Connect with us

Headline

Kapolda Sulut Tindak Tegas PETI, Perhapi-Walhi Sulut Harap Bisa Konsisten

Published

on

KlikSULUT – Aksi penertiban dan penghentian PETI yang dilakukan Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Utara (Sulut) pimpinan Irjen Pol Royke Lumowa, mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, di antaranya Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulut.

Apresiasi tersebut diberikan karena aksi penambang ilegal, apalagi menggunakan alat berat, sulit ditertibkan selama bertahun-tahun. Upaya pemerintah daerah, termasuk Sulut, untuk menertibkan selalu terbentur di lapangan.

Selain itu, aksi penghentian PETI juga sudah ditunjukkan. Bahkan Kapolda Sulut turun langsung menertibkan tambang ilegal di Bolmong dan Minahasa Tenggara (Mitra). Yang terkini, Kapolda turun langsung di Potolo, Desa Tanoyan, Bolmong, pada Selasa (17/3/2020) lalu.

“Langkah Kapolda Sulawesi Utara yang baru ini harus diapresiasi dan diberikan penghargaan. Kita pun berharap agar upaya penertiban dapat dilakukan secara konsisten,” ujar Ketua Umum PERHAPI Rizal Kasli, Kamis (19/3/2020).

Rizal berpendapat, penertiban ini akan efektif jika aparat penegak hukum turun ke lapangan secara bersama-sama dan konsisten menegakkan aturan tanpa pandang bulu.

“Apabila ada aparat di daerah yang terlibat juga dilakukan penegakan hukum sampai pada pemecatan. Kapolda harus membentuk Satgas Khusus untuk langkah tersebut dan bekerja secara terus menerus dalam menertibkan tambang tanpa izin (ilegal) yang banyak terdapat di daerah-daerah,” sarannya.

Dia juga meminta Pemerintah dan aparat penegak hukum untuk serius menangani masalah PETI. “Aktivitas pertambangan emas tanpa izin ini merugikan negara, daerah dan masyarakat. Juga merusak lingkungan dan keselamatan kerja,” tegasnya.

Di sisi lain, Pemerintah juga harus proaktif melakukan pembinaan terhadap tambang rakyat yang memiliki izin. “Sehingga pengoperasian tambang-tambang tersebut dilakukan dengan mengedepankan ‘good mining practice’,”terangnya.

Senada disampaikan Koordinator Walhi Sulut Theodoron Berenc Victor Runtuwene. Dia mendukung langkah Kapolda Sulut yang baru itu. “Ini langkah maju dari Pihak Kepolisian yang tidak hanya memberi statement di media tetapi juga melakukan aksi nyata di lapangan,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kehadiran tambang ilegal di Sulut, khusus di Bolmong dan Mitra, sudah sangat meresahkan. “Terutama di Bolaang Mongondow yang sempat menjadi perhatian nasional karena ada kecelakaan yang menyebabkan sejumlah penambang meninggal dunia,” bebernya.

Dia berharap, aksi Kapolda Sulut dan Bupati Mitra tetap dilanjutkan, hingga tidak ada lagi aktivitas penambangan ilegal. “Langkah ini positif untuk memberi kepastian hukum dan menciptakan rasa keadilan bagi banyak orang. Kami berharap langkah ini juga diikuti oleh beberapa kepala daerah di Sulawesi utara yang di wilayahnya punya tambang illegal,” pungkas Theo.

Sekadar informasi, Kapolda Sulut Irjen Pol Royke Lumowa merealisasikan janjinya untuk menertibkan PETI. Dia turun langsung ke Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Bolmong, untuk menutup PETI di Perkebunan Patolo.

Menurut Kapolda, ada dua cara penegakan hukum bagi pelaku PETI.Untuk yang menggunakan alat berat itu harga mati ditindak tegas. Begitu juga bagi pemodal besar, tidak akan ada perlindungan.

“Saya sampaikan yang ada di Potolo, semua tidak boleh beroperasi, semua di police line. Kapolda tidak berat sebelah dan tidak memihak pada yang ilegal,” tandasnya.

(Sahril Kadir)

Headline

Siklon Tropis Surigae Meningkat 24 Jam ke Depan, Sulut Harus Tingkatkan Kesiapsiagaan

Published

on

Siklon Tropis Surigae

KlikJAKARTA – Siklon Tropis Surigae yang sedang terjadi di perairan Samudera Pasifik sebelah utara Papua Barat diperkirakan mengalami kenaikan intensitas dalam 24 jam ke depan dan terus bergerak mengarah ke barat laut.

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siklon Tropis Surigae cenderung bergerak menjauhi wilayah Indonesia, namun tetap berdampak tak langsung bagi sejumlah provinsi di Tanah Air.

Menurut prediksi BMKG hingga Sabtu (17/4) pukul 19.00 WIB, posisi siklon tropis tersebut masih akan berada di perairan Samudera Pasifik dan diperkirakan bergerak menuju sebelah utara Maluku Utara, atau pada 11.7 LU dan 129.7 BT, atau sekitar 1.040 kilometer sebelah utara timur laut Tahuna.

Siklon tropis ini diperkirakan akan bergerak dengan kecepatan 10 knot atau 19 kilometer per jam dengan kekuatan 95 knots atau 185 kilometer per jam dengan tekanan 935 hPa.

Akibat adanya pergerakan siklon tropis tersebut, BMKG memprediksi potensi hujan lebat disertai kilat/petir serta angin kencang di sembilan wilayah meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat sangat mungkin terjadi.

Kemudian, gelombang air laut setinggi 1.25-2.5 meter berpeluang terjadi di Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe, Perairan Kepulauan Sitaro, Perairan Bitung – Likupang, Laut Maluku, Perairan Selatan Sulawesi Utara, Laut Halmahera, dan Perairan Biak hingga Jayapura.

Selanjutnya, gelombang air laut dengan ketinggian rata-rata 2.5-4.0 meter berpeluang terjadi di Perairan Kepulauan Talaud dan Perairan utara Halmahera. Adapun gelombang air laut setinggi 4.0-6.0 meter berpeluang terjadi di Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua Barat.

Sehubungan perkembangan informasi mengenai Siklon Tropis Surigae tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kedeputian Bidang Pencegahan mengintruksikan pemangku kebijakan di Kabupaten/Kota di wilayah masing-masing agar dapat melaksanakan upaya penguatan kesiapsiagaan menghadapi beberapa dampak dari siklon tropis tersebut.

“Dalam hal ini, pemerintah di daerah diharapkan dapat melaksanakan amanah yang tertuang pada Surat Deputi Bidang Pencegahan BNPB nomor B27IBNPB/DIl/PK.03.02/04/2021 tanggal 13 April 2021 tentang Peringatan Dini dan Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bibit Siklon Tropis 94w yang berkembang menjadi Siklon Tropis Surigae,” ungkap Kapusdatinmas BNPB Raditya Jati, Sabtu (17/4/2021).

Selain itu, lanjut dia, pemangku kebijakan di daerah diminta melaksanakan apa yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Nomor 360/2067/BAK tanggal 16 April 2021 tentang Langkah Antisipatif Terhadap Potensi Bibit Siklon Tropis.

Adapun beberapa hal yang tercantum dalam SE tersebut meliputi koordinasi dan sinergitas Forkopimda, peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang dapat ditimbulkan, persiapan sarana dan prasarana, peningkatan kesiapsiagaan dan membangun rencana kontijensi dan pelaksanaan SOP penanganan darurat berbasis penerapan protokol kesehatan bersama Satgas Penanganan COVID-19.

“Kemudian penyebaran informasi melalui media dan kearifan lokal, pengalokasian APBD, pembinaan dan pengawasan serta monitoring wilayah dan pelaporan hasil pelaksanaan penanggulangan bencana dari bupati/wali kota kepada Kementerian Dalam Negeri,” pungkas Raditya.

(***)

Continue Reading

Headline

17 Persen Masyarakat Indonesia Masih Tak Percaya Covid-19

Published

on

Tak Percaya Covid
Doni Monardo. (Sumber Foto: Istimewa)

KlikJAKARTA – Sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia, hingga saat ini tidak percaya Covid-19 ada. Selain itu, mereka juga menganggapnya sebagai rekayasa dan konspirasi.

Hal itu diungkapkan Ketua Satgas Nasional Penanganan Covid-19 Doni Monardo, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 bersama jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu, di Bengkulu, pada Jumat (16/4/2021).

Makanya, Doni meminta seluruh pemerintah daerah, termasuk tokoh adat dan tokoh agama, untuk terus berupaya memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat. Khususnya, lanjut dia, berkaitan dengan larangan mudik Idul Fitri 1442 Hijriah. “Pemahaman tentang pandemi ini harus dikuasai oleh seluruh pihak,” tegasnya.

Dia menjelaskan, pandemi Covid-19 belum berakhir dan potensi penularan dari mobilitas manusia saat hari raya dan libur nasional sangat tinggi.

Dengan pelarangan mudik, kata Doni, Pemerintah tidak ingin adanya pertemuan silaturahmi justru menimbulkan penularan dan berakhir pada meningkatnya angka kematian.

(Sahril Kadir)

Continue Reading

Headline

Ada Bibit Siklon Tropis 94W, Sulawesi Utara Waspada Banjir Dua Hari ke Depan

Published

on

Bibit Siklon

KlikJAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memonitor adanya Bibit Siklon Tropis 94W yang mulai tumbuh di wilayah Samudera Pasifik sebelah utara Papua pada Senin (12/4/2021).

Sulawesi Utara menjadi satu dari sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak Bibit Siklon Tropis 94W. Wilayah lain yang berpotensi terdampak meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menekankan bahwa wilayah dengan level ‘waspada’ untuk potensi banjir bandang dua hari ke depan, berdasarkan prakiraan berbasis dampak adalah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

“Waspada Sulawesi Utara dan Maluku Utara,” katanya, dikutip dari rilis Pusdatinmas BNPB, pada 13/4/2021).

Lebih lanjut, dia juga mengatakan bahwa Gelombang Tinggi 1.25 sampai 2.5 meter berpeluang terjadi di  Laut Sulawesi bagian tengah dan timur, Perairan utara Kep. Sangihe hingga Kep. Talaud, Laut Maluku, Perairan utara dan timur Halmahera, Laut Halmahera, Samudera Pasifik utara Halmahera.

Kemudian Gelombang Tinggi 2.5 hingga 4.0 meter berpeluang terjadi di Perairan Raja Ampat – Sorong, Perairan Manokwari, Perairan Biak, Teluk Cendrawasih, Perairan Jayapura – Sarmi, Samudera Pasifik utara Papua Barat.

Berikutnya Gelombang Setinggi 4.0 hingga 6.0 meter berpeluang terjadi di Samudera Pasifik utara Papua.

Menyusul adanya informasi prakiraan cuaca tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem. “Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati,” kata Guswanto.

“Dalam hal ini, seluruh pemangku kebijakan di daerah bersama masyarakat juga diharapkan dapat mempersiapkan segala hal yang dianggap perlu untuk mengantisipasi adanya dampak terhadap bencana hidrometeorologi yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan dan pohon tumbang,” pungkasnya.

Sekadar informasi, melalui citra satelit Himawari-8, bibit siklon tropis terdeteksi di -5.8 LU-141.1 BT, dan menunjukkan adanya petumbuhan awan konvektif yang persisten dan cukup signifikan di sekitar sistem dalam enam jam terakhir.

Area dengan kecepatan angin maksimum (15-20 knot) terkonsentrasi di kuadran utara dan selatan dari pusat sistem.

Adapun tekanan minimum Bibit Siklon Tropis 94W mencapai 1007 hPa dan dengan kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai 20 knot atau 37 km/jam.

Keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W dalam 24 jam kedepan ini memberikan dampak tidak langsung berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam 24 jam kedepan yang dapat disertai kilat/petir serta angin kencang di beberapa wilayah di Tanah Air.

“Dalam 24 jam ke depan memberikan dampak tidak langsung berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” jelas Guswanto.

(***)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending