Ini Statement Kadis Kesehatan Sulut tentang Obat PCC
Connect with us

Headline

Kadis Kesehatan Sulut: Obat PCC Sudah Ditarik dari Peredaran

Published

on

Kadis Kesehatan Sulut

KlikMANADO – Kadis Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo menegaskan, obat PCC yang membuat 53 anak dan remaja di Kendari mengalami halusinasi, sudah ditarik dari peredaran.

 

“Sudah ditarik dari peredaran. Tidak digunakan lagi. Obat ini sudah tidak dijual lagi,” ujar Kalalo kepada KlikNews, menanggapi kasus yang menghebohkan masyarakat, Kamis (14/9/2017).

 

Bahkan menurut dia, obat PCC sudah ditarik dari peredaran sejak tahun 2009 lalu. “Jadi tidak digunakan lagi. Kasus yang terjadi saat ini dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.

 

Dia pun mengimbau orang tua dan guru agar bisa mengontrol aktivitas anak anak. “Komunikasi dengan anak perlu rutin terjalin untuk dapat mendeteksi sedini mungkin gejala-gejala yang tak biasa. Kita semua bertanggung jawab untuk menyehatkan generasi masa depan. Mari torang baku beking sehat,” imbaunya.

 

Kadis Kesehatan Sulut ini menambahkan, obat PCC sebenarnya adalah obat penghilang nyeri dan relaksasi otot. Dia menegaskan, obat itu memang tidak bisa dikonsumsi oleh anak-anak. “Tapi sudah ditarik dari peredaran. Jadi tak digunakan lagi,” ungkapnya.

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, penyalahgunaan obat PCC mulai ramai di media sosial setelah beredar informasi bahwa puluhan anak dan remaja kehilangan kesadaran hingga berhalusinasi. Bahkan terinformasi tiga remaja meninggal dunia setelah menenggak obat yang dioplos bersama jenis obat lain.

 

Spesialis saraf RS Siloam Kebon Jeruk dr Frandy Susatia SpS, dikutip dari Viva, mengatakan bahwa obat ini berbentuk pil warna putih dengan merek dagang somadril compound.

 

Menurut dia, PCC adalah obat untuk mengatasi nyeri pada pinggang atau kejang otot. Meski demikian, obat PCC harus dikonsumsi sesuai dengan resep dokter.

 

“Kalau pemakaiannya overdosis bisa ada efek samping kerusakan hati terutama kalau dosisnya berlebih, pencernaannya, dosisnya tinggi bisa pendarahan hamil, kelainan kulit timbul ruam-ruam kulit seperti stephen johnson, lalu penurunan kesadaran karena ada pelemas otot dan tidak boleh diberikan ke ibu hamil,” ujarnya.

 

Dia menjelaskan, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, PCC bisa membuat efek mengantuk serta halusinasi. “Sudah enggak bisa beredar secara luas karena sangat ketat. Mereka sudah dioplos tidak pakai strip lagi. Sudah tiga-empat tahun susah, kalau pakainya kebanyakan bisa halusinasi, obat ini akan bereaksi setelah beberapa menit kurang lebih 30 menit langsung bereaksi,” paparnya.

 

(Ayi)

Advertisement

Trending