Mengupas Tuntas Makna "Maesaan"
Connect with us

Humaniora

Mengupas Tuntas Makna “Maesaan”

Published

on

"Maesaan"

KlikMINAHASA – Kata “Maesaan” menjadi salah satu kata yang banyak disebut atau diteriakkan orang. Sayangnya, hanya sedikit yang memahaminya secara benar.

Berikut ulasan salah satu Presidium Dewan Musyawarah Wilayah (DMW) Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Sulawesi Utara Melvin Katoppo, tentang kata “Maesaan”.

 

Kata Maesaan terdiri dari kata dasar esa yang berarti satu. Dalam bahasa Minahasa, kata ini ditambah dengan awalan ma dan akhiran an, yang artinya bersatu.

 

Adapun fungsi dan maknanya yaitu dimulai dari menyatukan tubuh, jiwa dan roh. Tubuh adalah unsur lahiriah manusia, yakni unsur daging, yang dapat dilihat, disentuh, didengar, dan sebagainya.

 

Sedangkan manusia memiliki unsur batiniah yang tidak dapat dilihat, dan meliputi beberapa unsur, yaitu pikiran, emosi (perasaan) dan kehendak. Dengan pikiran, manusia dapat berpikir. Dengan perasaan, manusia dapat mengasihi, dan dengan kehendak manusia dapat memilih.

 

Ruh, lanjut Katoppo adalah prinsip kehidupan manusia. Ruh adalah nafas yang dihembuskan Allah ke dalam manusia dan kembali kepada Allah, sebagai kesatuan spiritual dalam manusia.

 

Ruh adalah sifat alami manusia yang immaterial, yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah, yang juga adalah Ruh. Tubuh sendiri memiliki pengertian sebagai pengolahan tubuh agar sehat jiwa dan jasmani.

 

Pengolahan tubuh, tentunya, dengan menjaga kesehatan supaya tetap sehat dengan olahraga, gerak badan, tidak merokok, tidak meminum alkohol, tidak narkoba dan sebagainya.

 

Jiwa mempunyai pengertian menjaga tubuh untuk tetap waras atau tidak gila. Sebab di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Ruh mempunyai pengertian tentang suatu keyakinan dari Tuhan yang maha Esa. Tubuh dan jiwa mati. Ruh masih ada atau hidup dinyatakan masih hidup. Jika tubuh dan jiwa ada tapi ruh mati dinyatakan mati. Penyatuan dilakukan dan dimulai dari penyatuan tubuh, jiwa dan ruh.

 

Maesaan Tou adalah orang yang sedang menyatukan tubuh, jiwa dan ruhnya untuk menyatakan jati dirinya, mengenali dirinya. Jika tubuh, jiwa dan ruh telah menyatu, maka manusia itu sudah siap untuk menyatukan dirinya kepada suatu penyatuan yang lebih besar. Sedangkan Tou Maesaan adalah penyatuan orang-orang yang sudah menyatukan dirinya atau mengenali dirinya.

 

Dalam ajaran adat budaya Minahasa dikenal dengan nama Taar Um Watupinawetengan: Malo’or Ne Si Empung atau pengakuan adanya sang Khalik Pencipta semesta alam, dan patut untuk dihormati dan disembah. Ajaran ini menyangkut pengakuan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa, Opo Empung Ni WanaNatas.

 

Maleosan adalah Sayang dan patuh kepada Sang Khalik semesta alam, Opo Empung Ni WanaNatas, Baku-baku sayang antar sesama manusia, Sayang kepada hasil ciptaanNya (Maupusan).

 

Satu kesatuan dalam foso atau ajaran dan persatuan bangsa Malesung itu sendiri dalam menghadapi musuh dari dalam dan dari luar, sesuai dengan sumpah yang dibangun sebelum para Leluhur Minahasa berpisah di Watu Pina Wetengan, adalah Esa kita peleng! (Satu kita semua!), Esa woan pawetengan kumihit un posan. Taan kita peleng esa! ( Satu lalu dipisahkan tempat karena kebaktian agama/ajaran. Tapi kita semua satu!), Maesa wian untep! (Satu di bagian dalam!), Maasa masaru se kaseke wana ng’kesot! (Bersatu menghadap musuh dari luar!).

[irp posts=”4208″ name=”Melihat Prosesi Adat Lamaran di Minahasa”]

Maapoan adalah menghormati yang tua, menghargai yang muda serta menghargai ajaran masing-masing dengan toleransi yang tinggi. Saling menghormati atau toleransi di antara foso dan umat beragama, dan tidak ada budaya baku cungkel, malah saling memberi dukungan (Masigian, Malingaan).

 

Re’i siapa siparukuan (Tidak siapa disembah), Rei siapa sipakuruan (Tidak siapa diinjak), Se tua-tua un taranak, ni sera sepa lele’an (Mereka tua-tua keluarga, merekalah yang dituruti), Se tua untaranak ni sera se ma kukung (Mereka yang kepala keluarga).

 

Masawangan – Baku-baku bantu

Siapa yang lebih, memberikannya kepada yang kurang atau pun siapa yang membutuhkan pertolongan patutlah dibantu (Matombolan).

 

Menurut Katoppo, saat ini tak lagi ada kepedulian-kepedulian seperti ini. Semuanya ditelan degradasi amukan globalisasi dan teknologi. “Sayangkan betapa tinggi dan mulianya torang pe arifan lokal yang makin lama makin pudar. Semoga tou Minahasa kembali kepada ajaran-ajaran yang berbudi luhur dan bermoral yang baik,” ujarnya.

 

Dia pun mengimbau masyarakat Minahasa agar membangun kembali kearifan lokal yang terkandung nilai-nilai luhur dan bermoral yang tinggi. “Marilah kita benar-benar mempersiapkan diri kita untuk bersatu, satu hati, satu pikiran, satu visi, satu misi dalam menjaga kedaulatan bangsa Minahasa yang seutuhnya,” ungkapnya.

[irp posts=”3475″ name=”Ini 5 Dasar kepercayaan Agama Suku Adat Malesung”]

“Menjaga tanah Toar-Lumimuut yang tercinta ini dari dalam maupun luar seperti tertuang dalam sumpah Taar Um WatuPinawetengan. Maesaan-maesaan-MAESAAN. Pakatuan Pakalowiren,” tandasnya.

[irp posts=”5067″ name=”Pilkada Minahasa 2018, Politik Ideologis vs Genetik Biologis”]

(Sahril Kadir)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending