Rehab-Rekon Pascabencana 2014 Manado? Ini Jawaban Sutopo Purwo Nugroho
Connect with us

Headline

Rehab-Rekon Pascabencana Manado 2014 Belum Selesai? Ini Jawaban Sutopo Purwo Nugroho

Published

on

Sutopo Purwo Nugroho

KlikMANADO – Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana Manado 2014 hingga kini belum juga selesai. Apa penyebabnya? Ini jawaban Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

 

Dalam pemaparan materi Manajemen Bencana di Indonesia, dalam Forum Komunikasi Wartawan untuk Peningkatan Kapasitas Wartawan dalam Penanggulangan Bencana, dengan tema “Bersama Membangun Budaya Sadar Bencana” yang digelar BNPB di Hotel Mercure Manado, Senin (11/9/2017), Sutopo memberikan penjelasannya terkait persoalan itu.

 

Dia menjelaskan, belum selesainya program rehab-rekon pascabencana Manado 2014 disebabkan dua faktor utama, yaitu minimnya anggaran dan politik lokal.

 

“Politik lokal jadi persoalan yang membahayakan. Sebab seringkali pejabat kepala daerah diganti, disesuaikan dengan kepala daerah. Terkadang berganti kepala daerah, diganti pula Kepala BPBD. Padahal seharusnya, Kepala BPBD harus betul-betul paham tentang kebencanaan. Tidak bisa sembarangan,” jelasnya.

 

Dia menjelaskan, politik lokal seringkali menjadi persoalan yang bisa mengganggu jalannya manajemen bencana. Makanya, dia berharap pemerintah daerah bisa mengedepankan dan memprioritaskan bencana sebagai acuan dalam pembangunan daerah.

 

Adapun terkait anggaran, lanjut dia, pemda masih menjadikan bencana sebagai prioritas. “Pada umumnya, bencana belum dijadikan prioritas, sehingga anggaran daerah yang tertuang dalam APBD masih sedikit,” ujarnya.

 

“Indikasi bahwa bencana jadi prioritas daerah adalah 1% dari APBD. Padahal hingga saat ini tren bencana semakin tinggi,” sambungnya.

 

Dia menambahkan, khusus di Manado, anggaran yang digunakan pascabencana lebih banyak mengarah ke program rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga yang rusak.

 

Dia pun berharap, media bisa mengambil peran dalam persoalan itu. Sebab, media berada di posisi diantara pemerintah, masyarakat dan korban bencana.

 

“Media mempunyai peran mempengaruhi keputusan politik, mengubah perilaku, dan menyelamatkan nyawa manusia. Media dapat menunjukkan eksistensi, pencitraan, dan simbol organisasi terhadap masyarakat terkait tugas kemanusiaan dalam penanggulangan bencana,” terangnya.

 

Untuk diketahui, BNPB menggelar Forum Komunikasi Wartawan untuk Peningkatan Kapasitas Wartawan dalam Penanggulangan Bencana, dengan tema “Bersama Membangun Budaya Sadar Bencana” sejak Senin (11/9/2017) hingga Rabu (13/9/2017).

 

Direncanakan, selain menerima materi dalam ruangan, wartawan dari berbagai  media bakal mendapatkan pelatihan kebencanaan di luar ruangan, seperti pembangunan tenda darurat, dapur umum, dan lain sebagainya.

(Ayi)

Advertisement

Trending