Manado HUT ke-398, Ferry Liando Beber PR Yang Diemban AARS
Connect with us

Manado

Manado HUT ke-398, Ferry Liando Beber PR Yang Diemban AARS

Published

on

Ferry Liando. (Sumber Foto: Istimewa)

KlikMANADO – Rabu (14/7/2021) hari ini, Kota Manado genap berusia 398 tahun. Perayaan ulang tahun ini pun menjadi yang pertama kalinya dipimpin Wali Kota Andrei Angouw dan Wakil Wali Kota Richard Sualang (AARS).

Meski demikian, pengamat politik dan pemerintahan Ferry Liando mengungkapkan bahwa pascapelantikan Mei lalu, publik belum bisa berharap banyak terhadap AARS dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka, khususnya memenuhi janji-janji kampanye saat Pilkada.

Sebab, kata Liando, pada 6 bulan pertama AARS baru dalam tahapan orientasi dan adaptasi tugas. “Memang sebelum menjadi pemimpin eksekutif, keduanya berpengalaman sebagai pemimpin di legislatif. Tapi tentunya kedua arena ini sangat berbeda dan butuh adaptasi dan orientasi,” ujar dosen ilmu politik Unsrat ini.

Liando menjelaskan bahwa 6 bulan pertama bertugas, juga menjadi masa pembentukan cita-cita bersama antara wali kota dan wakil wali kota. “Dari pemahaman cita-cita keduanya, maka akan terjadi pembagian tugas yang saling mengisi satu sama lain,” ungkapnya.

Pada bukan ketujuh, lanjut Wasekjen Pengurus Pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), tugas AARS adalah menyusun dan menetapkan dokumen RPJMD, yang merupakan penjabaran visi dan misi mereka saat kampanye. “Di sela-sela itu, keduanya menyusun formasi birokrasi sebagai pelaksana visi dan misi keduanya,” katanya.

Menurutnya, kondisi saat ini masih dalam pemerintahan transisi. “Artinya program yang dilakukan keduanya masih merupakan kelanjutan pemerintahan terdahulu,” bebernya.

“Program wali kota dan wakil wali kota praktis baru akan terwujud setelah terbentuknya RPJMD yang ditetapkan lewat peraturan daerah atau perda,” sambungnya.

Namun demikian, menurutnya lagi, apa yang sudah dilakonkan wali kota akhir-akhir ini, menunjukkan ada keseriusan dalam membenahi Kota Manado menjadi lebih baik. “Seperti meninjau lokasi pembuangan sampah secara langsung dan turun ke lapangan saat banjir,” jelasnya.

Dia berpendapat, peninjauan langsung di lapangan oleh wali kota menjadi hal yang bagus. “Sebab kalau hanya mengandalkan perangkatnya meninjau lapangan, kerap terkendala. Apa yang dilaporkan kerap tidak seusai fakta,” terangnya.

“Hal itu terjadi karena takut disalahkan atau takut ditegur karena salah dalam menerapkan kebijakan. Semoga apa yang dilakukan walikota hari ini akan sama sampai mengakhiri periodisasi,” sambungnya.

Pada sisi lain, Liando menilai pasangan AARS masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. “Masalah Manado bukan hanya soal sampah, macet dan banjir. Tetapi juga banyak masalah lain yang harus dibenahi seperti pelayanan publik dan kenyamanan masyarakat,” ucapnya.

Sifat masyarakat yang mulai berubah menjadi individualistik menyebabkan sikap saling menghormati satu sama lain mulai redup. “Ada yang berpesta pora dan memasang musik dengan suara kencang tanpa peduli masyarakat sekitar yang terganggu,” ketusnya.

“Di sebagian jalan, meski sempit banyak yang memasang tenda sampai menutup setengah jalan. Mereka tidak peduli dengan kemacetan. Para pengiring jenasah, tak segan meneriaki pengguna jalan lain sambil tanpa menyetop kendaraan lain jika dianggap menghalangi,” katanya.

“Bintang peliharaan sengaja dilepas dan buang kotoran di halaman tetangga. Ada masyarakat yang digigit anjing karena pemiliknya tak memiliki kesadaran utk menertibkan binatang peliharaan itu. Sebagain masyarakat tidak malu menakar sampah sembarangan dan asap masuk ke rumah tetangga. Hal ini kelihatan sepele, tapi masyarakat lain perlu kenyamanan dan ketentraman. Ini PR yang harus diselesaikan keduanya,” pungkasnya.

(***)

Advertisement

Trending