Lagi, BBPOM Manado Temukan Mie Berboraks Masih Beredar
Connect with us

Headline

Lagi, BBPOM Manado Temukan Mie Berboraks Masih Beredar

Published

on

BBPOM Manado

KlikSULUT – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, disingkat BBPOM Manado, bersama tim terpadu kembali melakukan pengecekan langsung di lapangan terkait beredarnya mie basah berboraks di Kota Manado, pada Rabu (21/2/2018) kemarin.

 

“Pada 21 Februari kemarin, kami melakukan sidak kembali di beberapa produsen, dan dari 49 sampel yang kami sidak, ditemukan dua mie positif mengandung boraks,” jelas Kepala BBPOM di Manado Rustyawati, saat konferensi pers yang digelar di Kantor BBPOM Manado, Kamis (22/2/2018).

 

Dia menjelaskan bahwa pada periode Januari 2018, hasil pengawasan terhadap produk mie basah yang beredar di pasar Kota Manado melalui pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter bahan berbahaya yang disalahgunakan pada pembuatan pangan, ditemukan peningkatan kandungan Boraks hingga mencapai 90%.

 

“Kami melakukan penelitian produk mie basah ini sudah 42 kali. Tahun 2017 ada 40 kali, dan tahun 2018 ini sekitar dua kali,” ungkap Rustyawati.

 

Setelah adanya temuan tersebut, lanjut dia, pihaknya pun telah melakukan langkah-langkah, seperti melaporkan kepada Gubernur Sulawesi Utara dan berkoordinasi teknis dengan OPD terkait.

 

“Meminta produsen mie basah untuk berkomitmen tidak menambah lagi boraks dalam mie basah yang diproduksinya,” katanya.

 

“Bekerja sama dengan PD Pasar Kota Manado, meminta komitmen kepada pedagang pasar untuk tidak menjual mie basah yang mengandung boraks,” sambungnya.

 

Selanjutnya, kata dia, pihaknya pun telah melakukan pemeriksaan kembali ke sarana produksi dan distribusi untuk memastikan komitmen telah dijalankan dan mengambil tindakan yang diperlukan sesuai peraturan.

 

“Mie mengandung boraks yang masih ditemukan di sarana produksi diambil tindakan pengamanan atau penyitaan, langkah-Iangkah hukum sesuai peraturan perundang-undangan,” tegas Rustyawati.

 

Dia juga berharap agar seluruh sektor terkait (Dinas Perindag dan Dinas Kesehatan) secara sinergi tetap melakukan pembinaan dan pengawasan, baik secara mandiri maupun bersama-sama melalui Tim Terpadu Pengawasan Bahan Berbahaya di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota demi memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya penggunaan bahan berbahaya dalam pangan.

 

(Rifa Datunugu)

Advertisement

Trending