Pasiak: Jangan Pertanyakan Doktrin Agama Lain
Connect with us

Headline

Pasiak: Jangan Pertanyakan Doktrin Agama Lain

Published

on

Jangan Pertanyakan Doktrin Agama Lain

KlikMANADO – Taufik Pasiak menegaskan, setiap orang tidak bisa mencampuri urusan doktrin agama lain. Hal itu diungkapkannya saat membawa materi pada Lokakarya Pengayaan Wacana Agama dan Keberagaman, di Ruang Serba Guna Kantor Wali Kota Manado, Senin (21/8/2017).

 

Menurut dia, setiap agama memiliki doktrin yang tidak bisa diganggu gugat. “Mempelajari agama lain bisa, tapi dalam rangka membenarkan atau mencari kebenaran, itu tidak bisa. Jangan pertanyakan keyakinan agama lain,” ujar dia.

 

Dia menjelaskan, mencampuri urusan doktrin agama lain sama artinya dengan membuka peluang ketidaksepahaman diantara pemeluk agama. “Perbedaan-perbedaan itu tak perlu diperluas. Lebih baik yang dibahas adalah kesamaan tujuan setiap agama,” terang dia.

 

Apalagi setiap agama, lanjut dia, juga melahirkan banyak aliran atau sekte di bawahnya. “Seperti di Sulut, dimana telah melahirkan puluhan sekte agama Kristen. Begitu pun di dalam Islam. Kita tahu ada macam-macam aliran,” kata dia.

 

Dia menambahkan, ketidaksepahaman antar pemeluk agama bisa menimbulkan pemikiran radikal. “Setiap orang memang memiliki radikal mine. Tapi kita harus bisa memotong antara radikal mine dan radikal movement,” jelas dia.

 

“Saat ini yang diperlukan adalah membangun imunitas di tengah masyarakat. Inilah yang penting dilakukan agar masyarakat tidak mudah terpecah belah oleh isu agama yang dimainkan pihak tertentu,” sambung dia.

 

Perlu diketahui, lokakarya sehari ini diselenggarakan oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) bekerja sama dengan British Counsil, dan difasilitasi oleh Pemkot Manado dan Kementerian Agama RI.

 

ICRS adalah konsorsium tiga universitas di Yogyakarta, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana, yang menyelenggarakan kajian antaragama dan isu-isu sosial budaya berkaitan dengan agama.

 

Sedangkan British Counsil adalah lembaga sipil internasional yang memberi perhatian besar pada pengembangan budaya dan pendidikan di seluruh Indonesia.

 

Kegiatan ini melibatkan 100 peserta yang terdiri dari penyuluh agama di lingkungan Kementerian Agama, guru agama, perwakilan-perwakilan lembaga pemerintah, lembaga keagamaan, Forum Kerukunan Umat Beragama, akademisi, wartawan, organisasi massa, lembaga swadaya masyarakat, perwakilan kaum muda, dan lembaga masyarakat sipil lainnya. (Ayi)

Advertisement

Trending