Heboh Dibahas. Apa itu Saracen?
Connect with us

Headline

Ramai Dibahas di Indonesia. Apa itu Saracen?

Published

on

Apa itu Saracen?

KlikMANADO – Sepekan terakhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan keberadaan kelompok saracen, yang sering disebut sebagai penyebar hoax. Lantas apa itu saracen?

 

Dalam kesempatan ini, KlikNews berupaya merangkum informasi terkait saracen dari berbagai sumber. Berikut hasil rangkumannya.

 

Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, saracen berasal dari Bahasa Yunani. Istilah ini pertama kali digunakan di awal masa Romawi Kuno. Penyebutan saracen oleh Romawi Kuno khusus ditujukan kepada salah satu Suku Arab di Semenanjung Sinai.

 

Selanjutnya, orang-orang Kristen Romawi menyebut istilah ini untuk keseluruhan orang arab, dan pada masa Perang Salib, istilah ini digunakan untuk menyebut umat Islam. Kemudian, orang-orang Bizantium dan Tentara Salib menyebarkannya ke Eropa Barat.

 

Dikutip dari artikel ‘Saracen, Apa Itu?’ yang diterbitkan aktual.com, pada abad ke-16, di Inggris, masyarakat menyebut umat Islam dengan kata itu. Istilah “Islam” atau “Muslim” baru diserap ke Bahasa Inggris pada abad 17.

 

Meski demikian, seperti sejarahnya, kata ini pun dipergunakan oleh para penulis barat untuk merujuk pada orang-orang yang tinggal di daerah gurun.

 

Pada akhirnya, saat ini penyebutan saracen ramai dibahas di Indonesia. Kata ini dialamatkan kepada sebuah kelompok yang melakukan aksi pengumpulan dan penyebaran hoax di dunia maya.

 

Bahkan detik.com menyebutkan, kelompok ini adalah sindikat penyedia jasa konten kebencian dengan keahlian berupa mencaplok akun media sosial dan membaca situasi pemberitaan.

 

Disebutkan, kelompok ini memiliki sekira 2.000 akun media demi menyebarkan konten kebencian. Jika mengacu pada rilis resmi kepolisian, akun yang tergabung dalam jaringan ini berjumlah lebih dari 800.000 akun.

 

Selain itu, jika mengacu pada tiga tersangka yang belum lama ini ditangkap kepolisian, upaya penyebaran konten kebencian semata-mata untuk alasan ekonomi. Dengan kata lain, postingan berita atau konten yang tak sesuai fakta kebenaran dilakukan sesuai pesanan.

 

Eksistensi kelompok ini pun lebih banyak disebabkan budaya kemalasan untuk melakukan cek dan ricek terhadap kebenaran suatu berita. Padahal, upaya mendeteksi hoax dapat dilakukan dengan mudah.

 

Makanya, Indonesia sudah sangat membutuhkan institusi yang fokus menangani masalah hoax, yang hingga kini beredar secara masif di dunia maya.

 

(Ayi)

Advertisement

Trending