Gempa Berurutan di "Ring of Fire" Harus Segera Dianalisis
Connect with us

Headline

Gempa di Jalur “Ring of Fire” Harus Segera Dianalisis

Published

on

Ring of Fire

KlikMANADO – Serangkaian gempa besar dalam waktu kurang dari 24 jam harus segera dianalisis. Pasalnya, pusat gempa yang terjadi di Selandia Baru, Jepang, Vanuatu, dan Indonesia pada Kamis (21/9/2017) dinihari, berada di sepanjang “Ring of Fire”.

 

Sebagaimana diketahui, “Ring of Fire” membentang di sekitar Pasifik mulai dari Selandia Baru melalui Indonesia, Jepang, dan California hingga ke Cili. Gempa yang terjadi di sejumlah wilayah mulai Rabu (20/9/2017) hingga Kamis (21/9/2017), 90 persen diantaranya terjadi di titik-titik itu.

 

Dikutip dari buzznews, gempa bumi di Selandia Baru, Jepang, Vanuatu, Indonesia, Tonga, Taiwan, dan Papua Nugini selama 24 jam terakhir dapat disebabkan oleh gelombang seismik yang melintasi garis patahan.

 

Seismolog mengakui adanya cluster gempa, bersama dengan yang lainnya di dekat Tonga (5 SR), Taiwan (5,3 SR), dan Papua Nugini (5,2 SR), pada hari yang sama adalah ‘tidak biasa’.

 

“Tidak biasa. Tidak ada keraguan tentang itu, ini benar-benar sibuk,” ujar Dr Gibson kepada Daily Mail Australia.

 

“Saya harus mengatakan bahwa kelompok yang tidak biasa ini sering terjadi dan sepertinya tidak acak sama sekali, kita tidak tahu mengapa,” sambungnya.

 

Phil Cummins di Geoscience Australia dan Australian National University berpendapat bahwa gelombang seismik yang mengalir di sepanjang garis patahan bisa menjadi penyebab gempa di beberapa daerah tersebut.

 

Dia mengatakan bahwa gelombang juga bisa melompat diantara garis patahan terdekat dan terus bergerak, sehingga memicu gempa yang akan terjadi pada titik-titik pecah.

 

“Gelombang yang sangat digemari oleh gempa bumi mungkin menggetarkan atau mengganggu beberapa kesalahan yang jauh yang sudah hampir pecah,” katanya.

 

Profesor Cummins mengatakan bahwa gelombang seismik tidak bisa memunculkan gempa bumi secara sendiri, tapi bisa membuka informasi tentang gempa yang akan segera terjadi. “Ini adalah gempa yang hampir pasti akan terjadi segera,” katanya.

 

Seperti Mr Gibson, Cummins mengatakan, gempa tampaknya terjadi secara berkelompok dan tepat waktu. Namun dia berpendapat, ada penjelasan teoritis yang mapan untuk menjawab soal itu.

 

Profesor Cummins juga tidak bisa membantah adanya mekanisme yang sama, sehingga dapat memicu gempa bumi lain yang signifikan dalam beberapa jam atau hari mendatang.

 

Meski demikian, kedua ilmuwan tersebut mengabaikan kaitan apapun dengan gempa di Meksiko, yang menewaskan lebih dari 230 orang. Mereka menilai jaraknya terlalu jauh.

 

Gibson mengatakan bahwa gempa pertama di Meksiko secara teori telah memicu gempa yang lain dengan menciptakan medan stres. Namun hal itu bisa terjadi dengan catatan, harus berada paling jauh 200km.

 

Adapun Dr Christopher Pluhar, seorang profesor Geologi di Fresno State, mengatakan bahwa kemungkinan gempa yang kuat akan terjadi di California dalam 30 tahun ke depan sekitar 60 persen.

 

(Tim)

Advertisement

Trending