Istri Kedua Setnov Diperiksa KPK 6 Jam
Connect with us

Hukrim

Istri Kedua Setnov Diperiksa KPK 6 Jam

Published

on

KlikJAKARTA – Istri kedua Ketua DPR RI Setya Novanto, Deisti Astriani, diperiksa Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sudiharjo dalam kasus dugaan korupsi e-KTP di gedung KPK, Senin (20/11/2017) kemarin.

 

Deisti tiba di gedung KPK sekira pukul 10.00 WIB, dengan mengenakan baju kuning, berhijab krem, dengan dikawal empat orang. Tanpa memberikan keterangan ke sejumlah wartawan, Deisti langsung masuk ke gedung. Dia hanya sesekali menebar senyum tanpa memberi sepatah kata pun.

 

Saat keluar dari gedung KPK menuju mobil sekira pukul 18.00 WIB pun, dia pun tetap bungkam, meski harus berjalan menerobos kerumunan wartawan saat keluar dari gedung KPK menuju mobil pribadinya sekitar pukul 18.00 WIB.

 

Dikutip dari Tribunnews, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, penyidik mendalami kronologi kepemilikan perusahaan PT Mondialindo Graha Perdana dan PT Murakabi Sejahtera, dalam pemeriksaan tersebut.

 

“Saksi Deisti diperiksa untuk mendalami kronologi kepemilikan perusahaan Mondialindo dan Murakabi dan pihak-pihak yang memiliki saham di sana,” ujar Febri di gedung KPK, Jakarta Selatan.

 

Deisti diperiksa sebagai eks Komisaris PT Mondialindo Graha Perdana. Saham terbesar PT Mondialindo, berdasarkan bukti yang dimiliki KPK, dimiliki PT Murakabi Sejahtera, salah satu peserta lelang proyek e-KTP.

 

Bahkan, kedua perusahaan tersebut diketahui beralamat kantor sama, yakni di Lantai 27 Gedung Menara Imperium, Kuningan. Kantor tersebut dimiliki Setya Novanto sejak 1997 hingga 2014.

 

Bukan hanya Deisti, dua anak dan keponakan Novanto juga diketahui pernah memiliki saham, di PT Mondialindo maupun PT Murakabi Sejahtera.

 

“Ada histori tentang kepemilikan perusahaan, salah satunya Murakabi yang kami dalami lebih lanjut itu sejarah awalnya bagaimana dan nama saksi juga tercantum di dalam salah satu perusahaan lain dengan jabatan yang cukup tinggi dan kuat. Kami ingin melihat keterkaitan dari beberapa perusahaan, saham-sahamnya siapa yang memiliki dan proses distribusi atau perpindahan sahamnya juga menjadi perhatian bagi KPK,” kata Febri.

 

(Tim)

Advertisement

Trending