Poluakan: Ini Indikasi Malpraktik Proses Pendidikan di UKIT
Connect with us

Sulut

Poluakan: Ini Indikasi Malpraktik Proses Pendidikan di UKIT

Published

on

Malpraktik

KlikTOMOHON – Laporan yang dilayangkan Meity Ritha Poluakan ke Polda Sulut terkait dugaan malpraktik proses pendidikan pascasarjana di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), bukan tanpa sebab.

 

Kepada sejumlah wartawan, Poluakan menyebut beberapa indikasi malpraktik itu.

 

1. Ujian tesis dilaksanakan tanpa SK Rektor selama tiga hari berturut-turut, yaitu pada tanggal 16, 17, 18 Maret 2016. Wisuda langsung dilaksanakan tanpa proses perbaikan tesis, sehari setelah ujian, yaitu tanggal 19 Maret 2016, juga tanpa SK Rektor dan pelaksanaannya bukan dalam bentuk rapat senat terbuka melainkan hanya upacara wisuda.

 

2. Proses ujian tesis tidak memenuhi syarat, yaitu satu orang dosen menguji lima orang mahasiswa sekaligus. Ijazah Magister keluar sekira satu bulan setelah ujian.

 

Walaupun tetap menggunakan logo UKIT, tapi tidak ditandatangani oleh Rektor. Ijazah hanya ditandasahkan oleh Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Dr Oditha R Hutabarat, MTh dan Direktur Program Pascasarjana Dr AO Supit.

 

3. Walaupun sudah memegang Ijazah Magister, status di PDPT masih sebagai mahasiswa aktif.

 

“Dalam keprihatinan mendalam saya harus katakan bahwa UKIT juga sebagai salah satu Universitas kebanggaan kami masyarakat Sulut terancam ditutup, yang pasti dampaknya akan dirasakan oleh ribuan mahasiswa yang sementara menuntut Ilmu di UKIT,” imbuh Poluakan.

 

Sebagai almamater UKIT, dia mengaku sudah menyurat ke Presiden Jokowi dan menjelaskan bahwa kisruh persoalan UKIT sebenarnya bermuara di Program Pascasarjana. Malpraktik proses pendidikan di Program Pascasarjana sebagaimana yang dialaminya dan telah berlangsung selama bertahun-tahun ketika UKIT dipimpin oleh rektor sebelumnya.

 

“Saya berharap agar proses laporan saya di Polda Sulut tentang mal-proses pendidikan yang terjadi di Program Pascasarjana UKIT boleh mendapat pengawasan sehingga Program Pascasarjana UKIT boleh ditertibkan sesuai Undang-Undang dan Peraturan Pendidikan yang berlaku di Indonesia,” tandasnya.

 

Sebagaimana dijelaskan Poluakan, sebelum kuliah dirinya adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang bekerja sebagai pedagang di pasar. Karena kerinduan untuk mengembangkan diri di bidang Teologi Kristen, dirinya mengawali kuliah S1 Teologi pada umur 39 tahun di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) dan lulus pada tahun 2014.

 

Selanjutnya, dia langsung melanjutkan kuliah pascasarjana. Untuk membiayai kuliah S2 yang cukup mahal itu, dia kemudian menjual lapak dagangannya dengan harapan selepas kuliah dapat segera bekerja sebagai dosen.

 

Namun sayangnya, persoalan berat muncul sekitar April 2016. Saat itu, dia menerima ijazah Magister. Tapi lagi-lagi dia mendapati bahwa ternyata ijazah tersebut dianggap ilegal karena tidak terdaftar di PDPT dan tidak ditandatangani oleh Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon, dimana dirinya kuliah.

 

Padahal, dirinya sudah diterima untuk mengajar sebagai dosen di STT Transformasi Indonesia di Manado.

 

(Tim)

Advertisement

Trending