Connect with us

Humaniora

10 Tahun Meneliti, Pria Tompaso Baru ini Akhirnya Lahirkan Buku Sejarah

Published

on

Laurentius Palendeng

KlikMINSEL – Namanya Laurentius Palendeng. Pria kelahiran Pinaesaan, 17 Februari 1987 ini, akhirnya sukses melahirkan sebuah buku berjudul Lembah Wulur Maatus (1480-1943): Antara Bangsa Bolaang Mongondow dan Minahasa.

 

Kesuksesan pria yang kini berprofesi sebagai guru di SMK Negeri 1 Maesaan ini bukan tanpa perjuangan panjang. Bahkan, proses hingga karyanya menjadi buku membutuhkan waktu 10 tahun.

 

Tidak hanya itu, Laurentius yang saat ini menetap di Jaga 2 Desa Raraatean Kecamatan Tompaso Baru, Minahasa Selatan (Minsel) berkali-berkali mendapatkan tantangan dan hambatan dari berbagai pihak.

 

“Saya bikin penelitian yang akhirnya dibukukan ini sejak masih belum menikah. Bahkan saya sempat dilarang orang tua,” ujar lulusan Unima Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang tahun 2012 ini.

 

Laurentius Palendeng

(Foto: KlikNews)

 

Larangan orang tua muncul karena pergaulannya yang tidak lagi seperti biasa. “Masa itu memang sebenarnya seharusnya pergaulan saya dengan teman-teman saya,” tuturnya.

 

“Tapi justru kenyataannya, waktu itu saya lebih banyak duduk bergaul dengan oma-oma, opa-opa, yang berumur 70-90 tahun. Bapak saya bahkan beranggapan saya akan ketinggalan zaman dan kuno. Sehingga satu saat, beliau menyuruh saya berhenti cari tahu soal sejarah,” tambahnya.

 

Namun, karena pencarian sejarah itu sudah berlangsung lama (dua tahun), dia mengaku menyesal jika harus menghentikan proyek tersebut. Akhirnya, dia mengambil jalan tengah, yaitu mencari data secara sembunyi-sembunyi.

 

Laurentius Palendeng

(Foto: KlikNews)

 

Dia mengaku tertarik dengan sejarah dan budaya lokal sejak tahun 2005. “Ketika pertama kali mengadakan study tour di Desa Pinabetengan Kecamatan Tompaso,” ungkapnya.

 

“Sebenarnya saya mulai menulis sejarah dan budaya lokal di wilayah Kecamatan Tompaso Baru, Maesaan dan bahkan Ranoyapo sejak 19 Januari tahun 2008,” sambungnya.

 

Pada Oktober 2012, Mner Rendy, sapaan akrabnya, akhirnya menikah. Awalnya, lanjut dia, sang istri tak begitu mempedulikan apa yang diperbuatnya. “Setiap hari, dia (istri) melihat saya berhadapan dengan buku dan menulis sampai subuh,” tuturnya.

 

“Suatu waktu, dia menanyakan apa yang sebenarnya saya sedang buat sehingga tidur nanti subuh. Saya jawab, saya sedang menulis sejarah kampung-kampung di wilayah Tompaso Baru dan Maesaan,” ceritanya.

 

“Suatu saat, kami terjepit dengan masalah keuangan di rumah. Tapi saya tetap menulis. Dia pun marah besar. Pokoknya, selama menulis, kami tak habis-habisnya baku marah. Belum lagi ketika saya di lapangan,” kisahnya.

 

Waktu berjalan, Mner Rendy terus melanjutkan penelitian dan tulisannya. Namun apa yang terjadi? Dia malah dianggap sudah gila. Sebab, penelitiannya dianggap sudah memakan waktu lama.

 

“Belum lagi, waktu membuat perjalanan sama dengan investigasi. Saya berkali-kali masuk keluar kubur, dengan beberapa tempat yang dianggap keramat. Orang-orang bilang saya sudah baba opo (pokos-pokos),” ucapnya.

 

Pada tahun 2016, Laurentius sempat bertemu dengan seorang profesional. “Saya sampaikan tentang penelitian sejarah yang sedang digarap. Tapi dia justru menanyakan manfaat buku bagi saya dan keluarga. Berapa duit yang akan didapat. Paling-paling cuma dikenang bahwa saya sudah menulis sejarah Tompaso Baru. Sedangkan saya cari itu sudah bertahun-tahun,” ketusnya.

 

Pertanyaan dan masalah yang diperolehnya itu tak membuatnya patah semangat. “Justru sebaliknya. Demi menepis semua itu. Saya mau buktikan bahwa saya tidak gila dan menulis itu menghasilkan secara finansial,” tegasnya.

 

Pada 9 Oktober 2017, buku karyanya yang berjudul “LEMBAH WULUR MAATUS (1480 -1943) : Antara Bangsa Bolaang Mongondow dan Minahasa Serta Dari Kolonisasi Sampai Munculnya Istilah Tompasobaru” tiba di tangannya.

 

“Kalau mau beli, pesan dulu nanti diantar. Khusus wilayah Tompasobaru dan Maesaan. Atau boleh datang ke saya langsung. Harganya cuma Rp150.000. Jumlah stok le terbatas,” tandasnya.

 

(Meidy Palit)

Humaniora

Awal Ramadan, BTM Masjid Raya Ahmad Yani Vaksinasi Jamaah

Published

on

BTM Masjid Raya Ahmad Yani
Ketua BTM Masjid Raya Ahmad Yani Hi M Yusuf Otoluwa saat divaksin. (Sumber Foto: KlikNews)

KlikSULUT – Berpuasa pada bulan Ramadan tidak lantas menurunkan antusiasme untuk melakukan vaksinasi Covid-19.

Antusiasme itu juga yang membuat BTM (Badan Takmirul Masjid) Masjid Raya Ahmad Yani Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), bersama Dinas Kesehatan Kota Manado melakukan vaksinasi terhadap para jamaah, pada Jumat (16/4/2021).

Menurut Ketua BTM Masjid Raya Ahmad Yani Hi M Yusuf Otoluwa, kegiatan vaksinasi tersebut sebenarnya sudah cukup lama direncanakan. “Baru terealisasi sekarang ini dan akan dilihat dulu reaksinya,” ujar Otoluwa.

“Bisa saja setelah hari pertama ini, akan makin banyak yang mau mendaftarkan diri untuk divaksin,” sambungnya.

Kata dia, vaksinasi merupakan kegiatan yang harus dilakukan dan di-support secara penuh, khususnya oleh ormas keagamaan. “Bahkan kita dari ormas Islam harus malu karena dari ormas keagamaan lain justru sudah semakin banyak menggelar vaksinasi,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan bahwa awalnya rencana kegiatan ini mendapat sejumlah pro kontra. Apalagi dilaksanakan pada saat bulan Ramadan.

“Awalnya ada yang mempertanyakan kenapa dilakukan saat bulan Ramadan, siang lagi. Kenapa tidak malam. Tapi setelah memperhatikan syariat, didapati bahwa vaksinasi bisa dilakukan,” sambungnya.

Dia menambahkan, Masjid Raya Ahmad Yani tidak memiliki jamaah tetap seperti masjid lainnya. “Jamaah kita banyak yang datang dari perkantoran, dan lainnya,” jelasnya.

Makanya, lanjut dia, pihaknya menargetkan memvaksin 150 orang jamaah. Hingga berita ini diturunkan, sudah ada 84 orang yang terdaftar dan siap divaksin.

(Sahril Kadir)

Continue Reading

Humaniora

Berkhidmat, PKS Manado Bagi-Bagi Sembako

Published

on

Semarak Ramadan
Pengurus DPD PKS Kota Manado menyerahkan bantuan sembako kepada warga melalui DPC PKS Kecamatan Sario, pada Selasa (13/4/2021) kemarin.

KlikMANADO – DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Manado terus berkhidmat kepada masyarakat. Bukti terbarunya, partai berbasis umat Islam ini membagikan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan, tepat saat hari pertama Bulan Ramadan, pada Selasa (13/4/2021) kemarin.

Menurut Ketua DPD PKS Kota Manado Abu Hasan Syafii, pembagian bantuan sembako bagi masyarakat, khususnya umat Islam itu, merupakan salah satu wujud kepedulian PKS terhadap kondisi bangsa maupun daerah, dan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.

“Kita tahu bersama bahwa sampai saat ini pandemi Covid-19 tak kunjung berakhir dan telah berdampak besar terhadap pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Apalagi ini sedang dalam suasana Bulan Ramadan,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, kata Hasan, bantuan sembako disalurkan dulu kepada para pengurus DPC se-Kota Manado. “Kita tak bisa pungkiri juga bahwa para kader partai juga banyak yang terkena imbas atas pandemi ini,” katanya.

Dia menambahkan, penyaluran sembako saat Bulan Ramadan ini bukan yang pertama dilakukan PKS Kota Manado. “Pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan seperti ini sudah dillakukan, meski saat itu kita tak berada pada masa pandemi,” terangnya.

“Semoga bantuan sembako ini bisa mengurangi beban hidup yang sedang dialami saat ini,” pungkasnya.

(Sahril Kadir)

Continue Reading

Humaniora

Peduli Bencana NTT, KKSS Mapanget Lakukan Aksi Kemanusiaan

Published

on

KKSS Mapanget
Penyerahan donasi kepada perwakilan ACT. (Sumber Foto: Istimewa)

KlikMANADO – BPC KKSS Mapanget tak henti-hentinya melakukan aksi sosial. Yang terbaru organisasi paguyuban tingkat kecamatan di bawah pimpinan Herianto ini menggelar aksi kemanusian Peduli Bencana NTT.

Sebagaimana diungkapkan Ketua BPC KKSS Mapanget Herianto, aksi kemanusiaan kali adalah bentuk kepedulian dan solidaritas atas bencana banjir bandang disertai tanah longsor yang terjadi NTT beberapa waktu lalu.

Aksi yang dikoordinir oleh Rukmini D As’ad selaku Ketua Departemen Sosial dan Tanggap Bencana BPC KKSS Mapanget, kata Herianto, tidak dilakukan dalam bentuk turun ke jalan.

“Jadi kita fokus bantuan dari para pengurus dan warga KKSS Mapanget saja, melalui open donasi selama tiga hari. Minggu (11/4/2021) tadi adalah hari terakhir aksi,” bebernya.

Dia menjelaskan, pengumpulan donasi sengaja dilakukan tanpa turun ke jalan karena melihat situasi dan kondisi yang ada. “Kami lihat sudah banyak elemen masyarakat yang turun ke jalan untuk mengumpulkan bantuan,” katanya.

Lanjut dia, bantuan yang telah berhasil dikumpul senilai Rp4,5 juta dan akan disalurkan melalui jalur organisasi KKSS yang ada di NTT dan organisasi kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap).

“Jadi ada dua jalur yang kami gunakan untuk penyaluran, yakni KKSS di NTT dan ACT,” ungkapnya.

(Sahril Kadir)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending