Puncak Kemarau Terjadi September Nanti
Connect with us

Headline

Puncak Kemarau Terjadi September Nanti

Published

on

Darurat kebakaran hutan dan lahan. (BNPB RI)

KlikMANADO – Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, puncak kemarau akan terjadi pada September nanti.

“Sehingga kebakaran hutan dan lahan berpotensi terus mengalami peningkatan. Tapi di sisi lain, patroli dan pencegahan makin diintensifkan,” ujarnya, Minggu (6/8/2017).
Dia menjelaskan, berdasarkan plotting lokasi, kebakaran hutan dan lahan terjadi pada lokasi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. “Ada juga hutan dan lahan yang baru tahun ini terbakar,” ungkapnya.
Saat ini saja, lanjut dia, berdasarkan pantauan satelit Aqua, Terra, SNNP pada catalog modis LAPAN pada Minggu (6/8/2017) pagi, terdeteksi Kalimantan Barat menjadi provinsi pengoleksi hotspot karhutla terbanyak, dengan 150 hotspot.
“109 hotspot kategori sedang (tingkat kepercayaan 30-79 persen) dan 41 hotspot kategori tinggi (tingkat kepercayaa tinggi lebih dari 80 persen). Jumlah hotspot ini jauh lebih banyak daripada daerah lainnya,” terangnya.
Dia pun merinci daerah yang terdapat hotspot karhutla. “Yaitu, 7 hotspot di Papua, NTT ada 12, Kalimantan Barat 150, Lampung 9, Jawa Timur 5, Jawa Tengah 6, Jawa Barat 5, Papua Barat 2, NTB 3, Babel 11, Kepri 4, Maluku 2, Sulteng 1, Gorontalo 1, Sumsel 23, Kalteng 1, Riau 16, Sumut 9, Jambi 2, Sumbar 2, Sulsel 18, Malut 1,” sebutnya.
Dia pun mengimbau seluruh masyarakat untuk ikut membantu mengawasi hutan dan lahan. Sebab, hutan dan lahan yang banyak dibakar berada di daerah dengan pengawasan lemah.
“Daerah yang dibakar umumnya adalah daerah yang sulit diakses dan jauh dari pemukiman sehingga saat terbakar, sulit dipadamkan,” sambungnya.
Di sisi lain, penanganan kebakaran hutan dan lahan masih terus dilakukan oleh satgas terpadu dari TNI, Polri, BNPB, KLHK, BPPT, Manggala Agni, BPBD, Dinas Damkar, SKPD, Masyarakat Peduli Api, dan masyarakat dengan terus memadamkan api.
“Beberapa petugas dari perusahaan perkebunan juga memberikan bantuan pemadaman. BNPB mengerahkan 18 helikopter pemboman air. Jutaan meter kubik air telah dijatuhkan di hotspot. Siang malam petugas satgas darat memadamkan api, bahkan berkemah di hutan untuk memadamkan api,” tegasnya. (Ayi)

Advertisement

Trending