Manado Fiesta 2018, Ini Kata Harley Mangindaan
Connect with us

Ekobis

Manado Fiesta 2018, Ini Kata Harley Mangindaan

Published

on

KlikMANADO – Wakil Wali Kota Manado periode 2010-2015 Harley Mangindaan ikut angkat bicara soal event Manado Fiesta 2018 yang tinggal menyisakan satu hari lagi.

 

“Manado Fiesta jangan sampai menjadi rutinitas anggaran tahunan. Tapi saya berharap jadi model pengorganisasian wisata yang melibatkan banyak sekali manfaat dari tuan rumah,” ujarnya kepada KlikNews, Kamis (30/8/2018).

 

“Hotel sudah banyak. Jangan sampai pemkot tidak membantu “mengisi” kreasi tangan-tangan swasta di Manado. Kasihan kalau mereka merugi,” ungkapnya.

 

“Swasta adalah salah satu fondasi sektor pariwisata suatu daerah. Tanpa mereka, apalah arti sebuah wilayah. Karpet merahkan mereka, karena mereka pasti tulus bangun Kota Manado,” sambungnya.

 

Hingga kini, kata Penatua PKB Sinode GMIM Bidang Pengembangan sumber Daya Wirausaha ini, belum terlihat produk andalan Manado yang dijadikan ikon.

 

“Dan dikuatkan warga dan ditunjang Pemkot Manado, Pemprov Sulut, Kementerian, swasta atau perusahaan plat merah/BUMN dalam penciptaan produk, dan create wilayah baru destinasi wisata kearifan lokal,” jelasnya.

 

Di sisi lain, Mangindaan mengajak seluruh masyarakat untuk menyukseskan setiap program pimpinan daerah. “GSVL-Mor berupaya meningkatkan kunjungan wisata, pemberdayaan warga meningkat, atraksi wisata, dan berharap warga membantu dengan sikap sebagai tuan rumah yang baik dan menjaga kebersihan kota,” katanya.

 

“Pemkot juga membantu program ODSK yang sudah menambah slot penerbangan dari luar negeri ke Manado, dengan harapan kabupaten dan kota lain mampu kreatif dalam menangkap wisatawan dan yang paling utama pemberdayaan bagi warganya,” terangnya.

[irp posts=”8715″ name=”Jamaah Haji Asal Tondano Meninggal Dunia”]

“Sebagai Penatua PKB Sinode Bidang Pengembangan Sumber Daya Wirausaha, saya juga siap dukung dengan sosialisasi tentang kesiapan warga gereja hadapi AFTA. Jangan sampai barang jualan penunjang wisata masuk dari kota lain atau negara lain,” tegasnya.

 

“Sedangkan warga Sulut cuma tahaga kage merasakan cepatnya arus ekonomi dan bisnis merambah Sulut dan torang bukan produsen malah jadi konsumen,” tandasnya.

 

(Sahril Kadir)

Advertisement

Trending