Connect with us

Catatan Publik

PENCEGAHAN LUKA BAKAR DAN PENATALAKSANAANNYA

Published

on

Meri Agnes Jamlean

Oleh: Meri Agnes Jamlean

 

LUKA bakar dapat mengganggu kesehatan atau menyebabkan keadaan darurat. Luka bakar adalah kerusakan lapisan kulit, yang pada umumnya disebabkan oleh api, listrik, bahan kimia, dan cairan panas.

Pengobatan luka bakar biasa dilakukan tergantung pada bagian yang terluka, luas luka, dan keparahan luka. Pada umumnya luka bakar dapat sembuh dengan perawatan dan pengobatan di rumah. Namun pada luka bakar dengan tingkat keparahan tertentu membutuhkan penanganan khusus oleh para ahli medis.

Data riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan yang diriIis pada 2013 mencatat, luka bakar menempati urutan keenam penyebab cedera tidak disengaja (unintentional injury).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, luka bakar menyebabkan sekitar 195.000 jiwa meninggal di Indonesia setiap tahun. Riset Kementerian Kesehatan tersebut juga menekankan anak-anak usia 1-4 tahun menjadi kelompok umur yang paling rentan terkena luka bakar dengan tingkat prevalensi sampai 1,5 persen.

Luka bakar tidak mempengaruhi kulit secara keseluruhan. Untuk membedakan luka bakar ringan dari luka bakar yang serius berdasarkan pada tingkat kerusakan jaringan. Berikut adalah klasifikasi dari luka bakar :

 

1. Luka bakar tingkat satu

Luka bakar jenis ini merupakan luka bakar ringan yang hanya mempengaruhi lapisan luar kulit (epidermis) berupa kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada bagian yang luka. Umumnya akan sembuh dalam beberapa hari hingga satu minggu dengan perawatan dan pengobatan yang sederhana.

 

2. Luka bakar tingkat dua

Luka bakar tingkat dua mempengaruhi kulit pada lapisan epidermis dan lapisan kedua kulit, yaitu dermis, yang akan menyebabkan kulit menjadi merah, terdapat bercak putih pada kulit, nyeri, bengkak, dan luka akan sering terlihat basah atau lembab, bahkan kulit bisa melepuh.

 

3. Luka bakar tingkat tiga

Luka bakar tingkat tiga adalah luka bakar yang telah mencapai ke dalam lapisan lemak di bawah kulit. Bagian kulit yang terbakar dapat menjadi hangus hitam atau putih. Kulit mungkin terlihat seperti lilin atau kasar. Luka bakar tingkat tiga dapat merusak saraf dan menyebabkan mati rasa. Seseorang dengan luka bakar tingkat tiga juga dapat mengalami kesulitan bernafas.

 

4. Luka bakar tingkat empat

Luka bakar tingkat empat memiliki kedalaman luka bakar hingga pada bagian subkutan, otot dan kemungkinan tulang. Pada tingkat ini bagian luka bakar mengalami perubahan bentuk dan terkadang memerlukan tindakan amputasi.

 

Tanda-tanda & Gejala Luka Bakar

1. Kulit kemerahan.

2. Rasa sakit di area luka.

3. Lecet.

4. Kulit membengkak.

5. Kulit mengelupas.

6. Kulit melepuh.

7. Perubahan warna kulit menjadi putih, coklat, kuning, atau hitam.

 

Kedalaman luka bakar dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti :

 

1. Infeksi

Luka bakar dapat menyebabkan kulit menjadi lebih mudah mengalami infeksi bakteri dan meningkatkan terjadinya sepsis. Sepsis adalah infeksi dimana bakteri berada di dalam darah sehingga dapat mempengaruhi seluruh tubuh dan mengancam jiwa. hal ini akan berlangsung cepat dan dapat menyebabkan kegagalan organ.

 

2. Penurunan volume darah

Luka bakar dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan kehilangan cairan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya hipovolemia atau penurunan volume darah hingga dibawah rentang normal. Penurunan volume darah dan cairan pada tubuh akan mengganggu kerja jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

 

3. Suhu tubuh rendah

Kulit dapat membantu mengontrol suhu pada tubuh, sehingga ketika sebagian besar kulit terluka maka tubuh dapat kehilangan panas. Hal ini dapat meningkatkan resiko suhu tubuh menjadi rendah atau biasa dalam bahas medis disebut hipotermia. Hipotermia adalah suatu kondisi dimana tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada yang dapat menghasilkan panas.

 

4. Masalah pernafasan

Menghirup udara panas atau asap dapat membakar saluran udara dan menyebabkan kesulitan pada sistem pernafasan. Menghirup asap dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan dapat menyebabkan kegagalan pernafasan.

 

5. Terbentuk jaringan parut

Luka bakar dapat menyebabkan bekas luka dan daerah kasar yang disebabkanoleh pertumbuhan berlebih dari jaringan parut (keloid).

 

6. Masalah pada tulang dan sendi

Kedalaman luka bakar dapat membatasi pergerakan tulang dan sendi karena akan terbentuk jaringan parut yang dapat mengencangkan kulit, otot, atau tendon. Kondisi tertariknya sendi keluar dari posisi dapat terjadi secara permanen.

Pencegahan luka bakar adalah dengan mencegah kondisi yang dapat menyebabkan luka bakar. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah luka bakar adalah:

1. Jangan lupa mematikan kompor setelah memakainya.

2. Gunakan pelindung tangan saat memasak.

3. Hindari merokok di dalam rumah atau gedung.

4. Jangan lupa mematikan alat setrika ketika sudah selesai menggunakannya.

5. Siapkan alat pemadam api ringan (APAR) di rumah

6. Bekerja hati-hati bila berdekatan dengan benda-benda yang dapat menyebabkan luka bakar.

Penanganan Luka Bakar dengan Pertolongan pertama pada luka bakar :

1. Menghentikan proses terbakar :

Pertama, tanggalkan semua pakaian dan perhiasan yang melekat pada tubuh. Kedua, jika terkena zat kimia maka serbuk kimia harus hati-hati dibersihkan dari luka. Ketiga, bilas daerah permukaan kulit yang terluka dengan air mengalir. Keempat, mendinginkan luka bakar dengan air dari keran dingin selama minimal 20 menit namun hindari menggunakan es atau air dingin karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan.

Pada luka bakar yang luas tidak perlu dilakukan pendinginan karena dapat menyebabkan hipotermia terutama pada anak-anak.

2. Penanganan luka bakar tingkat satu dan luka bakar tingkat dua (diameter luka <7,6cm) :

Pertama, membersihkan luka bakar dengan sabun dan air. Kedua, mencabut perhiasan atau baju yang lengket pada daerah yang terbakar. Lakukan hal ini dengan cepat dan lembut, sebelum daerah yang luka membengkak. Ketiga, menggunakan pakaian yang tidak bisa lengket ke tubuh. Keempat, jangan menyobek luka yang melepuh berisi air. Jika luka melepuh sobek, maka bersihkan area dengan sabun dan air secara lembut. Keringkan lalu oleskan salep yang mengandung antibiotik dan menutupi dengan balutan kasa antilengket.

Kelima, menggunakan lotion yang mengandung pelembut atau lotion aloe vera/ lidah buaya. Keenam, jika merasakan nyeri yang sangat pada luka maka dapat mengonsumsi obat antinyeri, dan terakhir berkonsultasi dengan dokter terkait jika dibutuhkan suntik vaksin tetanus.

3. Penanganan luka bakar tingkat dua (diameter luka >7,6cm), tingkat 3 dan tingkat 4 :

Telepon ambulans atau bantuan darurat medis lainnya. Hingga bantuan medis datang, dapat dilakukan beberapa hal berikut :

a. Melindungi orang yang terbakar dari luka yang bertambah parah. Pastikan orang terbakar tidak bersentuhan dengan bahan berbahaya, api, asap dan panas. Jangan melepaskan pakaian terbakar yang menempel di kulit.

b. Melakukan pengecekkan pernafasan, adanya batuk. Lakukan CPR jika dibutuhkan.

c. Melepaskan perhiasan, ikat pinggang terutama jika barang-barang tersebut ada disekitar luka yang terbakar dan di leher. Bagian luka yang terbakar dapat membengkak dengan cepat.

d. Jangan mengompres luka bakar dengan diameter besar dengan air dingin. Hal tersebut dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh secara drastis (hipotermia) atau penurunan tekanan darah.

e. Memposisikan bagian tubuh yang terbakar lebih tinggi dari jantung.
f. Menutupi area luka bakar. Gunakan perban atau kain yang tidak lengket, bersih, dingin, dan lembab.

Sumber :
1. http://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-burns/basics/art-20056649
2. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/burns/basics/definition/con-20035028
3. http://patient.info/doctor/burns-assessment-and-management
4. https://lifestyle.okezone.com/read/2018/05/12/481/1897511/luka-bakar

(***)

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Katolik De La Salle Manado Fakultas Keperawatan Semester 5.

Catatan Publik

Pers, KIM, dan Pemda Wajib Bersinergi Untuk Menghadang Penyebaran Covid-19

Published

on

Yan Bawiling
Penulis: Yan Bawiling

PARA wartawan memperingati Hari Pers Nasional pada Selasa, 9 Februari 2021 hari ini. Hari yang tentu saja sangat berharga bagi para pemburu berita. Momentum ini sangat berharga dalam rangka mengasah dan meningkatkan kualitas pers secara nasional.

Di sisi lain, di Indonesia terdapat Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang tersebar di setiap kabupaten dan kota. Kelompok ini berperan sebagai sumber penyampaian informasi, yang aktif dan peka terhadap penyebaran informasi di tengah masyarakat, dan juga adalah mitra dari pemerintah daerah di bawah Dinas Kominfo.

Oleh karenanya, setiap penyebaran informasi perlu melibatkan KIM. Sehingga informasi yang tersebar di tengah masyarakat itu benar dari sumber yang terpercaya dan bukan berita bohong atau “Hoax”.

Lain halnya antara para insan pers dan KIM, data dan fakta bisa didapat secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat, sehingga berita yang dipublikasikan benar-benar berasal dari sumber data. Karena Insan Pers adalah jembatan informasi antara Pemerintah dan masyarakat.

Berkaitan dengan Pandemi Covid-19 sekarang ini, semua komponen media informasi, baik Pemerintah, Pers dan masyarakat perlu bersinergi agar Bangkit dari pandemi Covid-19 dan bangkit dari pemulihan ekonomi masyarakat.

Melalui Hari Pers Nasional kita juga sama-sama wajib menyukseskan Program Vaksin Nasional, semoga terhindar dari Covid-19 dan jangan lupa untuk tetap mengedepankan Protokol kesehatan.

Selamat Hari Pers Nasional.

(***)

Penulis adalah Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kepulauan Talaud

Continue Reading

Catatan Publik

Peran Teknologi SIG di Negara Rawan Bencana

Published

on

Oleh: Drs. Agus Santoso Budiharso, M.Sc

INDONESIA adalah negara yang dikenal dengan negara multirawan bencana, baik bencana alam seperti banjir, gempabumi, tanah longsor, tsunami, angin puting beliung dan bencana alam lainnya. Keadaan ini sering memaksa ke dalam kondisi darurat dan memerlukan manajemen pengelolaan dan penanggulannya. Manajemen keadaan darurat mencakup berbagai macam kegiatan mulai dari Pemerintah di semua tingkatan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

Dalam pengelolaan dan penanggulangan bencana di semua tingkatan pemerintahan diperlukan alat bantu yang memadai. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) memainkan peran yang sangat penting dalam kondisi kedaruratan yang disebabkan oleh adanya bencana alam.

Ada berbagai tipe umum kondisi darurat, dimana keadaan darurat menjadi bencana bila melebihi kemampuan sumber daya lokal untuk mengelolanya. Bencana sering kali mengakibatkan kerusakan, kerugian, atau kehancuran yang besar.

Keadaan darurat yang disebabkan oleh manusia termasuk peristiwa yang tidak direncanakan atau kecelakaan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia atau perkembangan manusia. Contohnya termasuk tumpahan bahan kimia, radiasi nuklir, kegagalan utilitas, epidemi, ledakan, dan kebakaran kota.

Selain itu ada kondisi darurat yang disebabkan oleh bencana alam sebagai akibat dari proses alam seperti gempa bumi, tornado, tsunami, pembekuan, badai salju, panas atau dingin yang ekstrim, kekeringan, atau serangan serangga.

Kondisi darurat juga bisa dipicu oleh adanya gangguan internal adalah peristiwa atau aktivitas yang direncanakan kelompok atau individu yang sengaja menyebabkan gangguan. Ini termasuk kerusuhan, demonstrasi, pembobolan penjara skala besar, dan pemogokan dengan kekerasan. Ada juga keadaan darurat sebagai akibat dari Kekurangan Energi dan Material termasuk pemogokan, perang harga, dan kelangkaan sumber daya. Kedaruratan juga bisa berasal dari adanya serangan (attack) termasuk didalamnya adalah tindakan terorisme skala besar atau perang menggunakan nuklir, konvensional, atau agen biologis.

Untuk penanganan kondisi darurat ini memerlukan tahapan manajemen keadaan darurat yang dapat dikelompokkan menjadi lima tahap yang terkait dengan waktu dan fungsi untuk semua jenis keadaan darurat dan bencana. Fase-fase ini juga terkait satu sama lain, dan masing-masing melibatkan jenis keterampilan yang berbeda. Fase-fase itu meliputi perencanaan, mitigasi, kesiapsiagaan, respons dan pemulihan.

Dalam perencanaan, kegiatan yang diperlukan untuk menganalisis dan mendokumentasikan kemungkinan suatu keadaan darurat atau bencana dan potensi konsekuensi atau dampak pada kehidupan, properti, dan lingkungan. Ini termasuk menilai bahaya, risiko, mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan kebutuhan pemulihan.

Aktivitas kesiapsiagaan dalam penanganan kondisi darurat diperlukan sejauh tindakan mitigasi belum, atau tidak bisa, mencegah bencana. Dalam fase kesiapsiagaan, pemerintah, organisasi, dan individu mengembangkan rencana untuk menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerusakan akibat bencana (untuk misalnya, menyusun inventaris sumber daya negara, memasang latihan pelatihan, menginstal sistem peringatan dini, dan mempersiapkan pasukan tanggap darurat yang telah ditentukan sebelumnya).

Saat perencanaan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), pengambil keputusan dapat menunjukkan bahaya dan mulai mengevaluasi konsekuensi dari keadaan darurat atau bencana potensial. Ketika bahaya (gangguan gempa, daerah rawan kebakaran, zona banjir, paparan garis pantai, dll) dilihat dengan data peta lainnya (jalan, jaringan pipa, gedung, area pemukiman, kabel listrik, fasilitas penyimpanan, dll.), petugas manajemen darurat dapat mulai merumuskan mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan kemungkinan kebutuhan pemulihan. Nilai kehidupan, properti, dan lingkungan tinggi risiko dari potensi darurat atau bencana menjadi jelas. Petugas keamanan publik bisa fokus di mana upaya mitigasi akan diperlukan, di mana upaya kesiapsiagaan harus dilakukan terfokus, di mana upaya respons harus diperkuat, dan jenis upaya pemulihan itu mungkin perlu. Sebelum program manajemen darurat yang efektif dapat dibuat diimplementasikan, analisis dan perencanaan yang menyeluruh harus dilakukan. SIG memfasilitasi proses ini dengan memungkinkan perencana untuk melihat kombinasi data spasial yang sesuai dengan peta yang dihasilkan komputer.

Pada tahap mitigasi SIG diperlukan untuk pemetaan zona-zona berdampak. Dalam kasus gempa bumi, perkembangan apa yang termasuk dalam yang utama zona dampak sesar gempa? Berdasarkan perkiraan magnitudo gempa bumi, karakteristik tanah, dan data geologi lainnya, kerusakan apa yang mungkin terjadi? Fasilitas apa membutuhkan konstruksi atau relokasi yang diperkuat? Fasilitas apa yang ada di area bahaya tinggi (jembatan utama, jalan utama, jalan layang bebas hambatan, rumah sakit, penyimpanan bahan berbahaya fasilitas, dll.)? Mitigasi dapat mencakup penerapan undang-undang yang membatasi pembangunan zona gempa atau banjir. Nilai yang berisiko dapat ditampilkan dengan cepat dan efisien melalui SIG. Memanfaatkan database yang sudah ada yang terhubung dengan fitur geografis pada SIG. Di manakah zona bahaya kebakaran? Kombinasi fitur apa (untuk Misalnya, topografi, vegetasi, cuaca) merupakan bahaya kebakaran? GIS dapat mengidentifikasi kemungkinan jalur banjir berdasarkan fitur topografi atau penyebaran tumpahan minyak pesisir berdasarkan arus dan angin. Lebih penting lagi, kehidupan manusia dan lainnya nilai (properti, habitat, satwa liar, dll.) yang berisiko dari keadaan darurat ini dapat terjadi dengan cepat diidentifikasi dan ditargetkan untuk tindakan perlindungan.

Pada tahap kesiapsiagaan, SIG bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan seperti dimana stasiun pemadam kebakaran harus ditempatkan jika lima menit waktu respons diharapkan? Berapa unit paramedis yang dibutuhkan dan di mana haruskah mereka ditemukan? Rute evakuasi apa yang harus dipilih jika awan beracun atau bulu tidak sengaja terlepas dari pabrik atau fasilitas penyimpanan berdasarkan angin yang berbeda pola? Bagaimana orang akan diberi tahu? Akankah jaringan jalan menangani lalu lintas? Apa fasilitas akan menyediakan tempat penampungan evakuasi? Berapa jumlah persediaan, luas tempat tidur, dan sebagainya seterusnya, apakah akan dibutuhkan di setiap tempat penampungan berdasarkan jumlah pengungsi yang diharapkan?

SIG pada tahapan respon, dapat menyediakan salah satu komponen utama untuk computer-aided dispatch (CAD) sistem. Unit tanggap darurat yang berbasis di lokasi tetap dapat dipilih dan diarahkan untuk tanggap darurat. Unit respons terdekat (tercepat) dapat dipilih, diarahkan, dan dikirim ke keadaan darurat setelah lokasinya diketahui. Tergantung pada darurat, GIS dapat memberikan informasi rinci sebelum unit pertama tiba. Misalnya, selama kebakaran gedung komersial, adalah mungkin untuk mengidentifikasi hidran terdekat, panel listrik, bahan berbahaya, dan denah bangunan saat dalam perjalanan ke keadaan darurat. Untuk tumpahan berbahaya atau pelepasan awan bahan kimia, arah dan kecepatan pergerakan dapat dimodelkan untuk menentukan zona evakuasi dan kebutuhan penahanan.

SIG dapat memainkan peran penting dalam upaya pemulihan jangka pendek. Salah satu pekerjaan yang paling sulit dalam suatu bencana adalah penilaian kerusakan. GIS dapat bekerja sama dengan GPS untuk menentukan lokasi setiap fasilitas yang rusak, mengidentifikasi jenis dan jumlah kerusakan, dan memulai untuk menetapkan prioritas tindakan. SIG dapat menampilkan (melalui database utama) penilaian kerusakan keseluruhan saat ini saat dilakukan. Keadaan darurat persediaan pusat distribusi (medis, makanan, air, pakaian, dll.) dapat ditugaskan di jumlah yang sesuai untuk tempat penampungan berdasarkan jumlah dan jenis kerusakan di setiap area.
SIG dapat menampilkan jumlah hunian yang dibutuhkan dan di mana lokasinya akses yang wajar. GIS dapat menampilkan area di mana layanan telah dipulihkan alokasikan kembali pekerjaan pemulihan dengan cepat ke tugas prioritas. Rencana aksi dengan peta bisa dicetak, menguraikan pekerjaan untuk setiap area tertentu. Tempat penampungan dapat memperbarui database inventaris memungkinkan pusat komando utama untuk mengkonsolidasikan pesanan pasokan untuk semua tempat penampungan. Itu upaya pemulihan segera dapat ditampilkan secara visual dan diperbarui dengan cepat hingga jangka pendek pemulihan selesai. Peta status visual ini dapat diakses dan dilihat dari lokasi terpencil. Ini sangat membantu untuk keadaan darurat atau bencana besar di mana pekerjaan sedang berlangsung di lokasi yang berbeda.

Pemulihan jangka panjang memulihkan semua layanan ke normal atau lebih baik. Pemulihan jangka Panjang (penggantian rumah, sistem air, jalan, rumah sakit, jembatan, sekolah, dll.) dapat dilakukan beberapa tahun. Rencana dan kemajuan jangka panjang dapat ditampilkan dan dilacak menggunakan SIG. Prioritas untuk investasi restorasi besar dapat dilakukan dengan bantuan SIG. Saat restorasi jangka panjang selesai, itu dapat diidentifikasi dan dilacak secara visual melalui SIG. Penghitungan biaya bencana bisa jadi rumit. Saat dana dialokasikan untuk perbaikan, informasi akuntansi dapat dicatat dan ditautkan ke setiap lokasi. Jangka Panjang biaya pemulihan bisa mencapai miliaran (atau lebih) untuk bencana besar. Akuntansi untuk bagaimana dan di mana dana dialokasikan sangat diperlukan. SIG dapat meringankan beban tugas ini.

Program manajemen darurat dikembangkan dan dilaksanakan melalui analisis informasi. Mayoritas informasi bersifat spasial dan dapat dipetakan. Sekali informasi dipetakan dan data terkait dengan peta, perencanaan manajemen darurat bisa dimulai. Setelah nilai kehidupan, properti, dan lingkungan digabungkan dengan bahaya, personel manajemen darurat dapat mulai merumuskan mitigasi, kesiapsiagaan, respon, dan kebutuhan program pemulihan.

SIG memungkinkan manajemen darurat diidentifikasi sebelum insiden. Peristiwa bencana, seperti seperti kebakaran hutan, tsunami, banjir, gempa bumi, angin topan, epidemi, disperse bahan kimia, dan tumpahan minyak, dapat dimodelkan dan ditampilkan dalam SIG.

Manajemen darurat personel dapat menggunakan pemodelan untuk pelatihan, untuk penyebaran taktis yang sebenarnya selama bencana, atau untuk menganalisis konsekuensi dari kemungkinan bencana. Penggunaan teknologi ini membutuhkan waktu informasi perencanaan manajemen darurat. Dengan demikian, penerapan SIG yang bijaksana dapat membantu pengambilan keputusan yang tepat dan efisien pada kondisi darurat akibat bencana.

(***)

Penulis adalah Pendiri Yayasan Pengkajian dan Advokasi Geospasial

Continue Reading

Catatan Publik

PENATALAKSANAAN FRAKTUR

Published

on

Dhea Aprillya Takainginang

Oleh: Dhea Aprillya Takainginang

 

PATAH tulang atau fraktur adalah kondisi ketika tulang patah sehingga posisi atau bentuknya berubah.

Patah tulang dapat terjadi jika tulang menerima tekanan atau benturan yang kekuatannya lebih besar dari pada kekuatan tulang.

Patah tulang terjadi ketika tulang menerima tekanan yang lebih besar dari yang bisa diterima oleh tulang tersebut. Makin besar tekanan yang diterima tulang, umumnya akan makin berat pula tingkat keparahan patah tulang.

Jenis – Jenis Fraktur yaitu:

1. Fraktur Terbuka

Pada kondisi fraktur terbuka, tulang yang patah dapat menembus kulit. Jika tulang sampai menonjol keluar melewati kulit, maka inilah jenis kondisi fraktur terbuka.

2. Fraktur Tertutup

Patah tulang tertutup adalah jenis patah tulang dimana tulang yang patah tidak sampai merobek kulit.

3. Fraktur Tidak Lengkap

Patah tulang tidak lengkap merupakan kondisi tulang yang tidak patah sepenuhnya atau tidak sampai membagi tulang menjadi 2 bagian atau lebih, melainkan hanya retak.

4. Fraktur Lengkap

Patah tulang lengkap adalah kondisi tulang patah menjadi dua bagian atau lebih.

Patah tulang tidak selalu dapat dicegah, namun Anda dapat mengurangi risiko patah tulang dengan:

  • Menggunakan alat keselamatan saat berkendara, seperti sabuk pengaman saat mengemudikan mobil, atau helm saat mengendarai motor
  • Meminta pertolongan orang lain untuk menjaga Anda agar tidak terjatuh jika sedang menaiki tangga lipat
  • Mengenakan alat pelindung tubuh saat melakukan olahraga yang melibatkan benturan atau berisiko menyebabkan Anda terjatuh
  • Melakukan latihan secara rutin untuk menjaga keseimbangan tubuh dan meningkatkan kekuatan tulang, terutama pada penderita osteoporosis
  • Berkonsultasi dengan dokter mengenai kebutuhan Anda terhadap nutrisi atau suplemen untuk menjaga kesehatan tulang.

Berikut ini tips dalam mencegah fraktur atau patah tulang yang dapat Anda terapkan setiap hari:

1. Nutrisi dan Sinar Matahari

Tubuh pada dasarnya membutuhkan asupan kalsium yang cukup untuk kesehatan tulang. Sumber kalsium yang baik bisa Anda dapatkan dari susu, yoghurt, keju, dan sayuran berdaun hijau gelap. Tubuh juga membutuhkan vitamin D untuk menyerap kalsium. Anda bisa mendapatkan vitamin D dengan berjemur dibawah sinar matahari (disarankan di pagi hari), makan telur, dan ikan berminyak.

2. Aktivitas Fisik

Jika sering latihan menahan beban, semakin kuat dan padat tulang Anda. Latihan yang membuat tulang Anda kuat misalnya berlari, berjalan, berlari, melompat, dan menari, atau latihan apa pun itu yang dapat menguatkan tulang. Dengan begitu Anda dapat mencegah patah tulang.

3. Menopause

Estrogen adalah hormon yang mengatur kalsium pada wanita. Hormon ini akan berkurang selama menopause, yang membuat pengendalian kalsium jauh lebih sulit. Akibatnya, wanita harus sangat berhati-hati pada tulangnya selama dan setelah menopause.

Tips berikut ini dapat membantu Anda mengurangi risiko osteoporosis setelah menopause:

  • Jika kecanduan merokok, segera berhenti sama sekali
  • Lakukan latihan beban singkat setiap minggu
  • Hindari alkohol
  • Sering berjemur di bawah sinar matahari
  • Pastikan pola makan yang mengandung banyak kalsium.
  • Bagi Anda yang kesulitan mengonsumsi makanan berkalsium, dokter mungkin menyarankan mengonsumsi suplemen kalsium.

Sumber:
https://doktersehat.com/patah-tulang-fraktur

Apley, A. Graham , Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, Widya Medika, Jakarta, 1995

Herman Santoso, dr., SpBO (2000), Diagnosis dan Terapi Kelainan Sistem Muskuloskeletal, DiktatKuliah PSIK, tidak dipublikasikan

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

https://idnmedis.com/fraktur

(***)

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Katolik De La Salle Manado Fakultas Keperawatan Semester 5.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending