Wabah Stunting Menghantui Anak Indonesia, Mari Cegah Bersama!
Connect with us

Catatan Publik

Wabah Stunting Menghantui Anak Indonesia, Mari Cegah Bersama!

Published

on

HINGGA sekarang ini, stunting masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan ibu-ibu. Pasalnya, wabah stunting mulai mengancam anak-anak di Indonesia pada era 2018-2020 ini. Hasil riset terbaru WHO pada tahun 2018 menunjukkan, Indonesia, khususnya Bolaang Mongondow Timur atau yang biasa disingkat Boltim, menjadi salah satu wilayah dengan angka stunting terbesar di dunia.

Jadi, apakah yang dimaksud dengan stunting? Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh, dan telah dijadikan Focus Global Nutrition Targets untuk 2025, dan Sustainable Development Goals untuk 2030.

Stunting bisa dialami oleh anak-anak yang mendapatkan gizi buruk, terkena infeksi berulang, dan stimulasi psikososialnya tidak memadai. Anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Pertanyaannya, apakah semua anak dengan perawakan pendek dan bertubuh kurus bisa langsung dikatakan stunting? Jelas tidak. Tidak semua anak berperawakan lebih pendek mengalami stunting. Stunting merupakan keadaan tubuh yang sangat pendek dilihat dari standar baku pengukuran tinggi badan menurut usia berdasarkan standar WHO.

Menurut Kemenkes RI, balita pendek atau stunting bisa diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standard WHO. Hasil pengukuran anak stunting berada pada kisaran di bawah normal.

Ciri-ciri anak disebut stunting antara lain pertumbuhan melambat, wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, pertumbuhan gigi terlambat, performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya, pubertas terlambat, usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, dan tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya.

Setelah mempelajari berbagai hal mengenai stunting, tidak lengkap jika tidak mengulas tentang cara pencegahan atau penanganannya. Hal-hal yang dapat dilakukan bersama untuk menurunkan angka stunting di Indonesia adalah:

  1. Memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil. Tindakan ini relatif ampuh. Lembaga Kesehatan Millenium Challenge Account Indonesia menyarankan ibu yang sedang mengandung agar selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi maupun suplemen atas anjuran dokter. Selain itu, perempuan yang sedang menjalani proses kehamilan juga sebaiknya rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.
  2. Beri ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan. Veronika Scherbaum, ahli nutrisi Universitas Hohenheim, Jerman, menyatakan bahwa ASI ternyata berpotensi mengurangi peluang stunting pada anak, berkat kandungan gizi mikro dan makro. Oleh karena itu, ibu disarankan untuk tetap memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan kepada sang buah hati.
  3. Dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat. Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping atau MPASI. Dalam hal ini, pastikan makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal dari ASI. WHO juga merekomendasikan fortifikasi atau penambahan nutrisi ke dalam makanan. Di sisi lain, sebaiknya ibu berhati-hati saat akan menentukan produk tambahan tersebut. Konsultasikan dulu dengan dokter.
  4. Terus memantau tumbuh kembang anak. Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka, terutama dari tinggi dan berat badan anak. Bawa si kecil secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya.
  5. Selalu jaga kebersihan lingkungan. Diketahui, anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, terutama kalau lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor ini pula yang secara tak langsung meningkatkan peluang stunting. Studi yang dilakukan di Harvard Chan School menyebutkan, diare adalah faktor ketiga yang menyebabkan gangguan kesehatan tersebut. Sementara salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Demikianlah hal serta ilmu yang dapat disampaikan bagi pembaca sekalian, semoga informasi ini membantu para pembaca, khususnya ibu-ibu, untuk mencegah stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak, serta membantu Indonesia untuk menurunkan angka stunting menuju presentase yang sesuai standar WHO.

(*)

Penulis adalah Mahasiswa Semester 4 Prodi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Katolik De La Salle Manado

Advertisement

Trending