RDP Komisi I DPRD Sulut, SVR Pertanyakan Pengelolaan Limbah Balai Prasarana dan Pemukiman di Minahasa
Connect with us

Humaniora

RDP Komisi I DPRD Sulut, SVR Pertanyakan Pengelolaan Limbah Balai Prasarana dan Pemukiman di Minahasa

Published

on

KlikSULUT – Wakil Ketua I DPRD Sulawesi Utara (Sulut) Stevenus Vreeke Runtu atau biasa disapa SVR mempertanyakan pengelolaan limbah yang dikelola Balai Prasarana dan Pemukiman Provinsi Sulut di Minahasa.

“Saya ingin menanyakan bagaimana pengelolaannya, kedalamannya seperti apa. Karena di seputar itu banyak mata air yang saya khawatirkan mata air itu dilewati tinja. Jadi ini perlu diperjelas,” ujar SVR, saat Rapat Dengar pendapat (RDP), Senin (18/2/2018), di ruang rapat Komisi III DPRD Sulut.


Pertanyaan tersebut disampaikannya, setelah mengetahui bahwa mata air di Kulo terus mengalir. “Serta digunakan untuk air minum di Perumahan Sumalangka,” ketusnya.


Dia pun meminta pihak Balai Prasarana dan Pemukiman Sulut di Minahasa bisa menjelaskan pengelolaan limbah dan jaminan lingkungan hidup kepada masyarakat setempat.


“Kalau perlu saya mengusulkan pada pimpinan komisi untuk meninjau secara langsung, karena beda penjelasan di tempat ini dan di lapangan,” sambungnya.


Sementara itu, staf Balai Prasarana dan Pemukiman Provinsi Sulut Neklen, yang diberi wewenang Kepala Balai Rus’an Nur Taib untuk menjelaskan, mengatakan bahwa pembangunan dilakukan setelah ada redinas kriteria, yang merupakan salah satu persyaratan membangun.


“Ini harus ada kajian lingkungan. Kajian lingkungan itu adalah UKL-UPL. Dan UKL-UPL itu menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah. Dan untuk Pemkab Minahasa lewat Dinas Lingkungan Hidup telah menyediakan UKL-UPL. Karena itu kegiatan ini dilaksanakan. Memang secara teknologi, tidak canggih-canggih amat, tapi efektif,” lanjut dia.


“Untuk sistem pengurangan lumpurnya itu namanya kolam stabilisasi, jadi lumpur yang masuk ke situ distabilkan. Dengan kata kuncinya kita akan mengubah kotoran manusia yang dari sepithank, menjadi air dan menjadi tanah,” ungkapnya.


“Makanya ada bangunan yang namanya tanki imhof, kolam anerobik, fakultatif, dan manurasi. Itulah nama di teks bukunya, jadi lewat pengolahan di situ tinja tersebut diolah menjadi dua, yakni menjadi air dan menjadi tanah,” katanya.


“Nah, tanah itu nantinya akan dikeringkan saja, ataupun dibawa ke TPA bisa. Dan untuk airnya itu pasti akan dikontrol secara periodik oleh Dinas Lingkungan, tapi memang teknologinya namanya kolam stabilisasi anerobik,” pungkas Neklen.


(Rifa Datunugu)

Advertisement

Trending