Surat Untuk Ibu dan Bapak Guru

Surat Untuk Ibu dan Bapak Guru
Penulis: Reynold Patabuga, Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan UMY. Berasal dari Minahasa Selatan.

SAYA tak bisa menyangkal bahwa sampai hari ini sudah begitu banyak guru yang bersaham dalam kehidupan saya. Tidak hanya mereka yang pernah mengajari saya secara langsung di bangku sekolah sebelumnya. Tapi bahkan mereka yang hanya bisa saya temui di luar sekolah langsung ataupun tidak. Itulah sebabnya kenapa surat ini mesti saya tulis.

Bermula dari kegelisahan yang sudah mengendap sekian lama semenjak saya masih duduk di bangku sekolah. Bahwa ada hal yang kemudian luput daripada perhatian Ibu dan Bapak guru kami. Hal yang pasti kita setujui bersama, yakni ihwal asingnya aktivitas membaca di sekolah.

Sudah lazim bahwa di sekolah, kami kerap berhadapan dengan model belajar yang monoton. Di mana Ibu dan Bapak guru duduk anteng di depan kelas dan kemudian dalam beberapa menit seusai menjelaskan suatu hal, memberikan kami tugas mencatat. Mencatat, atau lebih tepatnya menyalin hampir seluruh isi buku panduan mata pelajaran ke buku catatan kami.

Entah apa penyebabnya, apa memang para guru kami tidak menyukai membaca? Tapi, tentu ia tak mungkin menjadi seorang guru tanpa melewati tahapan membaca. Sebelum menjadi guru ia mesti belajar. Sedangkan belajar ialah salah satu caranya tentu lewat membaca. Tapi, kenapa di sekolah membaca menjadi aktivitas yang langka?

Murid-murid bahkan menjadi asing dengan aktivitas membaca itu sendiri. Adapun membaca hanya sekadar menjadi aktivitas yang bersifat mekanik. Kami menyalin tanpa paham apa yang kami salin. Ujung-ujungnya kami akan menghafal sebagian dari apa yang kami salin untuk kembali disalin di kertas ujian.

Barangkali, pembaca pernah ada yang mempunyai pengalaman di sekolah, yang mana ketika kita hendak pergi ke perpustakaan, perpustakaannya tak dibuka. Di kunci rapat pintunya dan ketika menemui guru untuk meminta dibukakan, tak kunjung disetujui. Atau bahkan ruang perpustakaan itu sendiri disingkirkan; diubah menjadi ruang kelas baru.

Baca Juga :  Tahun Ini, Hukum Tua dan Lurah Dapat Motor Trail

Tampak bahwa memang ada masalah serius di sana dan guru-guru kami masih kadung menganggap enteng masalah ini. Betapa mirisnya, kehidupan sekolah yang asing dengan membaca. Meskipun perpustakaannya berisi buku yang berserakan di rak-raknya. Tak heran, bahwa setelah dua belas tahun berseragam sekolah nyaris kami tak tahu apa-apa mengenai bagaimana menulis yang baik.

Banyak dari kami yang hampir-hampir tak mengerti makna dari kata-kata yang kami tulis di buku catatan kami. Akibatnya, kegiatan belajar di sekolah menjadi sangat membosankan. Dan yang paling miris ialah terbentuk di benak kami bahwa membaca merupakan aktivitas yang paling membosankan. Syukur-syukur tak ada yang menganggapnya, tidak bermanfaat sama sekali.

Untuk itulah, saya sebagai salah satu dari sekian murid yang gelisah ini, ingin mengirimkan permohonan kepada Ibu dan Bapak guru kami. Bahwa dengan surat ini, kami memohon untuk mengakrabkan kami dengan buku. Mengakrabkan kami dengan perpustakaan. Memberi kami pengalaman yang baru dengan menyatukan aktivitas membaca dan belajar. Bukan membaca untuk menghafal, melainkan membaca untuk memahami.

(*)

Penulis berasal dari Desa Durian, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply