Ron Harris Rekomendasikan Lihat Ulang Rambu Evakuasi Bencana
Connect with us

Headline

Ron Harris Rekomendasikan Lihat Ulang Rambu Evakuasi Bencana

Published

on

Penanggulangan Bencana
KlikMANADO – Peneliti dari Universitas Brigham Young University (BYU) Prof Ronald Albert Harris (Ron Haris) merekomendasikan agar pihak terkait bisa melihat kembali pemasangan rambu evakuasi bencana di Indonesia.
Salah satu rambu evakuasi yang patut dilihat kembali adalah yang terpasang di Kuta Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hal itu diungkapkannya saat diskusi membahas mitigasi bencana gempabumi dan tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jumat (4/8/2017), sebagaimana rilis yang diterima KlikNews dari Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI.
Menurut Ron, sejumlah rambu evakuasi tidak mengarahkan masyarakat ke tempat yang lebih tinggi. Arah evakuasi masih menunjukkan wilayah terkena genangan tsunami.
Dia melanjutkan, upaya mitigasi di Pulau Dewata juga membutuhkan pendekatan di beberapa sektor seperti budaya, mengingat sesuai peraturan daerah yang mengijinkan bangunan dengan tinggi maksimal 15 meter. Di sisi lain, berdasarkan pemodelan tsunami dari BYU bahwa dengan gempa bermagnitudo 9 di zona subduksi selatan Bali dapat memicu tsunami hingga lebih dari 20 meter.
Sementara itu, tambah dia, saat masyarakat diberi kuisioner tentang pendekatan apa yang diinginkan saat peringatan dini, sebagian besar masyarakat di Pelabuhan Ratu, Pacitan, dan Pangandaran memilih sirine.
“Namun yang terjadi, apakah semua sirine yang terpasang berfungsi secara baik? Di sisi lain, ketika warga mengetahui papan mengenai arah evakuasi, pertanyaan kritis yang muncul mengenap kapan mereka harus evakuasi,” ungkapnya.
Dia menambahkan, hasil penelitian tidak hanya sekadar dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Yang sangat penting adalah, hasil tersebut dikomunikasikan kepada publik.
Hasil penelitian Ron pun diapresiasi BNPB. Direktur Kesiapsiagaan BNPB Medi Herlianto pada diskusi yang juga memaparkan hasil penelitian BMKG mengenai paleotsunami. Saat ini, kata dia, Indonesia telah memiliki masterplan tsunami. Namun, hasil penelitian yang menghasilkan rekomendasi dapat memperbarui strategi-strategi dalam menghadapi ancaman yang lebih besar.
“Ini sangat penting untuk menyampaikan hasil penelitian kepada pemerintah sehingga nantinya akan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi berharga,” ungkap Medi.
Adapun Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho berpendapat, ada satu hal penting yang patut disikapi serius terkait kajian penelitian Ron terhadap trench java dan pulau-pulau kecil sekitar.
Dimana, tidak ada gempa bumi besar selama 111 tahun sesudah Krakatau. Selama ini, masyarakat Indonesia hidup dalam masa tanpa aktivitas gempa bumi dan tsunami, sedangkan populasi penduduk meningkat 10 kali lipat. (Ayi)
Advertisement

Trending