Kisah Legenda Lumimuut, Manusia Kedua di Tanah Minahasa
Connect with us

Humaniora

Kisah Legenda Lumimuut, Manusia Kedua di Tanah Minahasa

Published

on

Lumimuut

KlikMINAHASA – Setiap warga Minahasa pasti mengetahui Toar Lumimuut, yang dalam legenda disebut sebagai manusia pertama di tanah Minahasa. Berikut kami sajikan kisah singkatnya, yang dirangkum dari berbagai sumber.

 

Sebelum Toar Lumimuut ada, tanah Minahasa sebenarnya sudah didiami penduduk yang diberi gelar dewa dan dewi. Namun karena banyak melakukan dosa, mereka dimusnahkan oleh Opo Empung (Tuhan).

 

Tuhan menurunkan banjir besar yang menutupi seluruh dataran Minahasa, dan membasmi semua yang bernafas, hingga tidak ada lagi yang tersisa. Setelah pemusnahan itu, tanah Minahasa kembali seperti sedia kala dan tak beraturan. Tak ada kehidupan manusia di tanah yang tersapu banjir.

 

Waktu berjalan, di pantai yang luas dan indah di sekitar Pegunungan Wulur Mahatus, Minahasa bagian Selatan, ada dua batu karang yang amat besar, terlihat seperti hidup karena selalu bertambah besar setiap tahunnya.

 

Saat siang, di tengah teriknya matahari, batu karang besar itu mengeluarkan bunyi yang menggelegar, hingga terdengar sampai ke berbagai pelosok tanah Minahasa yang masih kosong itu.

 

Batu karang itu lalu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Dari balik pecahan itu muncul sesosok wanita setengah baya yang cantik jelita, dan dikenal sebagai manusia pertama di tanah Minahasa.

 

[irp posts=”3945″ name=”Upacara Agama Rumages dan Sejarahnya”]

 

Dia disebut juga sebagai seorang dewi, karena tercipta oleh takdir Tuhan Maha Pencipta. Namanya Karema. Konon, penciptaan manusia pertama di tanah Minahasa dalah wanita agar dapat mengelola dan berkembang biak. Wanita adalah lambang kesuburan dan kehidupan.

 

Selama bertahun-tahun Karema hidup sendiri di tanah yang luas itu. Selain dia, hanya ada hewan dan tumbuh-tumbuhan, sehingga timbul rasa bosan dan sedih serta kesepian.

 

[irp posts=”3701″ name=”Mbah Mijan Minta WNI Hati-hati pada 9 Desember Nanti”]

 

Di masa itu, ular yang adalah salah satu hewan penunggu pegunungan Wulur Mahatus berkata kepada Karema dengan sikap kasar. “Empung tidak akan mungkin menolongmu,” kata sang ular.

 

Mendengar perkataan itu, Karema menatap tajam ular tersebut sembari berseru bahwa dirinya tetap percaya terhadap Wailan Wangko akan mendengar permintaan tolongnya.

 

Tiba-tiba sebuah suara dari langit terdengar dan berkata, “Kenapa engkau bersedih hati wahai wanita”. Dia pun keluar dari goa, sembari menengadahkan kepala ke atas dan berseru, “Ooh, Kasuruan Opo e Wailan Wangko…”. Dia meminta Tuhan Yang Maha Besar untuk diberikan teman hidup untuk di tanah Minahasa.

 

Tuhan mendengar doa yang dipanjatkan itu, dan mengabulkannya. Diiringi gema suara dari langit, tiba-tiba satu batu karang tersisa bergetar, dan mengeluarkan cairan layaknya keringat dan pecah berkeping-keping.

 

Dari balik pecahan itu muncul asap membumbung tinggi, yang dibaliknya muncul seorang perempuan muda berwajah cantik rupawan. Karema pun menatap gadis itu dengan gembira. “Kamu tercipta dari batu berkeringat, maka aku menamaimu Lumimuut,” ujar Karema. Lumimuut menjadi manusia kedua di Minahasa.

 

Bersambung

 

(Janni Kasenda)

Advertisement

Trending