Refleksi Hari Bangkit PII di Tengah Pandemi

Refleksi Hari Bangkit PII di Tengah Pandemi
Penulis: Hikam Hulwanullah, S.H., (Departemen Hubungan Luar Negeri Pengurus Besar PII)

SECARA momentual, Mei adalah bulan yang membawa spirit besar bagi masyarakat Indonesia, salah satu di antaranya semangat perjuangan pendidikan yang diperingati pada tiap 2 Mei (Hari Pendidikan Nasional) untuk mengenang perjuang Ki Hajar Dewantara melawan diskriminasi pendidikan.

PII kemudian lahir pada 4 Mei 1947 dengan motivasi salah satu di antaranya membawa semangat yang serupa pada dimensi pergolakan masalah yang berbeda, dogmatisasi dan kulturisasi kelompok pelajar antara kaum santri dan priyayi menjadi dikotomi dunia pendidikan saat itu.

Perdebatan antara pelajar santri (pelajar muslim di pondok) yang berorientasi pada eskatologis dan pelajar muslim di sekolah umum warisan kolonial Belanda yang berorientasi pada sekularisasi.

Hal tersebut berdampak pada berbagai lini. Kegelisahan ini membawa sang visioner Joesdi Ghazali untuk beri’itikaf di Masjid Besar Kauman Jogjakarta, untuk berusaha mengurai benang kusut atas kekhawatiran tersebut, yang kemudian didiskusikan bersama rekannya (Anton Timur Djaelani, Ibrahim Zarkasy, Noersyaf, dan Amin Syahri).

Kesadaran seperti ini menjadi fenomena menantang di zaman sekarang, di mana pelajar yang terhegemoni oleh globalisasi dengan maraknya fitur kecanggihan menjadikan sejumlah di antaranya apatis akan banyak hal.

Problematika kepelajaraan sesungguhnya berevolusi sesuai zaman, masih banyak anak muda di luar sana yang belum mendapatkan haknya mengenyam pendidikan padahal negara telah berjanji pada konstitusinya Pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD NRI 1945 bahwa “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”, ketidakpastian praktik pendidikan dilapangan yang kadang hanya berorientasi pada perkembangan kognitif, kasus peredaran narkoba, kekerasan seksual, pernikahan usia dini, dan lain sebagainya masih menghiasi wajah pendidikan kita sampai hari ini.

Baca Juga :  Apakah Perlu Dikeluarkan Perppu jika Pembahasan RUU Otsus Papua Mengalami “Deadlock”?

Di tengah pandemi dunia, setiap Negara berperang dan berjuang melawan makhluk tak kasat mata itu demi melindungi dan menjaga tiap masyarakatnya sebagai konsekuensi dari konsep kesejahteraan. Berbagai upaya strategi lahir berdasar karakteristik fisik maupun demografi tiap-tiap negara tidak terkecuali Indonesia.

PSBB yang berlaku sesuai Permenkes No. 9 Tahun 2020 turunan dari Peraturan Pemerintah No 21 tahun 2020 yang berpayung dari aturan organik Undang-Undang No. 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan menyebabkan seluruh aktivitas belajar dan mengajar di sekolah ditiadakan dan beralih pada pembelajaran online jarak jauh, di beberapa kasus malah menjadi aktivitas menyelesaikan tugas menumpuk, di lain sisi jangankan menyelesaikan tugas atau dapat mengikuti pembelajaran online melalui media komunikasi/televisi ada pelajar yang harus rela meninggalkan hal itu demi membantu kelangsungan hidup keluarga untuk ikut membantu orang tua bekerja mengadu nasib di tengah wabah.

Musibah dunia ini mengharuskan manusia untuk beri’tikaf di rumah masing-masing, hal ini seharusnya menjadi kesempatan panjang untuk merenung memperbaiki diri dan merefleksikan banyak hal di tengah aktivitas yang terbatas.

Pada momen Hari Bangkit PII ke 73 ini, penulis mengajak setiap pelajar untuk terus semangat dalam belajar, mempersiapkan bekal di kemudian hari dalam segala keterbatasan, memupuk motivasi yang tinggi di masa depan, dan mengajak semua elemen untuk membangkitkan kesadaran sosioekonomi, semangat gotong royong saling membantu di tengah bencana bersama ini.

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami, Allah sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”

Wallahua’lam bishoab

(*)

Baca Juga :  Kebiasaan Cara Makan Pada Orang Lanjut Usia Dalam Kebudayaan

Penulis adalah lulusan terbaik program studi Hukum Tata Negara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan telah diterima menjadi Mahasiswa Program Master of Law Monash University Australia)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply