Pemuda Muhammadiyah: Tentang Jejak Literasi dan Kedaulatan Ekonomi

Pemuda Muhammadiyah: Tentang Jejak Literasi dan Kedaulatan Ekonomi
Penulis: Sudarwin Jusuf Tompunu

PEMUDA adalah bagian terpenting dari sejarah kemerdekaan Indonesia, generasi penerus bangsa yang menjadi pilar-pilar kokoh kekuatan bangsa.

Dalam sejarah, pemuda memiliki peran khusus dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, melalui organisasi-organisasi pergerakan, ide dan perjuangan mereka menjadi kekuatan yang lahir dari perjuangan.

Sebut saja Budi Utomo atau kala itu dieja; Boedi Utomo, adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr Soetomo bersama para mahasiswa stovia yaitu; Goenawan Mangoenkoesoemo, serta Soeraji disetujui pada tanggal 20 Mei 1908.

“Banyak orang yang masuk Muhammadiyah, namun Muhammadiyah belum masuk ke dalam dirinya”. Ungkapan fenomenal ini santer di kalangan warga Muhammadiyah. Puluhan tahun silam, kalimat sakti almarhum Yusuf Polapa ini terucap dan hingga kini kata-kata ini terus menggema di benak.

Seperti gerakan-gerakan sosial keagamaan lainnya, Muhammadiyah memiliki daya tarik di ruang publik, di mulai dari fenomena pendidikan, ekonomi, hukum, dan politik. Daya tarik ini sesungguhnya lebih dari cukup untuk menggambarkan kedigdayaan organisasi dan keluhuran moderasi. Namun beberapa hal yang kemudian perlu untuk mendapatkan koreksi, baik itu diruang privat maupun di ruang publik politik.

Pertama, ‘hilangnya’ tradisi literasi dan keilmuan. Kata hilang perlu untuk diberi tanda petik karena bukan berarti tidak ada. Hanya mungkin terselip di antara ketidakpastian arah dan ketakutan-ketakutan teknis, atau tidak nampak akibat kekakuan dan ke-aku-an kolektif.

Ini menarik karena di tengah kedigdayaan Muhammadiyah dengan konsep pendidikan, ekonomi, hukum dan politik itu, ruang privat Muhammadiyah—terutama Sulawesi Utara—justru berbicara sebaliknya.

Naif, jika IPM dan IMM yang berlambang pena justru tidak pernah menulis dan fobiajurnalis, Pemuda Muhammadiyah yang berlambang kuncup mekar tapi loyo dan layu, atau Nasyiah yang bersimbol padi berbahagia tapi mengalami spritual patologis.

Baca Juga :  Pembangunan Patung Budaya Lain di Bukit Kasih Diprotes

Hal ini tentu saja meng-galau-kan. Bayangkan saja jika dalam tradisi keilmuan, lalu ada ilmuwan Muhammadiyah di lingkungan civitas akademika menanggapi Covid-19 atau virus Corona sebagai informasi kiamat sudah dekat atau kuburan sedang marah, tentu ini bukan salah tapi kurang tepat sehingga menjadi anekdot.

Kedua, tidak adanya kedaulatan ekonomi organisasi. Ruang koreksi ini perlu mendapat perhatian karena salah satu faktor mandegnya gerakan adalah faktor ekonomi. Sementara, hiruk pikuk di amal usaha, oleh segelintir orang dipengaruhi soal mental many orient (orientasi duit). Ini yang menggerhanakan matahari Muhammadiyah.

Pemuda Muhammadiyah dan Pancasila merupakan satu kesatuan universal yang memberikan jawaban terhadap rongsokan budaya jahil dan jumud (berpandangan primitif) akibat hilangnya tradisi keilmuan dan mental many orient hendaknya mulai dibenahi dan segala aktifitas perlu diilmukan dan diisi jejak keilahian agar segala macam kalkulasi dan asumsi di ruang publik politik menjadi realitas peradaban.

Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Utara perlu menjawab tantangan ini. Isu-isu semacam radikalisme dan anti pancasila hingga isu Muhammadiyah tidak masuk dalam kelompok ahlussunnah, tidak perlu dijawab dengan reaksi melankolisme agama berlebihan.

Pemuda Muhammadiyah cukup meneruskan dan mengembangkan amanah para pendiri pergerakan. Betapapun, alat ukur pancasilais terletak pada rasionalisasi UUD 1945.

Contoh ringan, sebelum konstitusi berbicara soal amanat mencerdaskan kehidupan bangsa, amal usaha pendidikan Muhammadiyah lebih justru tua dan lebih sistemik dari negara ini.

Pengukuhan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Utara hari ini, yang dirangkaikan dengan sosialisasi empat pilar, makin meneguhkan bahwa Muhammadiyah berkomitmen membangun negara.

Kesalahpahaman terhadap pancasila berakibat kebisingan sosial karena pancasila sering dimaknai sebagai pokok ibadah dengan diktum mati dan kaku. Padahal pancasila menitikberatkan isyarat ilmiahnya pada jejak kesalehan sosial di ranah moralitas publik.

Baca Juga :  Awas Bahaya Kanker Serviks

(*)

Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Utara

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply