Mengintip Fashion Style Mahasiswa Teknik Unsrat
Connect with us

Humaniora

Mengintip Fashion Style Mahasiswa Teknik Unsrat

Published

on

Mahasiswa Teknik

KlikMANADO – Mahasiswa pada setiap fakultas di universitas memiliki ciri khas masing-masing. Mulai dari warna official, cara belajar, hingga cara berpakaian. Ciri khas itu membuat orang-orang dapat mengenal dan menebak asal fakultas seorang mahasiswa.

 

Pun dengan Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat). Fakultas yang dijuluki Kampus Biru ini dinilai berbeda dengan fakultas lainnya. Fakultas ini disebut sangat menjunjung tinggi persaudaraan, kebersamaan, dan senioritas yang sudah diterapkan bertahun-tahun.

 

Bahkan, dress-code tetap mengacu ‘adat istiadat’ yang seakan telah menjadi doktrin mahasiswanya. Kalau fakultas lain sehari-harinya memakai kemeja, mahasiswa Teknik gemar memakai kaos oblong berwarna gelap, dipadu kemeja berwarna gelap, yang pada umumnya kemeja angkatan atau ormawaa, celana jeans robek-robek, baik laki-laki maupun perempuan, sneakers, dan rambut gondrong bagi laki-laki.

 

Saat memasuki area Fatek Unsrat, lebih dikenal dengan Letter U, sangat jarang terlihat mahasiswa Teknik memakai atasan yang berwarna cerah. Tapi putih dan merah adalah warna cerah yang sering ditemukan.

 

Sebenarnya, fakultas telah mengeluarkan peraturan mengenai cara berpakaian yang sopan dan rapi. Peraturan itu pun sudah ditempel di ruang-ruang dosen, kantor kemahasiswaan, dan kantor-kantor yang ada di Fakultas Teknik Unsrat.

 

Isi peraturan tersebut adalah mahasiswa tidak diperkenankan mengenakan kaos oblong, celana robek-robek, dan sendal. Namun pada kenyataannya, masih ada saja mahasiswa yang tidak mengindahkan peraturan ini.

 

Ada juga beberapa dosen yang mengharuskan mahasiswanya memakai pakaian sopan dan rapi ketika mata kuliah berlangsung.

 

Lalu bagaimana dengan rambut gondrong? Apakah rambut gondrong menjadi identitas mahasiswa Teknik? Kebanyakan mahasiswa Teknik terutama laki-laki, menganggap rambut gondrong adalah seni. “Rambut gondrong itu seni. Seni merawat rambut.” ujar Eka Pamekas, mahasiswa semester tujuh Program Studi S1-Perencanaan Wilayah dan Kota Unsrat.

 

Pada masa-masa permulaan menjadi mahasiswa Teknik, hampir semua akan mengalami culture shock setelah melihat senior-senior berambut gondrong. Tapi lama-kelamaan, mereka dapat beradaptasi dan mulai menyukai sampai meniru gaya rambut tersebut.

 

Di kalangan perempuan, terdapat pro dan kontra mengenai gaya rambut ini. Enam dari sepuluh mahasiswa perempuan menyukai gaya rambut gondrong karena unik.

 

Bagi mahasiswa Teknik, gaya rambut ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari, namun bagi mahasiswa fakultas lain tanggapannya beda.

 

Ada yang mengaku takut saat melihat mahasiswa berambut gondrong dan wajah sangar. Padahal, banyak juga mahasiswa rambut gondrong yang pembawaannya berubah menjadi cadas.

 

Makanya, ada pepatah yang mengatakan ‘Don’t judge the book by its cover’. Artinya, jangan menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja.

 

Nah, bagi mahasiswa perempuan, ada satu masalah yang belum terpecahkan sampai saat ini. Yaitu fashion style. Mereka seolah ‘dipaksa’ untuk berubah karena pengaruh lingkungan perkuliahan.

 

Tidak semua mahasiswa perempuan yang masuk di Teknik memiliki gaya yang tomboyish. Beberapa dari mereka pernah memakai sesuatu di luar konteks berpakaian anak Teknik saat berada di kampus.

 

Dampaknya, mereka merasakan judgement yang tinggi karena style berbeda itu. Gloria Mononimbar misalnya, mahasiswa tahun keempat Arsitektur ini pernah mengalami hal tersebut ketika masih berstatus mahasiswa baru.

 

Glo, sapaan akrab Gloria, datang ke kampus memakai rok dan langsung dicap bukan mahasiswa Fakultas Teknik oleh senior-senior. Alhasil, sampai sekarang Glo tidak pernah memakai rok lagi ke kampus.

 

Logikanya, setiap orang mempunyai style sendiri. Mungkin tidak setomboy atau sesangar mahasiswa lain, tetapi dapat menonjolkan karisma seorang anak Teknik.

 

(Ana)

Advertisement

Trending