Ini 5 Dasar kepercayaan Agama Suku Adat Malesung
Connect with us

Humaniora

Ini 5 Dasar kepercayaan Agama Suku Adat Malesung

Published

on

KlikMANADO – Pimpinan Organisasi Penghayat Kepercayaan Minahasa, Melvin Katoppo, mengungkapkan bahwa ada lima hal yang mendasari kepercayaan agama Adat Suku Malesung.

 

Katoppo menyebutkan, lima hal dasar itu adalah Maloor Si Empung, Maleosan, Maesaan, Maapoan dan Masawa Sawangan. Kepada KlikNews, dia pun menjelaskan satu per satu lima dasar tersebut.

 

“Maloor Si Empung adalah pengagungan Sang Khalik Pencipta Semesta Alam. Orang Minahasa dulu sudah mengetahui bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan seluruh isi alam,” ujarnya, Jumat (10/11/2017) lalu.

 

“Menurut saya, kepercayaan di tanah Minahasa, secara isme tergolong pada monoteisme. Ini jauh sebelum Kristen masuk di tanah Minahasa. Jauh sebelum agama lain masuk,” sambungnya.

 

Dia mengungkapkan, penyebutan Tuhan ini berbeda-beda sesuai kelompok-kelompok yang ada di Minahasa. “Ada empat suku besar di tanah Minahasa, salah satunya adalah yang sekarang kita kenal sebagai Tountemboan, dan Tountewoh yang dikenal Tonsea,” terangnya.

 

“Empat suku besar ini memiliki pegangan tentang tata cara ibadah. Simbolnya pun berbeda-beda. Jadi sekali lagi tidak ada kepercayaan Tonaas Walian, yang mengacu pada Samanisme,” tambahnya.

 

Dasar yang kedua, lanjut dia, adalah Maleosan. “Maleosan adalah baku-baku bae. Maksudnya adalah baik kepada Sang Pencipta, baik kepada sesama manusia, dan baik kepada hasil ciptaan Yang Maha Kuasa,” katanya.

 

Menurut dia, Maleosan dipegang betul oleh orang Malesung atau orang Minahasa. “Yang nyata pada orang tempo dulu adalah saat akan menanam. Saat menanam, tentu akan membuka hutan untuk digarap,” jelasnya.

 

“Saat itu ada ritual khusus untuk menanam. Pohon yang akan diambil kayunya untuk dibangun rumah, sebelumnya harus diritualkan. Berdoa dulu pada Tuhan, saya mau pakai pohon ini untuk pembangunan,” tuturnya.

 

[irp posts=”3405″ name=”Tonaas Walian adalah Aliran Kepercayaan?”]

 

“Dan karena Maleos itu, harus baik kepada hasil ciptaan Tuhan, maka harus bicara ke pohon. Melingkari itu pohon lalu contohnya dia ketuk. Setelah itu, dia bilang, pohon saya mau ambil kamu untuk bikin rumah. Kalau boleh, ini rumah bikin akang kuat. Supaya biar hujan, angin dan badai tidak goyah sebagai tempat berlindung kami. Setelah itu baru dipotong. Jadi tidak seperti sekarang ini,” tegasnya.

 

Secara tuntunan adat, lanjut dia, hal ini benar-benar berdedikasi untuk bersama-sama dengan alam. “Contoh lainnya saat akan berburu. Dari rumah dia sudah berdoa. Sampai di hutan juga dia berdoa, “hutan kalau bisa kami mau berburu untuk memberi makan keluarga,” sebutnya.

 

“Setelah melihat hewan buruan, dia berdoa lalu berburu. Setelah didapat, dia mengucap syukur dulu karena telah mendapat berkat. Jadi sekali lagi tidak sembarangan seperti sekarang. Ini ajaran leluhur di tanah Minahasa yang sangat luar biasa,” ujarnya.

 

Dasar yang ketiga adalah Maesaan. “Maesaan artinya bersatu. Tidak hanya bersatu, karena di zaman dulu itu harus menyatukan diri dulu. Ada tubuh dan ruh yang perlu disatukan untuk menemukan jati dirinya,” bebernya.

 

“Yang keempat adalah Maapoan. Artinya menghormati yang tua dan menghargai yang muda. Dalam hal ini etika dan estetika. Sehingga muncul sikap toleransi yang tinggi,” sambungnya.

 

Dasar yang terakhir adalah Masawangan. “Saling baku bantu. Makanya di Minahasa itu sekarang dikenal sebutan Mapalus. Bukan sekadar gotong royong, tapi kesadaran untuk membantu dan dibantu,” jelasnya.

 

Dia menjelaskan, lima dasar itu saling menopang. “Tidak berjalan atau dijalankan sendiri-sendiri,” katanya.

 

Dia menambahkan, sikap yang berlawanan seperti baku cungkel, baku tindis, adalah propaganda Belanda agar orang Minahasa dulu tidak bersatu.

 

[irp posts=”3459″ name=”Aparat Tangkap Simpatisan ISIS di Sulut”]

 

(Sahril Kadir)

Advertisement

Trending