Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Peningkatan Angka Pengangguran di Indonesia

Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Peningkatan Angka Pengangguran di Indonesia
Penulis: Elena Salindeho dan Ezra Sumual

SAAT ini terdapat nama baru yang menimbulkan ketakutan di seluruh dunia. Yaitu penyakit Coronavirus (COVID-19). Wabah COVID-19 dipicu pada Desember 2019 di Kota Wuhan, yang berada di Provinsi Hubei, Cina. Virus ini terus menyebar ke seluruh dunia.

Meskipun episentrum wabah awalnya adalah Cina, dengan kasus yang dilaporkan baik di Cina atau dalam perjalanan dari Negara tersebut, kasus sekarang sedang dilaporkan di banyak negara lain. Sementara beberapa Negara telah mampu menangani kasus yang dilaporkan secara efektif, tidak pasti di mana dan kapan kasus baru akan muncul.

Di tengah risiko kesehatan masyarakat yang signifikan, yang ditimbulkan COVID-19 kepada dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional untuk mengoordinasikan tanggapan internasional terhadap penyakit tersebut.

Virus ini tidak hanya menyebabkan tingginya angka kematian di seluruh dunia tetapi juga menyebabkan kemerosotan ekonomi yang perlahan-lahan “membunuh” negara-negara di seluruh dunia. Wabah virus corona telah menyebabkan penderitaan pada manusia dengan gangguan ekonomi yang berasal dari Cina dan menyebar seperti secara cepat ke seluruh dunia. Hal ini menyebabkan penurunan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global menjadi 2,4% pada tahun 2020 yang sebelumnya 2,9% pada tahun 2019.

Tidak hanya dunia, Indonesia sendiri banyak mengalami gangguan ekonomi. Indonesia adalah Negara berpenduduk padat dengan lebih dari 267,7juta orang penduduk. Itulah sebabnya pandemi ini sangat menakutkan bagi masyarakat Indonesia.

Tingkat pengangguran meningkat, karena banyak yang dirumahkan atau Work From Home (WFH).  Banyak sekali perusahaan yang menutup usahanya untuk mencegah penularan pandemi masyarakat ini serta banyak pabrik, toko, dan UMKM lainnya terpaksa menutup usaha mereka karena adanya pandemic ini. Hal ini menyebabkan kerugian jutaan dolar dari sektor ekonomi.

Baca Juga :  (Video) 39 Kapal Ikan Terbakar di Bali

Salah satu penyebab mengapa virus corona mudah menyebar di Indonesia adalah karena Indonesia merupakan Negara dengan Sektor Pariwisata yang cukup luas. Itu juga salah satu penyebab mengapa perekonomian di Indonesia menurun.

Dengan ditutupnya sektor pariwisata yang ada, maka pendapatan tidak lagi dihasilkan. Yang kita ketahui bersama bahwa dari sektor pariwisata bias memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sehingga mengurangi penggangguran. Namun, apa boleh di kata semua itu sia-sia sekarang.

Pemerintah melakukan banyak hal bagi masyarakat. Pemerintah Republik Indonesia saat ini sudah banyak sekali melakukan langkah dan upaya penanganan COVID-19 baik dari sektor ekonomi, sektor kesehatan, sektor social dan berbagai sektor lainnya. Dengan adanya dana bantuan dari pemerintah maka dapat membantu masyarakat khususnya para pekerja yang dirumahkan.

Banyak bantuan atau hal-hal yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam penanganan COVID-19 ini. Seperti memberikan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Prakerja, Dana Desa, dan bantuan-bantuan dari pemerintah lainnya.

Penyebaran virus corona yang luas dan cepat membuat pemerintah bereaksi dengan membatasi mobilitas dan interaksi masyarakat. Pabrik dan kantor ditutup, sekolah diliburkan, restoran tidak menerima makan-minum di tempat, dan sebagainya. Segala aktivitas yang membuat orang berkumpul menjadi tabu. Di satu sisi, social distancing ini berhasil menyelamatkan nyawa.

Terbukti kasus baru semakin menunjukkan tren penurunan. Namun di sisi lain, social distancing membuat ekonomi menjadi matisuri. Akibatnya, jutaan orang kehilangan pekerjaan, jadi ‘korban’ Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Gelombang PHK menjadi momok baru di dunia selain virus yang menyerang itu sendiri. Organisasi Buruh Internasional atau ILO, pada Maret lalu, menyerukan agar dunia menggenjot program jejaring pengamanan sosial. Negara-negara juga diminta mengintervensi industri lewat kebijakan untuk menanggulangi besarnya lonjakan potensi pengangguran. Pengangguran di Indonesia yang selama ini menurun dalam lima tahun terakhir akan mengalami kenaikan. Jika skala COVID-19 ini berat akan bertambah 2,9 juta orang namun jika lebih berat bisa 5,2 juta orang.

Baca Juga :  Jumlah Peserta BPJS-KTK di Sulut Harus Ditingkatkan

Ada pun penyebab lain dari di-PHK-nya para karyawan yaitu karena kelangkaan bahan baku untuk diproduksi yang diimpor dari Negara luar seperti dari Negara Tiongkok sehingga akan menghambat kegiatan industri. Perusahaan yang berhenti beroperasi dan peningkatan jumlah angka pengangguran dapat menghambat dan mengurangi produk domestik bruto (PDB) serta menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun, pemerintah juga harus benar-benar teliti dengan bantuan itu karena dengan adanya bantuan yang diberikan. Karena ini membuka peluang bagi oknum-oknum yang merasa punya jabatan menyalahgunakan bukan hak mereka. Walaupun dalam kondisi seperti ini, sebaiknya pemerintah tetap tegas dalam hal penyaluran dana dan meminta pertanggungjawaban dari penyaluran dana itu, agar dana yang keluar dan diberikan bagi yang memerlukan harus benar-benar tersampaikan.

(*)

Penulis adalah kelompok mahasiswi semester 6 Fakultas Ekonomi Prodi Akuntansi Universitas Katolik De La Salle

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply