Penyakit Anemia Pernisiosa Mematikan

Penyakit Anemia Pernisiosa Mematikan
Penulis: Wuliani Laim

ANEMIA adalah suatu kondisi medis di mana kadar sel darah merah dalam darah rendah. Sedangkan anemia pernisiosa merupakan salah satu anemia defisiensi vitamin B-12.

Dalam kelompok ini, terjadi 10-20 kasus per 100.000 orang pertahun. Tingkat kejadiannya sebesar 0,1 persen pada populasi umum dan 1,9 persen pada orang berusia di atas 60 tahun.

Menurut Journal of Blood Medicine, anemia tersebut disebabkan ketidakmampuan untuk menyerap vitamin B12 yang dibutuhkan tubuh, untuk membuat sel-sel darah merah yang cukup. Jika tidak diobati, kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan komplikasi yang sangat parah.

Tanda dan gejala Anemia Pernisiosa

Perkembangan anemia pernisiosa umumnya lambat. Mungkin sulit untuk mengenali gejalanya. Beberapa gejala pada anemia pernisiosa yang sering diabaikan, yaitu lemas, sakit kepala, nyeri dada, dan penurunan berat badan.

Dalam kasus anemia pernisiosa yang jarang, orang mungkin memiliki gejala neurologis yang dapat meliputi gaya berjalan yang tidak stabil, kekakuan pada otot, neuropati perifer yaitu mati rasa di lengan dan tungkai, lesi progresif dari sumsum tulang belakang, dan hilang ingatan.

Adapun gejala lain dari defisiensi B12, yang dapat tumpang tindih dengan anemia pernisiosa, termasuk mual dan muntah, kebingungan, depresi, sembelit, dan kehilangan selera makan.

Penyebab terjadinya Anemia Pernisiosa

  1. Anemia Pernisiosa disebabkan oleh kekurangan Vitamin B-12. Vitamin B12 berperan dalam menciptakan sel darah merah, sehingga tubuh membutuhkan asupan vitamin B12 yang memadai. Vitamin B12 dapat ditemukan di beberapa sumber makanan, seperti daging, unggas, kerang, telur, produk susu, susu kedelai, kacang-kacangan, dan suplemen nutrisi.
  2. Kurangnya faktor intrinsik. Tubuh juga membutuhkan sejenis protein yang disebut faktor intrinsik untuk menyerap vitamin B12. Faktor intrinsik adalah protein yang diproduksi oleh sel-sel di perut. Setelah mengonsumsi vitamin B12, vitamin tersebut menyebar ke perut dan berikatan dengan faktor intrinsik. Keduanya kemudian diserap di bagian terakhir usus kecil.
  3. Dalam kebanyakan kasus anemia pernisiosa, sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel-sel yang menghasilkan faktor intrinsik di perut. Jika sel-sel tersebut hancur, tubuh tidak dapat membuat faktor intrinsik dan tidak dapat menyerap vitamin B12 yang ditemukan dalam makanan.
  4. Makrosit. Tanpa cukup vitamin B-12, tubuh akan memproduksi sel-sel darah merah besar abnormal, yang disebut makrosit. Karena ukurannya yang besar, sel-sel abnormal tersebut mungkin tidak dapat meninggalkan sumsum tulang, tempat sel-sel darah merah dibuat, dan memasuki aliran darah. Hal tersebut dapat mengurangi jumlah sel darah merah pembawa oksigen dalam aliran darah dan dapat menyebabkan seseorang cepat merasa lelah dan lemas.
Baca Juga :  Hashtag #SayaPribumi Masih Jadi Trending Topic

Anemia pernisiosa merupakan jenis anemia makrositik. Kadang-kadang disebut anemia megaloblastik, karena ukuran sel darah merah yang besar diproduksi secara tidak normal. Anemia pernisiosa bukan satu-satunya jenis anemia makrositik.

Penyebab lain sel darah merah abnormal yang berukuran besar di antara adalah penggunaan jangka panjang obat-obatan tertentu dan antibiotik, seperti metotreksat dan azathioprine, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), alkoholisme kronis, dan defisiensi folat (vitamin B-9) yang disebabkan oleh pola makan yang buruk.

Mendiagnosis Anemia Pernisiosa

Dokter biasanya perlu melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis seseorang dengan anemia pernisiosa. Pemeriksaan tersebut termasuk:

  1. Perhitungan darah lengkap, untuk mengukur kadar vitamin B12 dan zat besi dalam serum darah.
  2. Tes kekurangan vitamin B-12. Dokter dapat menilai kadar vitamin B12 melalui tes darah. Level yang rendah mengindikasikan adanya kekurangan.
  3. Biopsi. Biopsi melibatkan pengambilan sampel sel-sel lambung. Sel-sel kemudian diperiksa secara mikroskopik untuk melihat adanya kerusakan.
  4. Uji defisiensi faktor intrinsik. Kekurangan faktor intrinsik diuji melalui sampel darah. Darah diuji untuk antibodi terhadap faktor intrinsik dan sel-sel lambung. Dalam sistem kekebalan tubuh yang sehat, antibodi bertanggung jawab untuk menemukan bakteri atau virus. Sistem kekebalan tubuh kemudian menandai kuman yang menyerang untuk dihancurkan.
  5. Pada penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa, antibodi tubuh berhenti membedakan antara jaringan yang sakit dan sehat. Dalam hal itu, antibodi menghancurkan sel-sel yang membuat faktor intrinsik.

Pengobatan untuk Anemia Pernisiosa

Suntikan vitamin B12 dapat diberikan setiap hari atau setiap minggu hingga kadar B12 kembali normal (mendekati normal). Selama beberapa minggu pertama pengobatan, dokter dapat merekomendasikan membatasi aktivitas fisik.

Setelah kadar Vitamin B12 normal, Anda hanya perlu menggunakan suntikan sebulan sekali. Anda dapat memberikan suntikan sendiri atau meminta orang lain menyuntikkan di rumah untuk menghemat perjalanan Anda ke dokter.

Baca Juga :  Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Masih Tinggi di Sulut

Setelah kadar B12 normal, dokter mungkin menyarankan Anda untuk mengonsumsi suplemen B12 dalam dosis biasa sebagai ganti penggunaan injeksi. Obat tersebut dapat berupa pil, gel hidung, dan semprotan.

Komplikasi Anemia Pernisiosa

Dokter mungkin akan memantau kondisi Anda dalam jangka panjang. Hal tersebut akan membantu dokter mengidentifikasi kemungkinan dampak serius dari anemia pernisiosa. Komplikasi paling berbahaya dari anemia pernisiosa adalah kanker lambung.

Komplikasi potensial anemia pernisiosa lainnya, yaitu kerusakan saraf, masalah saluran pencernaan, masalah memori, kebingungan, atau gejala neurologis lainnya, kerusakan jantung.

(*)

Penulis adalah Mahasiswa Semester 4 Prodi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Katolik De La Salle Manado

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply