Sindikat Uang Palsu Antar Provinsi Beraksi, Kasus Terungkap Berawal Dari Hubungan Sejenis
Connect with us

Minut

Sindikat Uang Palsu Antar Provinsi Beraksi, Kasus Terungkap Berawal Dari Hubungan Sejenis

Published

on

Kapolres Minut AKBP Bambang Yudi Wibowo, SIK menunjukan barang bukti uang palsu yanh disita dari tersangka SM saat press conference di ruang Tribrtata

KlikMINUT – Polres Minut Minut melalui Tim Resmin berhasil mengungkap peredaran uang palsu(upal) antar provinsi. Uniknya kasus ini terungkap berawal dari hubungan sejenis antara tersangka SM alias Salmon(46) Warga Kota Bitung yang tinggal di Perumahan Viola Desa Matungkas Kecamatan Dimembe Minut. Hal ini seperti yang dibeberkan Kapolres Minut AKBP Bambang Yudi Wibowo, SIK dalam Press Conference Rabu, (27/10/2021) di ruang Tribrata Mapolres.

Kasus ini terungkap berdasarkan laporan petugas SPBU Kolongan Kecamatan Kalawat yang mencurigai uang pembayaran salah satu pembeli pertamax berinisial G, adalah upal.

“Setelah dilakukan pengembangan ternyata saksi G menerima uang tersebut dari SM alias Aalmon yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka,” terang Kabag SDM AKP May Diana Sitepu SIK mewakili Kapolres.

Dari tangan tersangka berhasil disita uang palsu sebanyak Rp.160 juta yang dibungkus kertas HVS yang dilengkapi dengan kartu identitas KPK(Koordinasi Pemberantasan Korupsi) sementara sebanyak Rp 37 juta telah berhasil digunakan sejak dirinya mengadakan perjalanan dari kota Solo-Surabaya-Makassar-Manado dan juga beredar di pasar 45 Kota Manado dan pasar Airmadidi.

Dijelaskan Sitepu, uang palsu ini diperoleh dari seseorang di pulau Jawa yang berawal dari bisnis barang antik yang dilakukan tersangka.

Menurut pengakuan tersangka, dirinya menjadi korban penipuan dan mengalami kerugian Rp 150 juta kemudian dirinya diberikan uang palsu tersebut.

Kesempatan yang sama Kasat Reskrim Minut AKP Fandy Ba’u mengatakan, setelah diadakan penyelidikan dan pemeriksaan, dilanjutkan dengan uji material yang langsung dilakukan oleh ahli dari Bank Indonesia dan kami mintakan keterangan ahli untuk memastikan bahwa uang tersebut memang palsu.

“Jadi tersangka memberikan uang palsu tersebut kepada saksi, tapi saksi tidak mengetahui bahwa uang tersebut uang palsu. Sebelumnya tersangka sempat  memberikan uang kepada saksi sebesar Rp.300 ribu kemudian disusul sebesar Rp. 2 juta,” jelas Kasat Reskrim.

Lebih jauh dikatakan, Kasat Reskrim , kasus ini akan terus dikembangkan sampai ke orang yang mencetak uang palsu tersebut.

“Kami akan bongkar sampai ke akar-akarnya,” tandas Fandy.

Dalam kasus ini tersangka dikenakan pasal 36 ayat 2 dan 3, undang-undang nomor 7 tahun 2011 dengan ancaman hukuman selama 15 tahun penjara. (Rubby Worek)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending