Upacara Agama Rumages dan Sejarahnya
Connect with us

Humaniora

Upacara Agama Rumages dan Sejarahnya

Published

on

Rumages

KlikMINAHASA – Dalam kisah legenda Toar dan Lumimuut, terungkap sebuah sejarah upacara adat agama “Rumages”. Upacara ini ternyata pertama dilakukan oleh Karema, yang merupakan manusia pertama di tanah Minahasa.

 

Setelah Lumimuut hadir, Karema sangat gembira dan tak bermuram lagi. Dia pun berjanji pada Tuhan, akan menjadikan Lumimuut sebagai anaknya sendiri, dan merawat serta menjaganya sampai tua nanti. Karena tercipta tanpa ayah dan ibu kandung, Lumimuut dianggap seorang dewi yang dititipkan di tanah Minahasa.

 

Setiap hari Karema dan Lumimuut selalu bersama, saling mengasihi dan mengelola tanah dimana mereka berdiam secara baik.

 

Sementara di belahan bumi lain telah terjadi penciptaan-penciptaan manusia lainnya, bertambah banyak, dan melahirkan banyak keturunan. Kehidupan di luar tanah Minahasa ini akhirnya terdengar di telinga Karema dan Lumimuut, sehingga mereka kembali bertanya-tanya.

 

“Kalau sekiranya hanya mereka berdua yang hidup di tanah Minahasa, tidak mempunyai keturunan sama sekali, lalu apa yang akan terjadi bila mereka berdua sudah tiada nanti? Tentu bumi Minahasa akan kembali kosong dan hancur berantakan,” tanya mereka dalam hati.

 

Karema akhirnya berdoa di pagi hari. Dia meminta belas kasihan Tuhan agar Lumimuut diberi karunia sehingga bisa hamil dan mempunyai banyak keturunan. Upacara penyembahan untuk meminta keturunan pun dilakukan Karema, dengan dirinya sendiri bertindak sebagai seorang Pendeta. Upacara agama ini dikenal dengan Rumages.

 

[irp posts=”3770″ name=”Kapal Layar Bersejarah Ocean Mipping Exhibition Berlabuh di Munte”]

 

Dalam upacara ini, Karema dan Lumimuut meminta pengasihan Empung agar Lumimuut diberikan berkah berupa kehamilan. Selanjutnya, Lumimuut diminta Karema menghadap Tenggara. Namun tidak ada hasilnya.

 

Karema pun meminta Lumimuut menghadap arah yang lain, yaitu Timur Laut. Tetap tidak terjadi apa-apa. Tanpa putus asa, Karema terus berdoa dan meminta Lumimuut mmenghadap Tuhan ke arah Barat Laut. Tetap tidak terjadi apa-apa.

 

Karema terus berdoa dan meminta, hingga keringat dan air mata membasahi wajahnya. Akhirnya, doanya dikabulkan. Sebuah suara dari langit terdengar.

 

“Aku akan memberkati anakmu, si Lumimuut itu, ia akan mengandung dan melahirkan. Keturunannya kelak banyaknya bagaikan pasir di laut dan bintang di langit,” bunyi suara tersebut.

 

Saat itu juga terlihat tanda-tanda kehamilan dalam diri Lumimuut, tanpa pernah bersetubuh dengan siapapun. Waktu terus berjalan, tibalah saatnya Lumimuut untuk melahirkan.

 

Seorang bayi laki-laki sangat tampan dan berbadan sehat lahir. Dia dibaringkan di atas jerami dengan dibungkus dedaunan lebar. Anak itu dinamai Toar.

 

Menurut praktisi budaya Rinto Taroreh, biasanya pada pelaksanaan foso ‘rumages um banua’, ada beberapa bentuk persembahan yang diberikan. “Biasanya, padi hasil panen perdana, dimasak di dalam bambu dan dikhususkan untuk Opo Wananatas. Sebagian lagi dimasak dan disediakan untuk persembahan sebagai wujud hormat bagi leluhur atau weteng,” kata Taroreh, dikutip dari seputarsulut.

 

Sedangkan untuk raragesan, persembahannya adalah binatang seperti ayam. “Itu harus ayam terbaik. Puncak ritual dibuat sebelum matahari terbit. Itu simbol bahwa kerja selanjutnya akan ada semangat baru. Pas pe buka pagi, mereka akan mengundang masyarakat lain dari luar wanua atau roong (desa) atau masyarakat yang kebetulan singgah di kampung mereka. Itu merupakan wujud kasih terhadap sesama,” ungkapnya.

[irp posts=”3674″ name=”Watu Pinawetengan, Identik Mistik Religius”]

 

(Tim)

Advertisement

Trending