Mengintip Sejarah Awal Gereja
Connect with us

Headline

Mengintip Sejarah Awal Gereja

Published

on

Gereja

KlikMANADO – Sejarah gereja umum berawal dari Yerusalem, saat Petrus dan beberapa murid Yesus lainnya membawa ajaran kekristenan ke Yudea, sedangkan Filipus dan lainnya ke wilayah Samaria dan sekitarnya.

 

Hal itu sebagaimana termuat dalam Alkitab Kisah Para Rasul. Selanjutnya, Petrus membawa Injil ke Roma, Paulus ke Asia Kecil dan Eropa, Apolos ke Mesir, dan Filipus ke Etiopia.

 

Sebelum tahun 100 Masehi, Injil sudah tersebar di Siria, Persia, dan Afrika, dan terus menyebar ke berbagai wilayah di ujung bumi.

 

Dikutip dari website Gereja Kristen Indonesia, wilayah kekaisaran Romawi awalnya memiliki sejumlah agama suku. Padahal, wilayah kekaisaran Romawi saat itu cukup luas, yaitu mulai dari Selat Gibraltar sampai Sungai Frat, dan tanah Mesir hingga Inggris.

 

Namun, agama-agama tersebut disebut tidak membuat banyak orang puas lagi, sehingga mencari jalan keselamatan dalam berbagai kepercayaan, di antaranya Yahudi.

 

Pada tahap awal, kehidupan gereja banyak dipengaruhi agama Yahudi. Meski demikian, waktu itu hubungan orang Yahudi dengan bangsa lain kurang harmonis, disebabkan ketaatan kepada Taurat membuat mereka harus hidup terasing.

 

Saat itu, orang Yahudi menganggap agama selain Yahudi adalah agama politheis. Namun, banyak juga orang yang justru tertarik kepada agama yang monotheistis itu.

 

Dalam perkembangannya, muncul sebuah kesadaran bahwa ketaatan kepada hukum Taurat tidak boleh lagi dianggap syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan, sehingga gereja tidak lagi membatasi dirinya kepada orang Yahudi.

 

Jadi sebelum itu, orang Kristen pertama terdiri orang-orang Yahudi, yang tetap mengunjungi Bait Allah maupun sinagoge, dan mereka yang mentaati hukum Taurat.

 

Saat gereja berhasil berkembang ke dunia orang kafir, muncul persoalan teologis. Bagaimana dengan orang Kristen bukan Yahudi itu? Orang Kristen yang menaati hukum Taurat. Apakah orang Kristen bukan Yahudi juga harus menaati hukum Taurat?

 

Terkait masalah ini, Paulus memiliki sikap sangat tegas. Orang Kristen tidak perlu menaati hukum Taurat yang disebut merupakan syarat memperoleh keselamatan. Tetapi banyak orang Kristen-Yahudi yang tetap mempertahankan Taurat sebagai syarat keselamatan. Kelompok ini disebut sebagai orang-orang Yudais.

 

Di awal perkembangan gereja, salah satu pusat yang utama adalah Antiokhia. Di sini pertama kali muncul jemaat yang terdiri dari orang kafir. Jemaat ini, disebutkan, dipakai Tuhan sebagai alat membawa Injil ke daerah yang lebih jauh.

 

Utusan jemaat yang terkenal adalah Paulus. Dia mengabarkan Injil di wilayah Asia Kecil (sekarang Turki) dan di Yunani (45-57). Pengaruh agama Kristen yang paling besar adalah Asia Kecil. Bila PI tidak mudah bergerak ke Timur.

 

Cara pengungkapan iman Kristen pada abad II menggunakan Didache atau sama dengan pengajaran. Salah satu tulisan yang terkenal sesudah zaman para rasul adalah Didache yang ditulis di Siria pada tahun 100. Kitab ini singkat layaknya surat Yakobus.

 

Isi kitab Didache adalah pembaca dihadapkan sebuah pilihan jalan kehidupan dan jalan maut. Selain itu berisi kebiasaan-kebiasaan berpuasa, berdoa, ibadah khususnya perayaan sakramen-sakramen, dan tata-gereja.

 

Pada kitab Didache, agama Yahudi dan kebiasaan orang Yahudi ditolak keras. Sedangkan corak pemikiran maupun inti agama Yahudi tetap dipertahankan. Selain Didache terdapat pula surat-surat yang ditulis oleh Bapa-bapa gereja, seperti Ignatius di tahun 110.

 

Dia menulis tujuh surat kepada jemaat di Asia Kecil bagian Barat dan jemaat di Roma. Ada juga surat dari Yustinus Martir di tahun 165.

 

Ajaran Yustinus Martir sangat dipengaruhi filsafat Stoa tentang konsep Logos. Sehingga Yesus dipandang merupakan mediator Ilahi yaitu menjadi pengantara antara Allah dan dunia. Makanya, Kristus berada di bawah Allah.

 

Selain itu, ada tokoh lain bernama Bardaisan (tahun 154-222) yang dulu merupakan seorang bangsawan dari Edessa. Dia sangat terpengaruh oleh ilmu nujum dari Babilonia kuno yang percaya bintang-bintang mempengaruhi kehidupan manusia.

 

Setelah menjadi Kristen, Bardaisan percaya pada pengaruh bintang, tetapi dia juga menekankan sikap manusia yang menentukan.

 

Pada perkembangannya, di setiap jemaat terdapat penatua (presbuteroi). Di antara mereka dipilih para penilik (episkopoi) yang dibantu Diaken-Diaken (diakonoi). Ada pula pengajar dan nabi.

 

Posisi itu tidak melewati proses pemilihan tetapi dihormati, karena memiliki karunia Roh yang dianugerahkan. Golongan ini sangat berpengaruh.

 

Semula dalam gereja awal tidak ada perbedaan tingkat, tapi sekitar tahun 100 para penilik mulai menganggap para pelayan lain sebagai bawahannya. Karena itu ditetapkan urutan pangkat, yaitu penilik-penatua-diaken.

 

Kemudian agar lebih praktis, pimpinan dilaksanakan satu orang, maka mulai lazim ada satu Penilik untuk seluruh jemaat. Jabatan Penilik ini nantinya berubah menjadi Uskup. Sehingga Uskup yang berkuasa dalam jemaat, seperti raja dalam wilayah kerajaannya.

 

Bila timbul masalah berat, Uskup dari setiap jemaat berkumpul dalam rapat sinode. Sinode pertama dari para Uskup diadakan tahun 180.

 

Sistem pemerintahan gereja ini masih terdapat dalam gereja Orthodoks-Timur (di Rusia dan Eropa Tenggara) dan dalam Gereja Anglikan.

 

Awalnya, gereja di Eropa Barat memakai sistem Episkopal, tetapi Uskup Roma yang disebut Paus mengklaim memiliki seluruh kekuasaan, sehingga dia memerintah Gereja Katolik Roma.

 

(Tim)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending