Dr Yondry, Putra Sulut yang Bertugas di Ujung Papua
Connect with us

Humaniora

Dr Yondry, Putra Sulut yang Bertugas di Ujung Papua

Published

on

Dr Yandry

KlikMANADO – Menjadi dokter di daerah terpencil di ujung Papua bukan pekerjaan mudah. Hal itulah yang dialami dr Yondry Sembel Kukus.

 

Sejak ditempatkan di wilayah Papua, pria kelahiran Manado 12 Juli 1982 ini, sudah banyak mendapatkan kisah suka dan duka. Berikut ungkapan hatinya.

 

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi angkatan tahun 2000 ini langsung membuka pertanyaan KlikNews dengan kalimat, “Bukan cuma berat. Nyawa jadi taruhan.

 

Dia menuturkan, kariernya diawali dengan menjadi dokter pada program pegawai Tidak Tetap (PTT) daerah di akhir tahun 2010. “Mengikuti tes CPNS daerah tahun 2013, dan mendapatkan SK CPNS pada September tahun 2015,” ungkapnya.

 

Saat ini, dr Yondry menjabat Kepala Puskesmas Jalan Aplim Distrik Dekai Kabupaten Yahukimo-Papua. Banyak suka dan duka yang dirasakannya selama bertugas di daerah tersebut.

 

“Bisa mendapatkan pengalaman menyenangkan bersama-sama masyarakat, baik dalam hal pergaulan, adat istiadat, dan budaya mereka, terlebih di daerah pedalaman yang medannya sangat sulit dijangkau oleh transportasi darat,” katanya, Sabtu (16/12/2017).

 

“Harus melalui udara melalui pesawat-pesawat kecil seri ATR dan sampai sekarang saya merasakan kedekatan hubungan batin dengan masyarakat kabupaten Yahukimo, dan mereka merespons hubungan baik saya terhadap mereka dengan menggunakan komunikasi bahasa masing-masing suku mereka, sehingga saya sampai sekarang memahami dan mengetahui bahasa mereka dari berbagai suku di kabupaten Yahukimo-Papua,” ujar lulusan SMU Negeri 9 Manado, tahun 1997 ini.

 

Pengetahuan bahasa berbagai suku itu diperolehnya berkat pergaulan yang baik dengan para kepala-kepala suku serta masyarakat masing-masing suku yang ada di Kabupaten Yahukimo.

 

Rata-rata, lanjut dia, masyarakat di wilayah itu menderita penyakit Malaria. “Dan rata-rata pasien meninggal karena Malaria berat. Daerah kami merupakan daerah endemis Malaria sehingga kasus malaria paling tinggi diikuti penyakit ISPA, Gastritis, penyakit kulit atau masyarakat Papua sering menyebutnya ‘kaskado’.

 

Dia pun mengaku sempat mengalami peristiwa menegangkan. “Pernah saat mengunjungi pasien sakit, ternyata pas ada perang suku masyarakat. Tapi kita aman-aman saja karena masyarakat banyak kenal,” tandasnya.

baca juga Selain Malaria, Difteria Juga Harus Diwaspadai

 

(Dirus)

Advertisement

Trending