Pelajaran Hidup dari "Rurouni Kenshin: The Final"
Connect with us

Catatan Publik

Pelajaran Hidup dari “Rurouni Kenshin: The Final”

Published

on

Pelajaran Hidup Rurouni Kenshin
Salah satu adegan film Rurouni Kenshin. (Sumber Foto: Netflix)

Oleh: Sahril Kadir

Siang (19/6/2021) tadi, Penulis menonton film “Rurouni Kenshin: The Final”. Film sekuel yang tentu saja sudah sangat dinantikan para pecinta “Samurai X”, karena sosok Himura Kenshin yang lihai dalam bertarung menggunakan katana.

Apalagi, sejak sekuel pertamanya diluncurkan, Rurouni Kenshin senantiasa menghadirkan pertarungan apik nan seru, yang dibumbui kisah romantis berkadar rendah. Sehingga mengundang decak kagum.

Namun pada sekuel terbaru ini, Penulis menilai film ini memiliki poin. Jika pada seri-seri sebelumnya lebih mengandalkan sisi aksinya, kali ini skenarionya lebih baik lagi.

“Rurouni Kenshin: The Final” menceritakan upaya balas dendam Enishi atas kematian kakak perempuannya yang tewas akibat tebasan pedang Bathousai, julukan Kenshin.

Film ini juga turut mengungkap penyebab bekas luka berkode ‘X’ di pipi kiri Kenshin, yang meski sudah lama namun tak kunjung hilang. Menarik bukan?

Lebih dari itu, penulis menilai film yang tayang perdana di Netflix ini memuat banyak pelajaran tentang makna kehidupan. Satu di antaranya adalah pertobatan. Bahwa tobat bukan hanya sekadar kata manis yang dilisankan usai melakukan kejahatan saja.

Harus ada perbuatan yang menyertai manisnya kata tobat. Perbuatan tersebut pun tak hanya biasa saja, melainkan harus dengan kesungguh-sungguhan.

Ya, Bathousai adalah sosok mantan pembunuh berdarah dingin yang bertobat dan berjanji tak membunuh lagi. Makanya, dia secara khusus menggunakan samurai yang sisi tajamnya justru berada di bagian belakang. Tak seperti samurai biasanya.

Dia juga memilih mendedikasikan diri untuk desanya, lewat keahliannya. Pertobatannya itu pun mendapat rintangan yang tidak sedikit, karena banyaknya pihak yang ingin membalas dendam. Sehingga, mau tak mau, Kenshin harus melawan tanpa membunuh.

Dengan kata lain, tobat yang benar itu sangat sulit. Sebab akan ada banyak godaan, rintangan, dan halangan yang datang. Jika tidak sungguh-sungguh, maka tobat itu akan sia-sia.

(***)

Penulis adalah pecinta film aksi

Advertisement

Trending