Pola Komunikasi Yang Baik oleh Keluarga dengan Tingkat Depresi Lansia
Connect with us

Catatan Publik

Pola Komunikasi Yang Baik oleh Keluarga dengan Tingkat Depresi Lansia

Published

on

MENJADI tua merupakan suatu keadaan yang sudah semestinya terjadi dalam kehidupan manusia, dimana ia telah melalui tahap-tahap kehidupannya.

Lanjut usia sebagai tahap akhir dari siklus kehidupan manusia pasti rentan dengan masalah kesehatan, seperti penurunan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan dimana lanjut usia akan mengalami ketergantungan dengan orang lain.

Lanjut usia merupakan masa dimana semua orang berharap akan menjalani hidup dengan tenang, damai serta adanya support sistem dari keluarga.

Tapi, pada kenyataannya tidak semua lansia mendapat hal yang sama dengan harapannya. Berbagai persoalan dialami lansia di masa tuanya.

Gangguan pola komunikasi keluarga menjadi masalah utama bagi lansia, koping lansia yang tidak efektif dan proses penyampaian yang tidak baik sering menimbulkan stres bagi lansia.

Kondisi seperti ini dapat memicu terjadinya depresi pada lansia. Jika keadaan seperti ini berkelanjutan dan tidak ada tempat untuk lansia mencurahkan segala perasaan dan kegundahannya akan membuat lansia semakin depresi.

Depresi pada lansia adalah gangguan psikiatri yang merupakan masalah kesehatan mental yang terjadi di kalangan lanjut usia. Depresi dapat diatasi dengan adanya koping pada lansia.

Koping adalah cara berpikir dan bereaksi yang ditujukan untuk mengatasi beban yang menyakitkan. Salah satu dari koping tersebut adalah komunikasi dengan keluarga.

Komunikasi sangat penting bagi kedekatan keluarga, mengenal masalah, memberi respon terhadap peran-peran non verbal dan mengenal masalah pada individu.

Pola komunikasi fungsional dapat menjadi indikator terlaksananya fungsi keluarga untuk mengantisipasi tekanan dan masalah yang harus dihadapi lansia pada proses menua agar lansia tidak mengalami depresi.

Karakteristik pola komunikasi terdiri dari, pertama, komunikasi emosional. Komunikasi ini berkaitan dengan ekspresi berbagai emosi atau perasaan, yang dicontohkan dengan keluarga yang dapat mengutarakan isi hati secara penuh. Dalam keluarga dengan pola komunikasi fungsional, emosi masing-masing anggota keluarga dapat terlihat saat mereka berkomunikasi.

Kedua, terbuka dalam berkomunikasi. Dalam hal ini komunkasi memerlukan suatu keterbukaan nilai, rasa saling menghormati dan membuka diri antara anggota keluarga dengan menyediakan waktu untuk berinteraksi.

Ketiga, konflik keluarga dan resolusi keluarga, pada pola komunikasi fungsional, konflik dalam keluarga dapat diselesaikan dengan cara terbuka. Dengan demikian, usia tua yang mendapat dukungan dari keluarga akan memperlihatkan kondisi kesehatan fisik dan mental yang baik.

Komunikasi mempunyai peran sebagai sarana pembentuk kesehatan mental. Kualitas komunikasi yang baik, terlebih pada orang-orang yang sangat mempengaruhi dalam kehidupan kita akan mampu menciptakan kualitas kesehatan mental.

(*)

Penulis adalah Mahasiswa Semester 6 Prodi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Katolik De La Salle Manado

Advertisement

Trending