Jadi Makhluk Sosial Lewat Masker
Connect with us

Catatan Publik

Jadi Makhluk Sosial Lewat Masker

Published

on

Masker

MEMBAHAS upaya percepatan penanganan virus corona maupun Covid-19 yang menjadi akibat dari virus tersebut, memang cukup menarik.

Saya yakin, masih cukup banyak hal yang belum diketahui secara detail oleh masyarakat. Salah satunya adalah soal penggunaan masker. Mengapa kita harus menggunakan masker, khususnya saat berada di luar rumah?

Ya, memang sepintas pertanyaan ini terhitung sepele. Bahkan saking sepelenya, membuat banyak orang menganggap remeh dan akhirnya tidak menggunakannya.

Sejatinya, penggunaan masker pada masa pandemi Covid-19 ini adalah salah satu perwujudan dari manusia sebagai makhluk sosial.

Bahwa manusia tidak bisa hanya memikirkan kepentingannya sendiri maupun kelompoknya.

Dengan kata lain, menggunakan masker jangan hanya diartikan sebagai upaya melindungi diri sendiri saja, melainkan melindungi banyak orang.

Jika kita hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri atau kelompok, maka tentu saja masker tidak akan dinilai sebagai sesuatu yang sangat penting.

Yang akan terlintas di pikiran adalah, “apakah Saya atau kelompok Saya dalam kondisi sangat sehat?”. Jika dinilai cukup sehat, maka sudah pasti menggunakan masker bukan dijadikan sesuatu yang prioritas.

Bahkan akan muncul pemahaman bahwa Saya sehat, bukan penderita Covid-19. Sehingga tidak perlu menggunakannya.

Berbeda bagi orang berjiwa sosial. Mereka akan berpemahaman, maskerku melindungimu dan maskermu melindungiku.

Pemahaman ini ada karena virus corona tak tampak secara kasat mata. Orang yang telah tertular tak dapat diketahui pasti, sebelum melewati proses pemeriksaan kesehatan yang detail.

Sebagaimana pendapat para pakar dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), bahwa sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 tidak menunjukan gejala apapun, sehingga penyebaran virus jadi sulit dikendalikan.

Orang berjiwa sosial akan sangat berhati-hati, dan berusaha mencegah jangan sampai menjadi orang yang menularkan virus tersebut.

Dengan kata lain, orang berjiwa sosial akan terlebih dahulu menganggap dirinya bisa menjadi carrier virus. Makanya, mereka akan tetap setia menggunakan masker saat berada di luar rumah.

(*)

Penulis: Sahril Kadir, adalah warga Manado.

Advertisement

Trending