Awas Bahaya Kanker Serviks

Awas Bahaya Kanker Serviks
Penulis: Jessica Chrisella Yan

SERVIKS adalah bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina, yang salah satu fungsinya memproduksi lendir atau mukus, untuk membantu menyalurkan sperma dari vagina ke rahim ketika berhubungan seksual.

Serviks juga akan menutup untuk menjaga janin tetap di rahim saat kehamilan dan akan melebar atau membuka saat proses persalinan berlangsung.

Adapun kanker serviks adalah kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim, dan umumnya tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, tapi muncul saat kanker mulai menyebar.

Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker paling mematikan pada wanita, selain kanker payudara. Berdasarkan penelitian yang dirilis WHO pada tahun 2018, lebih dari 92.000 kasus kematian pada wanita di Indonesia disebabkan kanker, dan dari jumlah itu, 10 persen terjadi karena kanker serviks.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa angka harapan hidup pada setiap penderita kanker serviks tergantung stadium yang dialami. Namun, angka terhadap harapan hidup hanya hitungan persentase pada penderita yang masih hidup lima tahun setelah didiagnosis menderita kanker serviks.

Kanker serviks terjadi ketika sel-sel sehat mengalami perubahan atau mutasi genetik menjadi abnormal, dan berkembang secara tidak terkendali dan membentuk sel kanker. Namun, hingga kini belum diketahui apa penyebab perubahan pada gen tersebut.

Sel kanker yang tidak ditangani akan menyebar ke jaringan di sekitarnya, melalui sistem limfatik, yaitu aliran getah bening yang berfungsi menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi. Jika telah mencapai sistem limfatik, sel kanker ini bisa menyebar ke berbagai organ tubuh.

Meski penyebab pasti kanker serviks belum diketahui, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker ini. Faktor utamanya adalah kelompok virus yang disebut Human Papilloma Virus (HPV) yang menginfeksi leher rahim. Penelitian menunjukkan, lebih dari 99 persen kasus kanker serviks terkait dengan HPV.

Baca Juga :  Ini Harapan Wawali SAS Saat Melantik Jajaran Baru Perusahaan Daerah Kota Tomohon

HPV sebenarnya tidak hanya bisa menginveksi kelamin. Kulit dan membran mukosa di anus, tenggorokan, dan mulut juga bisa terinveksi karenanya.

Penularan HPV pada serviks terjadi lewat hubungan seksual dan semakin berisiko jika punya lebih dari satu partner seksual, berhubungan seks pada usia dini, kekebalan tubuh lemah, serta penderita infeksi menular seksual.

Faktor lain pemicu kanker serviks adalah wanita perokok yang dua kali lebih berisiko terserang dibanding wanita bukan perokok. Zat kimia yang ada di dalam rokok bisa masuk ke aliran darah dan dapat memengaruhi sel tubuh, sekaligus memicu berbagai kanker, salah satunya kanker serviks.

Gejala yang baru muncul saat kanker memasuki stadium lanjut bisa berupa perdarahan melalui vagina, pada saat luar masa menstruasi, khususnya setelah berhubungan intim atau setelah menopause.

Gejala lainnya adalah cairan berbau tidak sedap keluar dari vagina, bahkan kadang bercampur darah. Selain itu, muncul rasa sakit tiap berhubungan seksual, nyeri panggul.

Tidak sampai di situ saja, pendarahan yang tidak wajar terjadi pada vagina, misalnya ketika tidak dalam masa menstruasi, waktu menstruasi jadi lebih panjang, pendarahan saat atau setelah berhubungan badan, setelah BAB, maupun setelah masuk masa menopause.

Siklus menstruasi yang tidak teratur, keputihan yang tidak normal, muncul nyeri di bagian panggul atau pada bagian punggung bawah, tubuh jadi lebih cepat lelah, lemas, dan sering capek, nafsu makan menurun, berat badan turun drastis padahal tidak melakukan program diet, dan salah satu bagian kaki menjadi bengkak.

Penyakit kanker dapat diminimalisasi dengan pencegahan, yang dimulai dengan perubahan gaya hidup. Juga dapat dilakukan dalam beberapa tahap.

Pertama, membicarakannya dengan pihak keluarga, teman atau pihak medis tentang kondisi kesehatan saat ini. Bisa juga menanyakan langsung pada dokter tentang hal-hal yang berhubungan dengan kanker serviks.

Baca Juga :  Ini Klarifikasi Anies Baswedan Soal Kata "Pribumi"

Selanjutnya, melakukan tindakan tes Pap Smear, yang merupakan salah satu tindakan untuk menemukan adanya perubahan pada bagian serviks, sel serviks, dan lainnya.

Tindakan ini sangat penting, khususnya bagi mereka yang telah menikah dan melahirkan. Jika ada tanda-tanda abnormal pada bagian serviksnya, akan lebih cepat bisa dilakukan penanganan yang lebih intens.

Untuk yang masih berusia di bawah 26 tahun, bisa melakukan vaksin HPV, dalam rangka melindungi diri dari serangan virus HPV 16 dan HPV 18 yang menyebabkan pertumbuhan sel serviks secara abnormal.

Hindari terjadinya penularan virus HPV, dengan cara melakukan hubungan seks yang lebih aman, seperti tidak berganti-ganti pasangan atau menggunakan alat kontrasepsi kondom.

Untuk mencegah perkembangan kanker ke tahap lebih tinggi, bisa memulainya dengan menjaga pola makan, memperbanyak makan buah dan sayur, olah raga teratur, istirahat yang cukup, tak merokok dan minum-minuman beralkohol, menghindari makan makanan siap saji, kemasan, dan lainnya.

(*)

Penulis adalah Mahasiswa Semester 4 Prodi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Katolik De La Salle Manado

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply