Ini Dia, Peninggalan Kolonisasi Tompaso Baru dan Maesaan
Connect with us

Humaniora

Ini Dia, Peninggalan Kolonisasi Tompaso Baru dan Maesaan

Published

on

KlikMINAHASA – Tompaso Baru dan Maesaan dulunya merupakan bagian dari wilayah yang mendapatkan program kolonisasi. Peninggalan program tersebut hingga kini masih bisa terlihat jelas.

 

Laurentius Palendeng, guru SMK Negeri 1 Maesaan menuturkan, berdasarkan berbagai sumber, Lembah Wulur Maatus saat ini diapit oleh dua wilayah administrasi, yaitu Kecamatan Tompaso Baru dan Maesaan.

 

Pada tahun 1900-an, lanjut dia, tepatnya pada tahun 1924, lembah ini mulai dialokasikan sebagai wilayah kolonisasi yang kini identik dengan transmigrasi (perpindahan penduduk) oleh Pemerintah Keresidenan Manado pada zaman Belanda.

 

Saat itu, wilayah ini dipimpin langsung oleh Jan Tideman (1922-1926) melalui usulan Prof Dr GSS J Ratulangi selaku Sekretaris Minahasa Raad (1924-1927).

 

Adanya program kolonisasi di wilayah yang kini disebut-sebut rawan konflik ini ternyata memiliki cerita mengenai program kolonisasi. Hal ini ditandai dengan beberapa istilah Belanda di sejumlah tempat dan kampung.

 

Pertama, hambrouw yang merupakan singkatan dari hammerster dan brouwer untuk Desa Kinamang Kecamatan Maesaan.

 

Berikutnya adalah arham singkatan dari asistent residen hammerster untuk Desa Kinaweruan Kecamatan Maesaan dan Voorsitter diambil dari istilah voorsitter Minahasa Raad (pimpinan Dewan Minahasa).

 

Demikian pula pada bukit kecil di bagian barat Kecamatan Tompaso Baru dan Maesaan yang kini menjadi Desa Sion dan Lowian dan Desa Raraatean di bagian utara disebut  tideman plato (bukit tideman).

 

Sedangkan pohon beringin di pertigaan sion yang kini telah menjadi tugu monumental disebut tideman boom.

 

Selanjutnya, jalan di sebelah barat Puskesmas Tompaso Baru disebut louisastraat (jalan louisa), jalan di kompleks SMP Katolik Santo Paulus Tompaso Baru dari barat ke timur disebut hammersterstraat (jalan hammerster).

 

Jalan di samping utara RS Cantia dari barat ke timur disebut browerstrat (jalan brower), sedangkan jalan di sebelah selatan Gereja GMIM Imanuel Pinaesaan dari barat ke timur disebut kerkstraat (jalan geraja), dan lapangan yang kini dikenal dengan lapangan Sam Ratulagi disebut dengan hammersterplein (lapangan hammerster).

 

Kolonisasi resmi sebagai wilayah berdikari lepas dari distrik Motoling pada 2 November 1929 dengan hukum k’2, yang pertama Herman Jakop Wenas (1929-1932).

 

Palendeng menambahkan, kolonisasi berubah menjadi Tompaso Baru pada 3 Maret 1943, bertepatan dengan zaman pendudukan Jepang di Motoling, sebagai pusat pemerintahan pada waktu itu dengan hukum k’2 HC Mantiri (1943-1945).

 

(Di2)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending