Torotakan, Film Puisi Karya Putra Sulawesi Utara
Connect with us

Humaniora

Torotakan, Film Puisi Karya Putra Sulawesi Utara

Published

on

Film Puisi

KlikMANADO – Sulawesi Utara patut berbangga. Meski disebut-sebut kurang mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah, seniman dan sastrawan daerah ini terus berkarya. Bahkan kini telah melahirkan sebuah film puisi.

 

Film puisi yang diberi judul ‘Torotakan’, bisa disaksikan lewat youtube. Film pendek berdurasi 2 menit 54 detik itu cukup menarik, karena syair puisi dibaca dengan diiringi gambar bercerita. Apalagi, film singkat ini menceritakan kondisi riil tanah Torotakan.

 

 

Pencipta puisi Torotakan, Jamal Rahman menceritakan proses pembuatan film ini. “Awalnya saya selaku penyair atau penulis puisi diajak berkolaborasi oleh teman-teman peminat Digital Imaging (DI),” ujarnya, Jumat (3/11/2017).

 

Dia mengaku, saat itu diminta menuliskan puisi tentang sebuah tema. “Kemudian teman-teman DI mengolah beberapa foto, digabungkan dengan teknik desain grafis, kemudian kita melahirkan sebuah karya baru, yaitu paduan dari puisi dan karya olah digital fotografi,” tuturnya.

 

Ide ini, lanjut dia, berkembang menjadi kolaborasi puisi dan video. “Kemudian saya menyimpulkan, bahwa yang kami buat ini, berbeda dengan film adaptasi dari puisi, Cerpen.atau novel,” ungkapnya.

 

“Ini juga berbeda dengan pembuatan video klip musik. Ini juga bukan video ilustrasi. Ciri khas karya ini adalah, puisi ditampilkan secara utuh, dan visual videonya, dalam bentuk film, yang memiliki alur dan konflik,” sambungnya.

 

Dia menuturkan, pembuatan film ini terhitung relatif. “Sesuai pengalaman kami memproduksi sekitar 10 karya eksperimen kami, ada yang diproduksi tidak sampai satu jam, tapi ada juga yang sampai 5 hari atau seminggu. Padahal durasi filmnya hanya berkisar 1 sampai 3 menit,” katanya.

 

Dia pun berharap, para seniman bisa terus bereksperimen. “Saya berharap, para seniman peminat puisi dan peminat film bisa terus bereksperimen dengan Film Puisi, hingga kelak bisa saja Film Puisi menjadi formula alternatif dalam dunia film, sekaligus dunia apresiasi sastra,” tandasnya.

 

(Jakaz)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending