Situs Walian Pingkan Dirusak, Ini Kata Pemerhati Adat Minahasa
Connect with us

Humaniora

Situs Walian Pingkan Dirusak, Ini Kata Pemerhati Adat Minahasa

Published

on

Walian Pingkan

KlikSULUT – Untuk kesekian kalinya, para pemerhati adat dan warisan leluhur terpaksa harus turun tangan langsung mengamankan dan menjaga kebudayaan Minahasa.

 

Bagaimana tidak, perusakan situs budaya masih saja dilakukan oknum-oknum tak bertanggungjawab. Yang terkini, lokasi yang menyimpan sejarah Walian Pingkan di Desa Kema 3, ditemukan telah dibongkar, pekan lalu.

 

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) wilayah Sulawesi Utara (Sulut) Lefrando Gosal mengatakan, situs budaya adalah penanda ingatan dan merupakan identitas sebuah daerah.

 

Ketika pergi ke situs budaya, kata dia, maka seseorang seperti sedang menapaki ingatan yang ditinggalkan leluhur. “Dengan begitu kita bisa tahu pengetahuan dan kebijaksanaan yang ditinggalkan leluhur lewat situs tersebut,” jelasnya, Minggu (10/12/2017) malam.

 

“Maka dengan menjaga situs budaya, berarti kita menjaga ingatan dan ikatan dengan leluhur dan pengetahuan yang ditinggalkan. Itulah mengapa situs itu penting,” ungkapnya.

 

Dia menegaskan, setiap perusak situs budaya akan diancam dengan hukuman sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 26, terkait ketentuan pidana.

 

“Di situ dikatakan, barangsiapa dengan sengaja merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya, atau membawa, memindahkan, mengambil, mengubah bentuk dan atau warna, memugar, atau memisahkan benda cagar budaya tanpa izin dari Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya seratus juta rupiah (Rp100.000.000),” terangnya.

(baca halaman selanjutnya)

Pages: 1 2

Advertisement

Trending