Ini Pandangan Idrus Marham tentang Tallu Cappa'
Connect with us

Headline

Ini Pandangan Idrus Marham tentang Tallu Cappa’

Published

on

Tallu Cappa'

KlikMANADO – Warga Bugis-Makassar memiliki sebuah falsafah kehidupan yang dipegang kuat, khususnya dalam menyelesaikan masalah. Tallu Cappa’ sebutannya.

Tallu Cappa’, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, berarti tiga ujung. Yaitu cappa’ lila (ujung lidah), cappa’ kawali (ujung badik), dan cappa’ bulu (kemaluan).

 

Dikutip dari Google Plus, Bupati Wajo H Andi Burhanuddin Unru saat silaturahmi dengan KKSS Batam menjelaskan bahwa Tallu Cappa’ merupakan prinsip kemerdekaan orang Bugis.

 

Cappa’ lila merupakan simbol diplomasi. Seorang Bugis-Makassar memiliki kepandaian mengatur lobi-lobi. Tutur katanya sopan dan santun serta konsisten dengan ketetapan yang telah diucapkan kepada orang awam, maupun pejabat, dan kepada sesamanya.

 

Dengan cappa’ lila, seorang perantau asal Bugis-Makassar dapat menyesuaikan diri dengan baik di negeri rantau. Makanya harus disertai dengan akal sehat dan hati yang bersih.

 

Sedangkan cappa’ kawali melambangkan ketegasan, keberanian, dan menjadi azimat untuk orang bugis dalam mencari nafkah. Badik tidak hanya sekadar benda semacam keris, melainkan memiliki filosofi sebagai alat untuk mempertahankan kehormatan saat dipermalukan.

 

Adapun cappa’ bulu merupakan simbol kemerdekaan Orang Bugis dalam berketurunan dan menjalin kekerabatan. Setiap anak muda yang belum menikah, yang akan merantau, pasti diberikan wejangan agar cappa’ bulu tidak sembarang disarungkan.

 

Dengan kata lain, cappa’ bulu sangat mempengaruhi kualitas kualitas keturunan di negeri orang maupun melebur dengan warga lain di negeri rantau.

 

Lantas bagaimana pandangan Plt Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham tentang hal ini? Dalam silaturahminya dengan sejumlah pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Sulawesi Utara di Four Point Hotel Manado, Rabu (29/11/2017), dia memberikan pandangannya.

 

Menurut dia, tallu cappa’ tidak hanya sekadar berbicara tentang tiga hal penting itu. Idrus menilai, falsafah hidup Orang Bugis-Makassar itu harus dimaknai sebagai keberanian.

 

“Pada intinya adalah keberanian untuk hidup dan berbuat baik di negeri orang. Keberanian untuk aktif melakukan perubahan ke arah baik,” tegas Dewan Pembina BPP KKSS itu.

 

Makanya, lanjut dia, hingga saat ini, Orang Bugis-Makassar selalu ditemukan memiliki peran vital di negeri orang. “KKSS di Sulawesi Utara juga harus begitu,” tandasnya.

 

(Sahril Kadir)

Advertisement

Trending