Tiga Kata Sulit yang Jadi Kunci Kekecewaanku
Connect with us

Catatan Publik

Tiga Kata Sulit yang Jadi Kunci Kekecewaanku

Published

on

“Dini, waktunya sholat!” Mama menegurku dari seberang pintu. Aku hanya berbalas iya panjang tanpa mengangkat semua perabot tubuhku. Tak satu pun sel yang ingin kuajak beranjak dari tempat tidur. Ah, bayangan itu lagi-lagi menelusup. Antara Dia dan Fadli. Kenapa harus ada bayang? Jika bayang itu sama gelap, kadang memilukan.
Siang masih saja bolong, membolongi pori-pori otakku karena tak habis pikir bakalan serumit ini. Matahari masih sejengkal di atas kepala. Sehabis mandi kumemilih untuk jalan-jalan setelahnya baru ke kampus. Bayang itu lagi-lagi menujuku. Sajadah itu akhir-akhir ini menjadi muara pikiranku berlalu. Apakah “dia”?
Kemarin, aku tak tahu apakah itu terbilang akhir dari hubunganku atau tidak? Kali ini aku sangat bete melihat sikap Fadli yang cuek habis. Wanita mana yang tak mau diperhatikan? Wanita mana yang akan tumbuh tanpa sebuah perhatian? Mungkin akan tumbuh, tapi perlahan akan layu. Aku pun tak tahu apakah ini perumpamaan yang pantas untukku ataukah?
Aku tak mengerti Malam itu aku melukiskan tiga buah kata untuk Fadli sebagai kata kunci kekesalanku selama minggu ini. Rasa-rasanya aku ingin sekali selingkuh jika yang berjalan hanya sebaris pengertian dan pengertian terus-terus tentang kesibukannya.
Malam itu aku memberanikan diri untuk meneleponnya. Lepas, kapan saja kita berdua bisa berbagi cerita, tapi minggu ini? Sedikitpun sikapnya sungguh sangat datar. Aku tahu dia sibuk dengan skripsinya, pekerjaannya dan bisnis kecil yang mulai dirintisnya. Mungkin inilah yang berisiko. Cinta saja punya resiko apalagi buat hidup tanpa cinta?
“Kak, Ngapain? Sudah makan “Tanyaku sok perhatian.

“Lagi nulis skripsi, De Alhamdulillah sudah,” jawabnya seadanya. Aku tahu dia tipikal pria yang tak bisa diganggu bila ada pekerjaan. Fokusnya tak bisa terbagi.
“Selesai itu mau ngapain lagi, Kak?” Kuberusaha mencari celah waktu agar bisa bicara bebas. Seminggu ini begitu banyak cerita yang ingin Kubagi Dan aku pun tentunya ingin mendapatkan suntikan semangat juga darinya. Apa memang begitu yang nama kekasih?
“Habis ini Kak mau kerjakan tugasnya, De Deimana?” Tanyanya berkenan, selamat tinggal semangatku ciut lagi-lagi kesibukan tulisannya lebih memikat ketimbang aku. Aku kesal. Padahal cuma seminggu sekali aja aku bisa telponan. Tapi sekarang?
“Kakak selalu sibuk! Klikk” Ponsel langsung kumatikan dan segera kunonaktifkan. Aku tak peduli. Setelah keesokannya, baru kutahu kalau semalam dia mengirim pesan lewat BBM. BBM-nya pun bukan minta maaf, tapi lebih menyudutkanku. Katanya dia ingin fokus dulu di studi dan pekerjaannya. Aku kesal, aku kalah. Aku memilih tak respons. Tapi aku yakin bakalan menang. Lihat saja!
# # #
Aku kembali mengenal “Dia”. Dia, yang ingin kudekati saat ini. Memang orang lain akan berpikir dia yang kupilih sekarang itu tak begitu terkenal layaknya Fadli, anak terdekat buatku untuk sekarang ini. Fadli terlalu sibuk sehingga dia kurang perhatian denganku. Aku tahu perhatian itu tak layak dengan statusku dan dia sekarang yang belum memilih melingkarkan cincin menuju kehidupan halal. Aku tahu semua ada waktu.
Bagi orang lain mungkin “Dia” tak terlalu penting. Bayangkan saja pintu depan banyak tak diketuk oleh orang lain. Entah itu pintu kantornya, yang kutahu pintunya jarang diketuk orang. Mungkin inilah saatnya kumemilihnya. Jujur, aku mulai mencintainya. Mungkin sama sepertiku mencintai Fadli yang selalu sibuk tapi, aku yakin Fadli mencintaiku tapi cara beda. Aku tahu dia tak suka selingkuh karena dia hanya bisa fokus pada satu hal.
“Dia” sungguh sangat baik. Aku tak ingin menyebut siapa namanya. Aku malu kalau Fadli nanti akan tahu kalau aku punya sosok yang lebih dekat darinya, tapi aku yakin seyakin-yakinnya itu layaknya seorang bilal yang rela dilemparkan batu di tengah gersang dan panasnya matahari untuk mempertahankan keyakinannya.
Aku yakin Fadli tak akan marah jika suatu saat dia tahu kalau aku sedang dekat dengan “Dia” “Dia” Yang kukenal sungguh berbeda Sesekali jarang orang yang mengetuk pintu, tapi aku tetap senang berada di dekatnya. Aku tak suka dengan kesibukan yang jelas-jelas lupa untuk perhatian. Aku ingin diperhatikan Hanya dia yang tahu.
Dulu aku mengenalnya saat hatiku tengah sepi. Orang tua yang tak serumah dengaku tak tahu, Uni dan kakak iparku pun tak tahu kalau aku tengah sepi dan butuh teman berbagi. Hanya “Dia” yang tahu kalau aku butuh ketenangan. Masalahku besar! Mungkin ini hanya peresepsiku yang membesar-besarkan masalah. Tapi jujur ​​itu aku rasakan.
Aku pun mencintai karya-karyanya setiap kumembaca karyanya pasti kesejukan menelusup menjadi selaput pembungkus rongga hatiku. Dia ganti dukaku tak seperti Fadli yang tak ingin sedikitpun sedikit keluhku. Fadli selalu beranggapan kalau aku ngomong semangat hidupku mulai turun dan itu akan menstimulasinya menjadi lemah. Dan hal itu yang tak dia suka. Karena aku aku tak pernah kiriman aku masih mencintainya.
Berbeda dengan “Dia” yang kini diam-diam begitu kukenal. Dia bak seorang dokter yang selalu siap menyerap keluhanku sekaligus memberikan resep melalui karyanya tapi, dia dia dokter. Aku tak ingin dokter karena mereka pasti lebih sibuk mengutamakan pasienku. Itu kan tipikal Fadli? Aku tak suka
Karena rasa cintaku yang meluap-luap dengan “Dia”. Kami berdua pun sering bertemu di malam hari menjelang subuh. Mungkinkah “Dia” ini memang jodohku? Tapi aku pun mencintai Fadli dengan segala kesibukannya. Aku yakin aku dan “Dia” tak bisa bersatu dalam kehidupan rumah tangga. Bukan karena orang tuaku tak setuju atau alasan ekonomi, tingkat pendidikan atau apalah. Bukan, itu alasan yang terlalu klasik, tapi karena aku yakin aku mencintai Fadli untuk sekarang dan kedepannya.(Bersambung)

Advertisement

Trending