Tommi dan Jerri Belum Bisa Saingi Senjakala di Manado
Connect with us

Headline

“Tommi dan Jerri” Belum Bisa Saingi “Senjakala di Manado”

Published

on

Tommi dan Jerri

KlikMANADO – Penayangan film lokal “Tommi dan Jerri” di bioskop awalnya dianggap bakal mengalahkan antusiasme warga untuk menyaksikan “Senjakala di Manado” yang dirilis pada 1 Desember 2016 lalu.

 

Bagaimana tidak, film yang mengambil lokasi syuting 90% di Sulawesi Utara ini disebut bergenre komedi dan mengikutsertakan pelawak Klemens Awi, Aurelie Moeremans, Joe Project P, Eddi Brokoli, dan Julian Kunto, selain Mongol Stres.

 

Awalnya, banyak pihak yang berpemahaman bahwa penggunaan dialek dan lokasi syuting Manado, ditambah lagi dengan komedi bakal membuat penonton menyerbu bioskop yang menayangkan “Tommi dan Jerri”. Apalagi, trailer film itu disebut-sebut sudah beredar di masyarakat sejak tahun lalu.

 

Namun kenyataannya, sebagaimana pantauan KlikNews, antusiasme warga jauh di bawah harapan. Bioskop-bioskop tampak ramai di hari pertama dan kedua Penayangan saja.

 

Bahkan beredar informasi bahwa penayangan film ini di bioskop di luar Sulawesi Utara tidak cukup lama atau hanya diputar tak lebih dari dua minggu saja. Sejumlah netizen sempat mengeluhkan singkatnya masa penayangan film itu di media sosial.

 

Berbeda dengan saat Penayangan “Senjakala di Manado” yang bahkan harus membuka hingga lima studio untuk menayangkan film drama keluarga itu.

 

Kurangnya penonton “Tommi dan Jerri” itu juga diakui Marketing XXI Mantos 3 Marwan. “Memang banyak yang nonton. Tapi “Senjakala di Manado” masih jauh lebih banyak,” katanya, Jumat (15/9/2017).

 

Namun, dia enggan membeberkan jumlah penonton film yang disutradarai Dony Mamahit itu.

 

Sebagaimana dikutip dari XXI Cineplex, film “Tommi dan Jerri” mengisahkan tentang dua orang teman yang tanpa sengaja bertukar tas gitar dengan kelompok mafia di atas bus kopaja.

 

Tak disangka, tas gitar milik mafia itu berisi uang ribuan dolar Amerika. Sehingga Tommi dan Jerri memutuskan untuk meninggalkan Jakarta menuju Manado. Di sana mereka berfoya-foya menikmati uang ratusan juta milik mafia.

 

Keberadaan Tommi dan Jerri akhirnya diketahui berkat selfie anak bos mafia, Nathasa pada papanya. Para mafia itu pun segera berangkat ke Manado. Dan disanalah terjadi kejar mengejar antara Tommi Jerry dan mafia.

 

Adapun film “Senjakala di Manado” mengisahkan tentang seorang pelaut yang telah meninggalkan keluarganya selama 20 tahun, yang berniat kembali ke Manado dengan harapan keluarganya mau memaafkannya.

 

Namun ternyata istrinya telah meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak bernama Pingkan. Dia pun berjanji akan merawat Pingkan, namun ternyata semua tidak berjalan dengan mudah.

 

Pingkan merasa terganggu tatkala Johny, pria itu, mulai mencampuri urusan asmaranya dengan Brando, kekasihnya, lantaran Johny merasa Brando bukan pria baik-baik. Dari situlah konflik antara ayah dan anak mulai terjadi.

 

(Tim)

Advertisement

Trending