“Tuhan Maha Penyayang, Market Tidak”
Connect with us

Catatan Publik

“Tuhan Maha Penyayang, Market Tidak”

Published

on

Market
Penulis: Sahril Kadir

“Tuhan Maha Penyayang, Market Tidak”. Sepenggal kalimat yang diutarakan Dhany, nasabah pada salah satu perusahaan pialang cabang Manado, saat berdialog santai di rumah kopi miliknya, di bilangan Jalan Martadinata Manado beberapa waktu lalu, sempat membuatku kaget.

Bagaimana tidak, kalimat itu jadi kalimat pertama yang diucapkannya ketika mengetahui bahwa Saya ingin mendapatkan sedikit pengetahuan darinya tentang bisnis perdagangan berjangka komoditi.

Apalagi, dia langsung menyambung kalimat tersebut dengan membeberkan sejumlah pengalaman pahitnya saat awal terjun di bisnis ini, yaitu pada lima tahun lalu.

Namun setelah berdialog cukup lama, yakni kira-kira dua jam, Saya akhirnya memahami bahwa kalimat “Tuhan Maha Penyayang, Market Tidak” mengandung unsur edukasi yang cukup dalam. Meski memang, harus diakui, sepintas kalimat ini akan terdengar ekstrem, khususnya bagi mereka yang menjadi sales marketing perusahaan pialang.

Lantas apa pelajaran yang terkandung dalam kalimat tersebut?

Pertama, ini menjadi sebuah peringatan awal kepada calon nasabah agar memahami terlebih dahulu setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan berjangka komoditi sebelum berinvestasi. Mulai dari jenis-jenis transaksinya hingga legalitas perusahaan pialang. Dua hal ini sangat penting diketahui dan didalami, sehingga potensi berinvestasi pada perusahaan pialang bodong atau ilegal bisa diminimalisasi.

Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan investasi perdagangan berjangka komoditi juga menjadi sangat penting, khususnya saat pandemi Covid-19, karena situasi pandemi ini menjadi momen yang sangat berharga untuk berinvestasi. Makanya, saat ini banyak perusahaan investasi bermunculan.

Dengan kata lain, literasi perdagangan berjangka komoditi harus diikuti dan dijalankan secara rutin terlebih dahulu sebelum mengambil sikap berinvestasi pada bisnis ini.

Pelajaran kedua, seorang calon maupun nasabah pada perusahaan pialang harus mampu menekan emosinya sebaik mungkin saat bertransaksi. Sebab market tak memiliki hati. Keinginan mendapatkan keuntungan besar atas dasar emosi yang tak terkontrol bisa mengakibatkan datangnya kerugian yang sangat besar. Apalagi, perdagangan berjangka komoditi bersifat high risk high return.

Pengalaman nasabah perdagangan berjangka komoditi, khususnya yang buruk-buruk, harus benar-benar dijadikan bahan pelajaran dan telaahan penting. Letak kekeliruannya dimana, apa sebenarnya yang membuatnya merugi besar, dan lainnya. Dan dari banyaknya pengalaman tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa nasabah sering tak mampu mengelola emosinya dalam bertransaksi. Makanya, “Tuhan Maha Penyayang, Market Tidak” harus selalu diingat dan ditanamkan di hati dan pikiran saat terjun di bisnis ini.

(***)

Advertisement

Trending