Tante Muna, Tukang Pijat Keliling yang Sukses Bangun 2 Sekolah di Pandu
Connect with us

Humaniora

Tante Muna, Tukang Pijat Keliling yang Sukses Bangun 2 Sekolah di Pandu

Published

on

Tante Muna

KlikMANADO – Meski hanya berprofesi sebagai tukang pijat keliling, Maimuna Manumpil (53) berhasil membangun dua sekolah di Kelurahan Pandu, Kecamatan Bunaken, Manado.

 

Jumat (8/12/2017) kemarin, KlikNews mengunjungi kediaman Tante Muna yang berukuran sekira 9X5 meter, di Kelurahan Pandu, Jalan Raya Pandu-Wori, Lingkungan 4, Kecamatan Bunaken.

Syukurlah meski harus menunggu selama lebih kurang 30 menit, KlikNews akhirnya bisa bertemu langsung dengan wanita paruhbaya yang kini tinggal bersama anak bungsunya dan dua cucunya.

Secara santun pun dia menjawab dan menceritakan secara singkat perjuangannya membangun sekolah. Berikut kisahnya.

Tukang pijat keliling sudah digelutinya sejak tahun 1992. Saat itu, kata dia, pekerjaan sebagai tukang pijat hanya mengisi waktu kosong, yaitu saat ada yang memerlukan bantuannya.

“Dulu sebelum berprofesi sebagai tukang pijat, saya adalah pedagang kue keliling. Dan di saat suami saya sakit, saya menggantikan pekerjaannya mengolah air nira menjadi gula aren,” ujarnya dengan tatapan kosong, seakan mengingat mendiang suaminya yang telah meninggal beberapa bulan lalu.

Profesi tukang pijat pun akhirnya diseriusi, setelah dokter memvonis bahwa sakit yang diderita suaminya tak bisa disembuhkan. “Saya belajar dari salah seorang nenek tua, di Kota Gorontalo kala itu,” ungkapnya.

Niat jadi tukang pijat itu ternyata membawa hasil yang bagus. Dia mulai dikenal banyak orang. Dia pun mendapatkan bayaran atas tenaganya secara sukarela. Apalagi, hasil pijatannya banyak disukai pelanggannya. Hasilnya dia kumpulkan sedikit demi sedikit.

Hasil tabungannya pun membawanya bisa melaksanakan ibadah haji pada tahun 2012. “Syukur alhamdulillah, akhirnya niat suci saya untuk berangkat ke tanah suci, guna menunaikan ibadah haji, akhirnya terpenuhi,” ucap Tante Muna, yang matanya terlihat berkaca-kaca.

Sekembalinya dari tanah suci, dia tetap melakukan kegiatannya sebagai tukang pijat. Pelanggan-pelanggannya bisa menghubungi lewat kontak handphone yang dimikinya. Dalam sehari dia bisa mendapatkan 4-5 pelanggan.

Pada Juli tahun 2013, ibu dua anak ini berhasil membangun sekolah Taman Kanak-kanak atau PAUD, yang diberi nama “Paud Annisa”. Awalnya, sekolah ini hanya menggunakan sebuah rumah kecil berukuran 6×7 meter, dengan jumlah murid 15 orang.

baca halaman selanjutnya…

Pages: 1 2

Advertisement

Trending