Ahli Epidemologi FKM Unsrat Ini Berpendapat Manado Belum Memenuhi Syarat Untuk Ajukan PSBB
Connect with us

Kesehatan

Ahli Epidemologi FKM Unsrat Ini Berpendapat Manado Belum Memenuhi Syarat Untuk Ajukan PSBB

Published

on

KlikMANADO – Ahli Epidemologi, Head of Quality Assurance Laboratory, pada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Grace EC Korompis memberikan pandangannya terkait kemungkinan pemberlakuan status PSBB untuk Kota Manado.

Pandangan tersebut disampaikannya dalam Rapat Harian Dinas Kesehatan Kota Manado bersama Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kota Manado dan Satgas di 16 Puskesmas, pada Kamis (30/4/2020), sebagaimana dikutip dari Fanpage Facebook resmi Pemerintah Kota Manado.

Grace menjelaskan bahwa pertimbangan utama penetapan PSBB bukan hanya karena angka kejadian kumulatifnya. “Tapi juga berdasarkan ketersediaan lab atau akses terhadap diagnostic test dan bagaimana kecepatan atau rate atau pertambahan kasus,” ungkapnya.

Saat ini, kata Grace, Manado belum mempunyai diagnostic test, sehingga angka tidak bisa dijadikan patokan. “Karena angka tidak menunjukkan besaran yang sub riil di lapangan,” terangnya.

Kedua, lanjut dia, berkaitan dengan kecepatan penambahan pasien. “Kita di Manado memang sekarang besar jumlah kasusnya mencapai 25 kasus positif. Tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dan terutama perkembangan setiap hari memang tidak terlalu besar dalam artian kita tidak pernah dalam sehari kita ketambahan lebih dari 10,” bebernya.

“Dalam satu minggu kita belum melonjak di atas 10. Saya sudah berkonsultasi ke tim provinsi kenapa kita tidak bisa melakukan usulan PSBB,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Unsrat tahun 1998.

Menurut dia, pengajuan permohonan PSBB Gorontalo disetujui Menkes dan mulai berlaku sejak Rabu (29/4/2020) kemarin, karena dalam seminggu daerah tersebut mencapai 15 kasus.

“Kalau mau menetapkan PSBB, memang kebijakan pemerintah. Tapi kalau kita melihat dari sisi angka-angka, kita di Manado belum memenuhi untuk hal itu. Walaupun dari segi public health dan epidemologi mengenai pencegahan penyebaran saya sangat menyayangkan lambannya penetapan PSBB,” sambungnya.

Lulusan University of New South Wales yang mencapai gelar MHSM pada 2006 ini juga memprediksi bahwa jika Laboratorium PCR (Polymerase Chain Reaction) atau tes untuk mendeteksi virus SARS-CoV2 di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL PP) Kelas I Manado di Paniki Bawah, sudah beroperasi, maka akan terjadi percepatan pengukuran hasil, dan dengan sendirinya akan mudah melihat perkembangannya.

“Kita akan melihat pertambahan setiap hari, dengan adanya pemeriksaan di daerah kita yang membuat diagnostic itu lebih mudah kita dapatkan hasilnya,” urai dr Grace yang meraih gelar Doctor of Public Health pada State University of New York at Albany tahun 2017.

Sebelumnya, Wali Kota Manado Vicky Lumentut menyatakan bahwa Pemkot Manado belum mengajukan permohonan PSBB ke Menkes karena masih banyak hal yang harus dikaji dan disiapkan.

Dia mengungkapkan, hal terpenting yang harus dilakukan seluruh elemen masyarakat adalah bergotong royong memutus mata rantai penyebaran Covid-19, dengan menjalankan petunjuk pemerintah.

“Yang paling penting warga harus disiplin jalankan petunjuk pemerintah. Banyak diam di rumah, jaga jarak satu dengan lainnya, pakai masker kalau keluar rumah atau bacerita dengan orang lain, sering cuci tangan pakai sabun, dan ibadah di rumah,” tegasnya kepada KlikNews, Kamis (30/4/2020).

(Sahril Kadir)

Advertisement

Trending