FGD KPU : Partisipasi Pemilih Minut Pilkada 2020 8.1 Persen, Lampaui Target 7.7
Connect with us

Minut

FGD KPU : Partisipasi Pemilih Minut Pilkada 2020 8.1 Persen, Lampaui Target 7.7

Published

on

Pemateri FGD panelis, Ketua PWI Sulut Voke Lontaan, Ketua AJI Yinthze Gunde, Ketua IJTI Amanda Komaling, Pemerhati Media Senior Jurnalis Reymond ‘Kex Mudami, Ketua Bawaslu Minut Simon Awuy, Ketua KPU Minut Hendra Lumanauw dan Komisiner KPU Bidang Logistik Dikson Dalope

KlikMINUT – “Tingkat partisipasi pemilih Minut pada Pilkada di Minut mencapai 81 persen dari target 7.7 persen yang merupakan salah satu tertinggi untuk kabupaten kota penyelenggara Pilkada di Indonesia. Hal ini menunjukan warga Minut telah melek demokrasi,” terang Ketua KPU Minut Hendra Lumanau MA. Selain itu, Lumanauw mengungkapkan, untuk logistic pilkada pada pelaksanaan Pilkada 2020 tersalur sesuai mekanisme tepat waku, tepat jumlah dan tepat tujuan.

Hal tersebut diungkapkannya pada Focus Group Discussion(FGD) yang digelar KPU Minut bersama pers liputan Biro Minut Kamis , (11/03/2021) di Grand Kawanua Hotel Novotel Kota Manado.

Dalam FGD yang diikuti sekira 50-an wartawan Biro Minut  dipandu oleh Moderator Grace Wakary ini menghadirkan para pemateri yang kompeten dibidangnya, yang terdiri dari Ketua Bawaslu Minut Simon Awuy SH, Komisioner KPU Minut Bidang Logistik Dikson Dalope, , Ketua PWI Sulut Vocke Lontaan, Ketua AJI Yinthze Gunde, Ketua IJTI Amanda Komaling dan Pemerhati Media Senior Jurnalis Reymond ‘Kex’ Mudami.

Ketua PWI Vocke Lontaan  mengangkat kondisi para pekerja pers atau wartawan saat berlangsungnya Pilkada dan pasca pilkada.

“Seyogyanya wartawan yang menjadi tim sukses salah satu peserta pilkada untuk mengundurkan diri dari kegiatan peliputan dan penulisan berita untuk menjaga netralitas dalam pemberitaan. Sekaligus juga menghindari “pengkotak-kotakan” yang sering terjadi pasca Pilkada, sehingga wartawan bisa melakukan tugasnya dengan baik,” tukas Lontaan yang mengajak para jurnalis Minut untuk bekerja dengan mengedepankan 11 pasal Kode Etik Jurnalistik (KEJ)

Lontaan-pun menyoroti pengkotak-kotakan jurnalis liputan biro yang sering terjadi saat melakukan liputan ada masa pilkada, tapi hal ini tidak perlu dikuatirkan, karena pekerjaan pemberitaan sangat tergantung pada wartawan yang bersangkutan dalam membangun jaringan serta relasi dengan sumber berita.

Sedangkan Reymond “Kex” Mudami mengangkat materi partisipasi pemilih di bumi Tonsea dipandang dari budaya setempat.

Sementara itu, kesempatan yang sama Ketua AJI Yinthze Gunde, Ketua IJTI Amanda Komaling berbagi pengalaman terkait pekerjaan jurnalisme saat Pilkada dan di tengah pandemic Covid-19.

“Pemberitaan harus dipilah antara informasi humas(berbayar) dengan karya jurnalistik yang menempuh langkah-langkah KEJ,” jelas Wartawan Metro TV Amanda Komaling.

FGD ini berlangsung cukup menarik, meskipun moderator secara ketat membatasi waktu setiap pembicara 15 dan penanya dua menit saja. (Rubby Worek)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Trending