Tiga Kata Sulit yang Jadi Kunci Kekecewaanku (Tamat)
Connect with us

Catatan Publik

Tiga Kata Sulit yang Jadi Kunci Kekecewaanku (Tamat)

Published

on

“De, kok seminggu ini jarang BBM?” Fadli mengagetkanku dengan pertanyaannya yang menyudutkan. Apa aku takut ketahuan karena sudah mengenal “Dia”? Entah, sepertinya tidak. Mana ada waktunya ia sibuk mengurusiku?

“Kakak kan pengen fokus di studi dan pekerjaan. De takut ganggu,” jawabku polos. Ingin rasanya aku berakhir saja melihat kesibukannya tapi, rasa itu masih kuat. Entah.
“Tapi kan nggak harus begitu, De,” Fadli menyela. Aku hanya ingin merasakannya bagaimana rasanya seminggu dicuekin. Aku kan punya “Dia” otomatis tak terlalu berkesan rasanya. Dia berbeda dengan Fadli yang selalu siap mendengar keluhanku. Jika harus memilih antara keduanya aku tak akan memilih. Aku akan menggugat langsung bahwa pertanyaanya saja yang salah bukan penjawabnya. Bodoh.
Wajahnya yang selalu setia mendengar keluhanku terbayang. Ah, aku merindukannya. Aku punya alasan kuat kenapa aku harus lebih mengenal “Dia”. Kau tahu? Hati kita secara anatomi punya dua bagian, itu artinya cinta buat seseorang tak cukup satu, tapi harus dua. Bukankah makin banyak ruang makin berpeluang besar juga ditempati yang lain? Ruang itulah untukku mengenal lebih dekat tentang “Dia”.
“Kakak saja bisa masa Dek nggak?Aku sudah punya dia. Hanya dia yang selalu bisa terima keluhanku. Kakak nggak bisa, kan?” Dari seberang tampak ia terdiam. Tak ada elakan. Aku tahu mungkin dia merasa bersalah tapi, aku masih mencintainya juga.
“Dek ini manusia, Kak! Punya masalah! Butuh berbagi! Butuh mengeluh! Hati ini sakit kalau nggak ada tempat mengeluh! Selama ini hanya dia yang bisa dengerin. Dia yang menghapus sedihnya De. Kakak di mana? Puas! Kita putus! Klikk” Aku tersenyum dan langsung menutup telepon. Ingin rasanya aku tertawa menang.
Di belahan waktu sana Fadli terdiam. Dia seperti tak mengenal sosok Dini yang dia kenal. Apa benar dia sekarang sudah ada yang lain? Apa salah kesibukannya sekarang untuk berfokus pada skripsi dan pekerjaannya? Apa pembicaraan tadi adalah pembicaraan mereka yang terakhir? Apa iya dia sudah memiliki kekasih yang lain?
Sementara itu Dini merasa menang. Dari Fadli ia belajar tentang cinta, namun bukan cinta sejati karena cinta sejatinya untuk saat ini adalah ketika ia semakin dekat dengan Dia. Dialah yang pintu rumahnya jarang diketuk. Dialah yang Maha Mendengar segala keluh kesah semua hamba-hambanya dan Dialah sebaik-baik tempat bergantung. Bukan manusia. Air matanya tumpah. Buku “Udah, Nikah Aja, Guys!” yang sedang dipeganya kini basah terkena air matanya. Ternyata mempraktekkan kata putus lebih sulit, tak semudah membaca kosakatanya. (Tamat)
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending