Connect with us

Headline

Viral, Ini Fakta di Balik Duel Gladiator Romawi Kuno

Published

on

Duel Gladiator

KlikMANADO – Duel gladiator kini viral di media sosial, pascaterbongkarnya kasus kematian seorang siswa berusia 15 tahun akibat dipaksa ikut bertarung dalam pertarungan berbahaya itu, di Bogor, sekira dua tahun lalu.

 

Polisi pun berhasil meringkus empat orang yang diduga terlibat dalam kematian siswa yang bernama Hilarius Christian Event Raharjo. Sebenarnya kematian Hilarius terjadi pada 29 Januari 2016, setelah dipaksa mengikuti duel ala gladiator itu.

 

Dijelaskan sang bunda, Maria Agnes, melalui akun facebooknya, putranya disiksa saat sudah sekarat. Tubuh Hilarius diinjak dan terus dipukul saat berusaha bangun. Pertarungan itu sendiri, disebutnya, disaksikan sekira 50 pelajar dari dua sekolah berbeda di Bogor.

 

Memang, duel gladiator lebih dikenal masyarakat sebagai pertarungan hidup mati. Tapi tahukah pembaca, bagaimana sebenarnya duel tersebut? Bagaimana sejarahnya? Dan fakta menarik lainnya tentang pertarungan yang dikenal berasal dari era Romawi Kuno? Berikut penelusuran KlikNews.

 

1. Tak Semuanya Tentang Pertarungan Hidup Mati

Dikutip dari history, sejak difilmkan, duel gladiator Romawi digambarkan sebagai duel brutal yang dikatakan selesai saat salah satu petarung mati dibunuh oleh petarung lainnya.

 

Kenyataannya, gladiator tidak selamanya bertarung sampai mati. Atlet gladiator ternyata merupakan para profesional yang terlatih untuk melakukan pertempuran. Untuk melatih mereka, dibutuhkan persiapan dan latihan keras.

 

History mengungkap bahwa membunuh lawan tarung akan menjadi keputusan bisnis yang buruk bagi lanista sebagai pemilik dan pelatih mereka. Secara umum, pertarungan gladiator hanya harus memiliki hasil bahwa salah satu kontestan terluka atau menyerah.

 

2. Duel Gladiator adalah Bagian dari Upacara Pemakaman

Sebagian sejarawan berpendapat, duel gladiator awalnya merupakan bagian dari upacara pemakaman bangsawan kaya raya.

 

Saat bangsawan terkemuka meninggal, keluarga akan mengadakan pertarungan antara budak atau tahanan yang dinilai telah dikutuk. Penulis Romawi Tertullian dan Festus berpendapat, orang Romawi percaya bahwa darah manusia bisa membantu memurnikan jiwa orang yang telah meninggal dunia.

 

Pertandingan tersebut selanjutnya berkembang pada masa pemerintahan Julius Caesar. Saat itu, dia membuka pertarungan ratusan gladiator untuk menghormati almarhum ayah dan puteranya.

 

Akhirnya, duel ini jadi sangat populer, dan pada akhir abad ke-1 SM, pejabat pemerintah mulai mendanainya dan menggelarnya, sebagai upaya menyenangkan masyarakat.

 

3. Diatur Dalam Beberapa Kelas

Pertarungan di era Romawi kuno diatur dalam kelas dan jenis yang berbeda. Permainan gladiator telah berevolusi dari pertarungan bebas menjadi olahraga darah yang terorganisir dengan baik.

 

Petarung disesuaikan di kelas berdasarkan catatan, tingkat keterampilan dan pengalaman mereka, dan paling khusus dalam gaya bertarung tertentu dan serangkaian persenjataan.

 

4. Wanita juga berjuang sebagai gladiator

Budak perempuan dikecam untuk ikut arena. Namun, ternyata ada juga perempuan yang menjadi petarung. Sejarawan tidak yakin kapan wanita pertama kali menjadi gladiator.

 

Pejuang wanita ini mungkin tidak dianggap serius dalam budaya Romawi patriarkal – Kaisar Domitian menikmati wanita pitting melawan kurcaci – namun beberapa diantaranya tampaknya telah membuktikan dirinya dalam pertarungan tunggal.

 

5. Gladiator Jadi Selebriti dan Simbol Kehebatan

Meskipun sering dicap sebagai orang-orang brutal yang tidak beradab oleh sejarawan Romawi, gladiator ternyata mampu mendapatkan ketenaran besar di kalangan kelas bawah.

 

Wajah mereka menghiasi dinding banyak tempat umum. Anak-anak bermain dengan tokoh aksi gladiator yang terbuat dari tanah liat. Ketenaran itu mampu membuat wanita Romawi pingsan.

 

Bahkan, Graffiti dari Pompeii menggambarkan seorang pejuang yang “menangkap gadis-gadis itu di malam hari di jaringnya” dan yang lainnya adalah “kegembiraan para gadis.”

 

(Tim)

Headline

Update Peta Risiko Covid-19 di Sulut Per 24 Januari 2021

Published

on

Update Peta Risiko
Peta Risiko Covid-19 Terbaru. (Sumber Foto: GTN)

KlikSULUT – Gugus Tugas Nasional Covid-19 kembali mengumumkan update perkembangan terbaru peta risiko Covid-19 secara Nasional.

Sebagaimana dirilis dalam website resmi Gugus Tugas Nasional Covid-19, khusus Sulawesi Utara ada empat kabupaten dan kota yang berkutat pada zona merah. Sisanya ada pada zona oranye.

Berikut update daftar kabupaten dan kota di Sulut berdasarkan zonasi risiko Covid-19 per 24 Januari 2021:

Bolaang Mongondow tetap zona oranye

Minahasa dari zona merah jadi zona oranye

Kepulauan Sangihe tetap zona oranye

Kepulauan Talaud tetap zona oranye

Minahasa Selatan tetap zona merah

Minahasa Utara tetap zona merah

Minahasa Tenggara dari zona merah jadi zona oranye

Bolaang Mongondow Utara tetap zona oranye

Kepulauan Sitaro tetap pada zona oranye

Bolaang Mongondow Timur tetap zona oranye

Bolaang Mongondow Selatan tetap zona oranye

Manado tetap zona merah

Bitung tetap zona oranye

Tomohon dari zona merah jadi zona oranye

Kotamobagu tetap zona merah

(***)

Continue Reading

Headline

Update Peta Risiko Covid-19: 7 Daerah di Sulut Zona Merah

Published

on

Konfirmasi Positif Covid-19
Ilustrasi. (Sumber Foto: Dok KlikNews)

KlikJAKARTA – Gugus Tugas Nasional kembali meng-update peta risiko Covid-19 per 17 Januari 2021.

Dari update tersebut diketahui ada 108 kabupaten dan kota berstatus zona merah, 347 zona oranye, 45 zona kuning, dan 14 kabupaten dan kota tidak terdampak atau tak ada kasus baru.

Untuk Sulawesi Utara, peta risiko kembali berubah. Jika sebelumnya hanya ada tiga daerah zona merah, per 17 Januari 2021 ini bertambah empat daerah. Sehingga total ada tujuh kabupaten dan kota yang berstatus risiko tinggi atau zona merah.

Berikut daftar kabupaten dan kota di Sulut berdasarkan zonasi risiko Covid-19 per 17 Januari 2021:

Bolaang Mongondow tetap zona oranye

Minahasa dari zona oranye naik jadi zona merah

Kepulauan Sangihe tetap zona oranye

Kepulauan Talaud tetap zona oranye

Minahasa Selatan tetap zona merah

Minahasa Utara tetap zona merah

Minahasa Tenggara dari zona oranye naik jadi zona merah

Bolaang Mongondow Utara tetap zona oranye

Kepulauan Sitaro tetap pada zona oranye

Bolaang Mongondow Timur tetap zona oranye

Bolaang Mongondow Selatan tetap zona oranye

Manado tetap zona merah

Bitung tetap zona oranye

Tomohon dari zona oranye naik jadi zona merah

Kotamobagu dari zona oranye naik jadi zona merah

(***)

Continue Reading

Headline

BMKG Jelaskan Penyebab Banjir di Pesisir Pantai Manado

Published

on

Kondisi salah satu wilayah pesisir pascakejadian hantaman air laut. (Sumber Foto: Istimewa)

KlikMANADO – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab banjir di wilayah pesisir Pantai Manado, yang terjadi pada Minggu (17/1/2021).

Menurut Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo, peristiwa tersebut merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Indonesia.

“Peristiwa naiknya air laut yang menyebabkan banjir terjadi di Pesisir Manado kemarin merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Indonesia. Jadi masyarakat tidak perlu panik dan tidak perlu mengungsi, tapi tetap waspada dan terus memantau serta memperhatikan update informasi cuaca terkini dari BMKG,” kata Eko, Senin (18/1/2021).

Eko menjelaskan, peristiwa tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Antara lain angin kencang berkecepatan maksimum 25 Knot yang berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di Laut Sulawesi, Perairan utara Sulawesi Utara, Perairan Kepulauan Sangihe-Kepulauan Talaud dan Laut Maluku bagian utara dengan ketinggian gelombang mencapai 2,5 – 4,0 meter.

“Bersamaan dengan itu juga adanya pengaruh kondisi pasang air laut maksimum di wilayah Manado yang menunjukkan peningkatan pasang maksimum harian setinggi 170-190 cm dari rata-rata tinggi muka air laut (Mean Sea Level/MSL) pada pukul 20.00-21.00 Wita,” ungkapnya.

Berdasarkan analisis gelombang diketahui, arah gelombang tegak lurus dengan garis pantai sehingga dapat memicu naiknya air ke wilayah pesisir.

“Akumulasi kondisi di atas yaitu gelombang tinggi, angin kencang di pesisir dan fase pasang air laut maksimum yang menyebabkan terjadi kenaikan air laut sehingga mengakibatkan banjir yang terjadi di Manado,” jelasnya.

Lanjut dia, beberapa hari terakhir wilayah Sulawesi Utara dilanda hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan. “Fenomena cuaca tersebut sebenarnya merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi terutama pada saat puncak musim hujan seperti saat ini,” terangnya.

“Karena itu kami mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir selalu mewaspadai ancaman bahaya pesisir ketika fase pasang air laut berbarengan dengan gelombang tinggi,” tambah Eko.

Masyarakat juga diharapkan mengambil langkah antispatif terhadap potensi masuknya air laut ke daratan pada saat fase pasang air laut yang bersamaan dengan gelombang tinggi dan angin kencang.

“Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk terus memperhatikan informasi cuaca terkini dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Bitung dan mengikuti arahan dari BNPB atau BPBD setempat,” pungkasnya.

(Sahril Kadir)

Continue Reading
Advertisement

Trending