Ini Ulasan tentang Kekerasan di Rohingya
Connect with us

Headline

Rohingya, Antara Masa Lalu, Kini dan Masa Depan

Published

on

Rohingya

KlikJAKARTA – PBB menyatakan bahwa Muslim Rohingya merupakan kaum paling sengsara di dunia. Bagaimana tidak, mereka ditindas di Negara sendiri, ditolak oleh Negara tetangga, tanpa kewarganegaraan dan terlantar. Kisah mengenaskan harus mereka lalui seperti dibunuh, diperkosa dan rumah mereka dibakar.

 

Meskipun perlakuan mengerikan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam namun hingga kini penderitaan mereka tidak berhenti. Jum’at (1/9/2017) lalu merupakan hari besar untuk umat Islam yaitu Hari Raya Idul Adha. Namun bukan suka cita yang dirasakan Kaum Rohigya, tapi duka nestapa. Hal ini dikarenakan adanya pembakaran tiga rumah Muslim Rohigya yang diduga dilakukan warga Budha Myanmar. Tragedi ini disebut terjadi karena adanya dugaan umat budha bahwa Muslim Rohingya memyembelih sapi yang sangat dihargai umat Budha.

 

Jika melihat dari kejadian-kejadian yang dialami Muslim Rohingya, tentu banyak orang yang geram dengan peristiwa tersebut. Namun perlu kita mengetahui sejarah sebenarnya tentang konflik dan pembantaian yang terjadi di Myanmar itu.

 

Sejarah Pembantaian Muslim Rohigya

Muslim Rohingya berasal dari anak keturunan pedagang bangsa Arab yang mendiami Myanmar. Mereka terkonsentrasi di dua kota utara Negara Bagian Rakhine tanpa kewarganegaraan yang diakui. Jumlah Muslim Rohingya sebagai kaum minoritas hanya satu juta jiwa atau 4% dari total populasi penduduk Myanmar.

 

Mereka tinggal di perbatasan Myanmar dan Bangladesh ketika masih dijajah Inggris. Ketika Myanmar merdeka tahun 1946, Muslim Rohigya tidak mendapat pengakuan sebagai warga negara Myanmar. 25 tahun kemudian, ketika Bangladesh merdeka dan menjadi harapan bagi Muslim Rohingya, justru etnis Bangali sebagai kaum mayoritas di Bangladesh enggan mengurus mereka, meskipun sama-sama beragama Islam. Mereka diusir jika mendekati wilayah perbatasan Bangladesh. Hal ini yang menyebabkan mereka terpaksa menetap di Myanmar.

 

Kehidupan sangat sulit harus mereka alami. Hidup dalam kemiskinan, penindasan, dan dalam kewaspadaan terhadap konflik yang kapan saja bisa terjadi. Tak tersentuh keadilan dan rasa kemanusiaan, padahal mereka tinggal di dalam Negara yang memiliki Pemimpin peraih nobel perdamaian.

 

Konflik Terus Terjadi

Konflik pembantaian Muslim Rohigya terus berlanjut tanpa menemui titik terang. Menurut Kyaw Win selaku Direktur Burma Human Rights Networks ketika ditemui Selasa (29/8/2017) lalu mengatakan bahwa konflik terus memanas sejak Bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Bulan Agustus. Banyak penangkapan serta pembantaian Muslim Rohingya menyusul pembakaran desa-desa mereka.

 

Sejauh ini, pemerintah Indonesia mengutuk dengan tegas perbuatan genosida yang terjadi di Myanmar. Melalui Kementrian Luar Negeri, Pemerintah Indonesia mendorong pemerintah Myanmar untuk memulihkan stabilitas keamanan di Rakhine.

“Pemerintahan Indonesia meminta kepada semua pihak khususnya Pemerintah Myanmar untuk melakukan maksimum self restraint serta tidak menggunakan kekerasan,” ujar Retno Marsudi selaku Menteri Luar Negeri RI.

Ia berharap agar pembantaian muslim rohigya segera berhenti dan pemerintah Myanmar dapat memberikan perlindungan kepada semua orang yang berada di Negara Bagian Rakhine.

 

(Tim)

Advertisement

Trending