Menengok Raja-raja di Tanah Totabuan Pada Masa Lampau
Connect with us

Humaniora

Menengok Raja-raja di Tanah Totabuan Pada Masa Lampau

Published

on

Tanah Totabuan

KlikBOLMONG – Tanah totabuan dulunya dipimpin oleh raja-raja bergelar Punu’ sejak tahun 1400 hingga 1650, atau sebelum bangsa penjajah datang di wilayah tersebut.

 

Seperti ditulis Syamsul Mokoginta, ada enam Punu’ yang paling dikenal, yaitu Punu’ Mokodoludut (1400-1460), Punu’ Yayubangkai (1460-1480), Punu’ Damopolii (1480-1510), Punu’ Busisi (1510-1540), Punu’ Mokodompit (1560-1600), dan Punu’ Tadohe (1600-1650).

 

Adapun Punu’ Damopolii memiliki istri seorang Putri Minahasa bernama Ganting-ganting. Ganting-ganting adalah seorang putri dari keluarga Tiwow di Buyungon, dengan membayar Yoko’ atau Tali’ berupa tanah dari sungai Ranoyapo, Lewet hingga muara Sungai Poigar seluas 720 Km².

 

Pembayaran Yoko’ itu diketahui oleh Walak Minahasa yang tahu persis bahwa dengan Yoko’ tersebut, sang putri harus menuruti adat Bolaang Mongondow.

 

[irp posts=”3837″ name=”Pengabdi Setan Bikin Geger Malaysia”]

 

Pada era berikutnya, tepatnya di zaman Punu’ Mokodoludut, para Bogani di tanah Mongondow membuat kesempatan, yaitu bahwa Mokodoludut dan keturunannya harus menjadi raja. Selain itu, raja bergelar Punu’ atau Tuang dan anak-anaknya bergelar bangsawan. Disebut Abo’ untuk laki-laki, dan Boki’ atau Bua’ untuk perempuan.

 

Ketentuan ini berlaku dan dipatuhi oleh masyarakat Mongondow hingga terjadinya perubahan pada masa Punu’ keenam (Punu’ Tadohe) yang membagi masyarakat Bolaang Mongondow menjadi enam strata.

 

Setelah itu, tanah totabuan dipimpin oleh Raja Loloda Mokoagow atau Datu Binangkang (1653-1694). Raja ini dikenal agresif. Saking agresif, dia menyerang Pulau Manado Tua sehingga masyarakat di pulau itu melarikan diri ke Pulau Sanger.

 

[irp posts=”3133″ name=”Ini Dia Sejarah Cap Tikus yang Perlu Anda Tahu”]

 

Serangan Raja Datu Binangkang itu meninggalkan 52 orang yang sakit-sakitan dan berikutnya diangkut oleh Gubernur Belanda Padsburg dan ke Sindulang.

 

Sepeninggal Datu Binangkang, Bolaang Mongondow dipimpin oleh Raja Yakobus Manoppo, yang merupakan putra dari pasangan Loloda Mokoagow hasil dan putri Minahasa. Raja Yakobus memimpin pada tahun 1694 hingga 1695.

 

Raja selanjutnya adalah Fransiscus Manoppo yang memimpin pada selang waktu 1695-1731. Setelah itu, Bolaang Mongondow dipimpin Raja Salomon (1735-1748).

 

Dalam tulisan Syamsul Mokoginta disebutkan bahwa Raja Salomon melindungi orang-orang Minahasa yang mengungsi ke Bolaang Mongondow setelah adanya penindasan seorang Hukum Besar di Minahasa dan menetap di Bolaang dan Mariri.

 

Residen Manado pun meminta agar penduduk tersebut dipulangkan ke Minahasa. Namun permintaan itu ditolak oleh Raja Salomon. Selain itu disebutkan, Raja Salomon pernah bertengkar dengan Raja Kaidipang.

 

Pertengkaran tersebut ditengarai persoalan perbatasan, yang mengakibatkan raja tersebut dipenjarakan oleh Belanda di Ternate, selanjutnya dipindahkan ke Batavia, dan akhirnya dibuang ke Afrika Selatan selama kurang lebih 8 tahun.

 

Dipenjaranya Raja Salomon membuat kekosongan kepemimpinan, dan berdampak pada timbulnya kerusuhan bahkan pembunuhan oleh beberapa keluarga raja yang ingin menjadi raja.

 

Namun akhirnya, Salomon Manoppo dikembalikan ke Bolaang setelah adanya perlawanan dari Jogugu Yambat Simon Damopolii yang didukung rakyat.

 

[irp posts=”3405″ name=”Tonaas Walian adalah Aliran Kepercayaan?”]

 

Raja Salomon tiba di Bolaang pada 15 Maret 1756. Dia pun diangkat kembali menjadi raja pada 10 Agustus 1764. Setelah itu, Bolaang Mongondow dipimpin Raja Egenius Manoppo (1764-1770). Dia diganti setelah menjadi gila.

 

Selanjutnya, secara berturut-turut, warga Totabuan dipimpin Raja Christofel Manoppo (1767-1770), Raja Markus Manoppo (1770-1773), Raja Manuel manoppo pada 1779, Raja Cornelius Manoppo (1825-1829), dan Raja Ismail Cornelis Manoppo (1825-1829).

 

Berikutnya, ada Raja Yakobus Manuel Manoppo (1833-1858) yang masuk agama Islam, Raja Adreanus Cornelis Manoppo (1858-1862), dan Raja Yohanes Manuel Manoppo pada 1862. Setelah itu, tidak pengganti selama beberapa tahun hingga Abraham Sugeha diangkat sebagai raja pada 1886-1893.

 

Raja Ridel Manuel Manoppo (1893-1905), Raja Datu Cornelius Manoppo (1905-1928), Raja Laurens Cornelius Manoppo pada 1928, dan Raja Henny Yusuf Cornelius Manoppo pada 1947-1950.

 

(Sahril)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending