Kepercayaan Islam Tua dan Adat Musi di Sulawesi Utara Segera Diakui
Connect with us

Humaniora

Kepercayaan Islam Tua dan Adat Musi di Sulawesi Utara Segera Diakui

Published

on

Penghayat Kepercayaan

KlikMANADO – Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Penghayat Kepercayaan membuat dua penghayat kepercayaan yang tetap bertahan di Sulawesi Utara ini akan segera diakui keberadaannya.

 

Yang pertama adalah kepercayaan Masade, yang penganutnya berada di Kepulauan Sangihe. Kepercayaan ini juga, oleh sejumlah pihak, mengistilahkannya dengan Islam Tua, karena beberapa ajaran dan tata cara ibadahnya lebih dekat pada Islam

 

Dikutip dari Liputan6, keberadaan penghayat kepercayaan ini disebut berkaitan dengan penyebaran Islam di masa lalu yang melibatkan Kesultanan Ternate, Tidore, Sulu, hingga Mindanao. Sejak tahun 1985, Masade sudah terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sebagai penghayat kepercayaan.

 

Bahkan, meski mendapatkan tantangan terkait legalitas dari pemerintah, tidak ada perbedaan perlakuan yang diterima penganut kepercayaan ini. Bahkan, ketika ada kegiatan agama lain, penganut Masade tetap melibatkan diri.

 

Berikutnya adalah kepercayaan Adat Musi, yang merupakan kepercayaan turun-temurun dari leluhur masyarakat Musi yang masih bertahan hingga kini. Masyarakatnya dikenal dengan sebutan masyarakat “penghayat kepercayaan”.

 

“Adat” sendiri merupakan akronim dari “Allah dalam tubuh”. Adapun masyarakat Adat Musi menyebut tuhannya dengan sebutan Tuhan Allah. Penganutnya bisa ditemukan di salah satu desa di pulau Salibabu, Kecamatan Lirung Kabupaten Kepulauan Talaud.

 

Desa tersebut adalah desa Musi Induk. Di desa Musi Induk sebagian besar masyarakatnya menganut kepercayaan Adat Musi. Tempat ibadah mereka berada di Bukit Duanne, yang hanya berjarak seitar 1 km dari desa Musi Induk.

 

Adapun ritual ibadah di Bukit Duanne dilaksanakan setiap hari rabu, sabtu, dan hari besar keagamaan. Yang unik dari ritual Adat Musi adalah setiap penghayat yang akan mengikuti ibadah harus mengenakan pakaian berwarna putih. Warna putih merupakan lambang kesucian bagi para penganutnya.

 

Selain itu, penganut Adat Musi juga masih menjaga tradisi yang membantu menjaga kelestarian alam sekitarnya. Salah satunya adalah adanya larangan menangkap ikan di kawasan pantai, depan Bukit Duanne.

 

Sehingga membuat keindahan terumbu karang yang merupakan habitat ikan tetap terjaga. Meski demikian diving dan snorkeling di sekitar pantai tetap dibolehkan.

 

(Sahril Kadir)

Advertisement

Trending