapsiagaan menghadapi beberapa dampak dari siklon tropis tersebut.

“Dalam hal ini, pemerintah di daerah diharapkan dapat melaksanakan amanah yang tertuang pada Surat Deputi Bidang Pencegahan BNPB nomor B27IBNPB/DIl/PK.03.02/04/2021 tanggal 13 April 2021 tentang Peringatan Dini dan Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bibit Siklon Tropis 94w yang berkembang menjadi Siklon Tropis Surigae,” ungkap Kapusdatinmas BNPB Raditya Jati, Sabtu (17/4/2021).

Selain itu, lanjut dia, pemangku kebijakan di daerah diminta melaksanakan apa yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Nomor 360/2067/BAK tanggal 16 April 2021 tentang Langkah Antisipatif Terhadap Potensi Bibit Siklon Tropis.

Adapun beberapa hal yang tercantum dalam SE tersebut meliputi koordinasi dan sinergitas Forkopimda, peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang dapat ditimbulkan, persiapan sarana dan prasarana, peningkatan kesiapsiagaan dan membangun rencana kontijensi dan pelaksanaan SOP penanganan darurat berbasis penerapan protokol kesehatan bersama Satgas Penanganan COVID-19.

“Kemudian penyebaran informasi melalui media dan kearifan lokal, pengalokasian APBD, pembinaan dan pengawasan serta monitoring wilayah dan pelaporan hasil pelaksanaan penanggulangan bencana dari bupati/wali kota kepada Kementerian Dalam Negeri,” pungkas Raditya.

(***)

Continue Reading

Headline

17 Persen Masyarakat Indonesia Masih Tak Percaya Covid-19

Published

on

Tak Percaya Covid
Doni Monardo. (Sumber Foto: Istimewa)

KlikJAKARTA – Sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia, hingga saat ini tidak percaya Covid-19 ada. Selain itu, mereka juga menganggapnya sebagai rekayasa dan konspirasi.

Hal itu diungkapkan Ketua Satgas Nasional Penanganan Covid-19 Doni Monardo, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 bersama jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu, di Bengkulu, pada Jumat (16/4/2021).

Makanya, Doni meminta seluruh pemerintah daerah, termasuk tokoh adat dan tokoh agama, untuk terus berupaya memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat. Khususnya, lanjut dia, berkaitan dengan larangan mudik Idul Fitri 1442 Hijriah. “Pemahaman tentang pandemi ini harus dikuasai oleh seluruh pihak,” tegasnya.

Dia menjelaskan, pandemi Covid-19 belum berakhir dan potensi penularan dari mobilitas manusia saat hari raya dan libur nasional sangat tinggi.

Dengan pelarangan mudik, kata Doni, Pemerintah tidak ingin adanya pertemuan silaturahmi justru menimbulkan penularan dan berakhir pada meningkatnya angka kematian.

(Sahril Kadir)

Continue Reading

Headline

Ada Bibit Siklon Tropis 94W, Sulawesi Utara Waspada Banjir Dua Hari ke Depan

Published

on

Bibit Siklon

KlikJAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memonitor adanya Bibit Siklon Tropis 94W yang mulai tumbuh di wilayah Samudera Pasifik sebelah utara Papua pada Senin (12/4/2021).

Sulawesi Utara menjadi satu dari sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak Bibit Siklon Tropis 94W. Wilayah lain yang berpotensi terdampak meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menekankan bahwa wilayah dengan level ‘waspada’ untuk potensi banjir bandang dua hari ke depan, berdasarkan prakiraan berbasis dampak adalah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

“Waspada Sulawesi Utara dan Maluku Utara,” katanya, dikutip dari rilis Pusdatinmas BNPB, pada 13/4/2021).

Lebih lanjut, dia juga mengatakan bahwa Gelombang Tinggi 1.25 sampai 2.5 meter berpeluang terjadi di  Laut Sulawesi bagian tengah dan timur, Perairan utara Kep. Sangihe hingga Kep. Talaud, Laut Maluku, Perairan utara dan timur Halmahera, Laut Halmahera, Samudera Pasifik utara Halmahera.

Kemudian Gelombang Tinggi 2.5 hingga 4.0 meter berpeluang terjadi di Perairan Raja Ampat – Sorong, Perairan Manokwari, Perairan Biak, Teluk Cendrawasih, Perairan Jayapura – Sarmi, Samudera Pasifik utara Papua Barat.

Berikutnya Gelombang Setinggi 4.0 hingga 6.0 meter berpeluang terjadi di Samudera Pasifik utara Papua.

Menyusul adanya informasi prakiraan cuaca tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem. “Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati,” kata Guswanto.

“Dalam hal ini, seluruh pemangku kebijakan di daerah bersama masyarakat juga diharapkan dapat mempersiapkan segala hal yang dianggap perlu untuk mengantisipasi adanya dampak terhadap bencana hidrometeorologi yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan dan pohon tumbang,” pungkasnya.

Sekadar informasi, melalui citra satelit Himawari-8, bibit siklon tropis terdeteksi di -5.8 LU-141.1 BT, dan menunjukkan adanya petumbuhan awan konvektif yang persisten dan cukup signifikan di sekitar sistem dalam enam jam terakhir.

Area dengan kecepatan angin maksimum (15-20 knot) terkonsentrasi di kuadran utara dan selatan dari pusat sistem.

Adapun tekanan minimum Bibit Siklon Tropis 94W mencapai 1007 hPa dan dengan kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai 20 knot atau 37 km/jam.

Keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W dalam 24 jam kedepan ini memberikan dampak tidak langsung berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam 24 jam kedepan yang dapat disertai kilat/petir serta angin kencang di beberapa wilayah di Tanah Air.

“Dalam 24 jam ke depan memberikan dampak tidak langsung berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” jelas Guswanto.

(***)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending